Malam bilamana Vina dan Desi menginap, Lisa justru tidak bisa tertidur pulas. Sejak sore mereka berdua sudah berdebat, siapa yang akan tidur di kasur lantai itu semalaman. Dua gadis dua puluhan tahun berebut naik dan masuk ke dalam kamar Lisa, bahkan habis selesai makan malam di lantai bawah.
“Vina! Desi! Ini piringnya tolong dicuci dulu, dong!” sentil Lisa, berteriak dari ruang makan yang letaknya di posisi bawah kiri lantai ruang tidur.
Vina beserta Desi kembali berebut keluar dari pintu kamar Lisa lalu dulu-duluan menuruni anak tangga untuk sampai di bawah. Mereka lantas mengambil piring bekas makan malam masing-masing dengan repotnya. Lisa sampai bersungut-sungut yang mana jarang sekali ia melakukan hal seperