Ervan berkemas. Mengepak setelan pakaian secukupnya ke dalam ransel dan beberapa buku mengenai teori ilmu bisnis dan seni bela diri. Semua perabotan berat di rumahnya akan dikirimkan ke sebuah gudang besar penampungan barang bekas yang menjadi tempat kerja seorang kawan lama dari SMA. Ervan ingin oknum-oknum polisi gadungan itu meyakini bahwa ia sudah tidak tinggal di sana jika nanti malam mereka masih berani untuk datang lagi. Sementara ruang perpustakaannya yang penuh buku dengan desain ruangan seluruhnya dari kayu, ternyata bukan sembarangan untuk dinilai vintage dan klasik. Tapi dirancang pula dengan teknologi rahasia yang membuat tiga rak besar di masing-masing sisi tembok itu bisa berputar 180° hingga bagian belakangnya tersamar dan menyatu dengan dinding. Lalu ruangan yang tadinya berisi langsung terlihat kosong melompong. Meski tidak bersih sekali sebab menyisakan debu yang menempel pada lantai kayu. Getaran yang ditimbulkan dari pergerakan gaya geser benda di atasnya telah membuat debu pada rak-rak dan buku-buku beterbangan ke udara. Setelah itu, Ervan meninggalkan rumah yang ditinggalinya selama ini dalam keadaan semua pintu, jendela dan jalan pintas dikunci.
---
Bunyi 'suling' kapal laut sudah kedengaran dari jauh, menyambut kedatangan Ervan bersama mobil carteran. Begitu sampai di pelabuhan, ia tidak turun dengan semua perabot rumah yang diangkut di belakang mobilnya. Ervan keluar sendirian dari kursi penumpang dengan sebuah ransel pada sisi bahu kanan sembari menutup pintu dengan tenang. Kendaraan roda empat yang masih sarat muatan tersebut lalu mendahului berangkat guna mengirim barang ke tempat tujuan yang asli. Ervan menyaksikan sebuah kapal telah bersandar di dermaga.
Tempat ini adalah di mana Ervan terakhir bertemu dengan Niko kemarin. Pemandangan samudra yang luas itu menjadi bernilai sempit di dalam pikiran Ervan. Niko! Ervan sangat yakin bahwa pria tersebut telah melancarkan serangan nyata, setengah jam lewat dari waktu terbit matahari di pagi ini. Saat masih berpikir baiknya pergi dari sini atau tidak, tak sengaja Ervan tertabrak seorang laki-laki yang diteriaki jambret oleh para penumpang lain saat baru keluar dari kapal. Dengan tangkas, Ervan menarik kerah jaket pelaku menghentikan upayanya untuk kabur. Lehernya sempat merasa tercekik, sampai si Jambret itu melawan Ervan dengan berkelahi secara fisik. Ervan mengambil satu langkah mundur sebab matanya tercolok sabetan tali tas selempang yang dijambret. Pedih, merah dan berair. Sambil memejamkan sebelah mata yang sakit, Ervan langsung dipenuhi amarah besar guna membalas kelakuan si Tukang jambret. Ervan lantas memraktikkan teknik-teknik bela diri yang dibacanya dari buku dan pernah ia pelajari walau sudah lewat masa-masa kuliah tiga tahun itu. Lawan di depan pun keok jadinya, bisa langsung pingsan di tempat.
Seorang ibu-ibu datang berlarian dengan napas yang tersengal-sengal.
“Itu tas milik saya!” katanya.
Ervan kemudian mengambil tas wanita dari genggaman sang Pelaku yang sudah tak berdaya di depan kakinya.
“Ini, Bu! Mohon diperiksa dulu, ada yang hilang atau tidak!” tutur si Ervan.
Ibu tersebut langsung merebut tas dari tangan Ervan dan mengecek seluruh isinya.
“Tidak ada yang hilang, kok! Terima kasih atas bantuannya! Ini ada uang sedikit, silakan diterima!” beri si Ibu.
“Oh, tidak perlu. Saya juga baru kebetulan lewat saja! Silakan disimpan kembali!” pinta Ervan.
“Sekali lagi terima kasih ya, Nak! Semoga kamu hidupnya mapan dan bahagia!” doa si Ibu.
Mungkin anak muda ini tampak memilukan di mata Ibu tersebut. Ervan hanya bisa mengiyakan dan mengamini saja dengan senyum yang membungkam. Mengapa harapan baik itu seolah menjadi sindiran untuk kehidupan buruk yang tengah dijalani Ervan? Padahal terasa menggantung dan menyesakkan. Pelaku penjambretan dalam posisi tak sadarkan diri lantas digiring oleh beberapa orang dari massa untuk diserahkan kepada petugas. Pada saat kerumunan di sekelilingnya telah terurai, seorang pria botak dengan lintingan rokok yang timbul dan menyala di sudut mulutnya masih berdiri pongah memperhatikan si Ervan. Dua orang beradu kuat dalam batas pandangan masing-masing, coba saling mencermati identitas satu sama lain. Kemudian, pria botak yang memakai rompi denim, bercelana panjang selutut nan berumbai benangnya dari bekas guntingan kain levis berjalan menghampiri Ervan di sana.
“Teknik melawan yang bagus!” puji orang itu dengan maksud tersembunyi.
“Siapa namamu?” tanyanya dengan beringas.
“Ervan!” dijawab ia dengan berkarisma tanpa mau dilihat sekadar bocah tengil yang numpang lewat.
“Oh! Ervan. Errrvan! Kelihatannya kamu bisa berkelahi walau kemampuan berenangmu tak sehebat anak nelayan di wilayah kami. Mau bekerja sama?” tawar pria tersebut.
“Berapa banyak kau akan membayarku?” tagih Ervan sebelum menetapkan kesepakatan.
Pria yang belum diketahui namanya itu tertawa dengan lepas.
“Aku tak lagi punya pekerjaan. Aku tidak punya uang!” kata Ervan selanjutnya.
“Hahahaha! Dasar bocah! Kamu mau membodohiku? Kalau kau tidak punya uang, bagaimana kau mau naik kapal dan menyeberangi pulau ini! Tapi apa pun itu, aku suka dengan caramu!” jawab si Botak.
“Bagaimana kalau kamu bergabung saja dengan kelompok kami? Aku janji akan membayarmu!” koarnya.
“Apa yang kelompokmu kerjakan?” selidik Ervan menerka asal-asalan meski kenyataan yang disembunyikan itu benar.
Lagi-lagi si Pria gundul tertawa puas. “Yah.., cuma mengejar setoran dan menawarkan kemudahan bagi orang-orang yang hendak melancong!”
“Kalau bersedia, petang nanti kita bertemu di depot kontainer sebelah barat dari sini. Jam 9 malam!” beritahu laki-laki yang hidupnya menggelandang tersebut, kemudian pergi menyelinap di antara hilir mudik para pengunjung kawasan pelabuhan.
Nahkoda kapal membunyikan klakson besarnya sebanyak dua kali, memberikan peringatan bahwa persiapan sudah akan selesai dan kapal kembali siap untuk berlayar. Ervan masih dengan menggendong dry bag di bahu kanannya bergegas hendak naik ke deck kapal. Tiba-tiba,
“Ervan Sanjaya.” Seseorang dari belakang menyebutkan nama panjang asli si Ervan.
Ervan mematung dan tetap membelakangi posisi lawan bicara. Sosok di sana mendekati lalu menepuk pundak sebelah kiri Ervan dengan kuat.
Muncullah Niko sambil berjalan menyelingi ke depan hingga berbalik kanan dan menghadap langsung ke Ervan. Niko menunjukkan Kartu Tanda Penduduk milik Ervan itu, ditemukan seorang petugas loket penjualan tiket penyeberangan. Niko pun memintanya sebab mengaku kenal selaku teman juga hendak melakukan perjalanan bersama. Dari situ ia yakin kalau orang dengan wajah sama di foto KTP tersebut sedang berada di sekitar kawasan ini.
“Kau sengaja membuntutiku dari awal?” tak habis pikir si Ervan.
“Tidak! Kata siapa? Aku memang sudah sering ke pelabuhan ini sejak mengisi jabatan di perusahaan kami.” lagak si Niko.
“Kenapa kau tidak cepat naik ke kapal, sebentar lagi mau berangkat!” ujarnya.
Ervan menggertak. “Lalu siapa yang suruh kau menghalangi jalanku!”
Kemudian dia mengambil langkah maju sambil mendorong bahu dan lengan Niko hingga tubuh yang lebih tinggi itu berputar dengan sudut 90°. Ervan terus berjalan lurus untuk mencapai antrean calon penumpang yang melewati tangga kapal. Selepas itu, Niko juga tak ragu-ragu untuk mengikuti langkah berani si Ervan karena berupaya meloloskan diri. Saat ini sangat jelas bahwa Niko ingin menjalankan skenario permainannya sendiri. Dia tidak akan membiarkan Ervan berkelana terlalu jauh. Niko berusaha pula melangkah lebih cepat hingga menarik tudung hoodie si Ervan yang berjalan lebih depan.
“Kau ingin untuk melarikan diri lagi dari hukumanmu?” gertak si Niko.
Ervan balik menggertak. Dia menyeringai, dan ingin menantang kejujuran ucapan Niko pada beberapa waktu lalu.
“Bukankah Anda sendiri yang bilang walau saya kabur dan menghilang sejauh apa pun, seorang Niko tetap saja bisa menemukannya? Buktikan!” uji Ervan.
Niko juga balik memperlihatkan senyum tersungging kepada Ervan.
“Tapi, tampaknya Anda sendiri melupakan sesuatu yang paling penting dalam masalah kita. Lisa! Kau sungguh ingin melihatnya menderita di sisiku?” ucap Niko dengan tujuan menakut-nakuti.
“Apanya yang dianggap teman kalau tega meninggalkan di saat ia kesusahan!” teguh Niko.
“Lisa masih memiliki dua orang teman yang bernama Vina dan Desi di sini.” jawab si Ervan dengan mudah.
Ervan sadar diri jika Niko sedang menyandera kepentingan dengan dalih seorang Lisa yang akan dijadikan tunangan pria di hadapannya kini. Namun, ancaman oleh pecundang besar itu tak menyurutkan niat Ervan untuk tetap pergi. Seketika Niko mendorong ke arah samping, hingga Ervan terjungkal lalu jatuh ke permukaan air.
Ervan tercebur ke laut sehingga membuat para calon penumpang kapal berteriak. Untungnya ia segera ditolong oleh salah satu kru darat yang tepat waktu menjadi saksi mata kejadian. Ervan menjangkau pelampung yang dilemparkan petugas lalu ia pun ditarik naik ke darat. Ervan selamat, tas anti air masih mengapung-apung di goyangan ombak ringan. Korban itu terlihat cukup syok juga dengan perlakuan Niko yang semena-mena. Di hari yang begitu panas berkat langit biru tanpa awan di langit, tak membuat pakaian Ervan yang basah menjadikan tubuhnya kedinginan.
Sesaat kemudian, suara klakson ketiga dari kapal pun berbunyi dan akhirnya bergerak meninggalkan areal pelabuhan menuju ke dermaga pelabuhan di pulau seberang. Ervan tertinggal. Sedangkan Niko telah beralih ke dalam mobilnya bahkan saat Ervan tengah mendapatkan pertolongan.
Ervan berjalan putar balik di atas jembatan penghubung dermaga dalam kondisi basah kuyup. Dia berhenti sebentar lantas duduk bersandarkan pada pagar pengaman yang ada. Ia meletakkan ranselnya yang jauh lebih kering dari kaos kaki di dalam sepatunya. Ervan menekuk kedua lutut sambil berpikir dua kali untuk kabur dari tempat semacam ini. Tapi kalau tidak pergi ke luar pulau, sangat mudah bagi Niko untuk menemukannya lagi. Apalagi jika pilihan terbaik harus tinggal di kawasan sini, sudah jelas bahwa Niko akan mudah menelusuri keberadaan si Ervan Sanjaya tersebut.
Satu-satunya cara untuk dia bisa melawan adalah dengan mendapatkan bala tentara. Kawan yang kuat dan berkuasa di tempat ini. Akhirnya Ervan menuju ke sebuah depot yang telah diberitahukan dan menunggu di sana sampai malam tiba. Ervan bergabung ke dalam kelompok preman yang gemar melakukan pungutan liar kepada sopir-sopir truk kontainer di kawasan pelabuhan. Mulai malam itu, Ervan tinggal bersama mereka yang memiliki base camp di luar area pelabuhannya. Dari meminta pungutan liar baik secara paksa maupun memang pada praktiknya sudah sama-sama kongkalikong, kelompok tersebut juga mulai menampakkan aksi kejahatannya yang lain. Sedangkan Ervan di sana hanya ikut-ikutan. Tetapi ia tak mau menikmati hasil dari kecurangan dan tindakan kriminal mereka. Ervan membiarkan teman-teman barunya di tempat itu, bersenang-senang dengan hasil usaha keras yang bahkan berhasil dilakukannya seorang diri. Mereka amat menyanjung Ervan dengan sebutan teman hanya karena ada maunya. Ibarat berteman dengan pandai besi. Baik percikan apinya mengenai pakaian kita atau tidak, tetap saja Ervan mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap. Namun hal tak berbeda jua yang memang ingin dimanfaatkan olehnya. Pria ini masih menunggu waktu yang tepat dengan strategi pertempuran taktis dan matang.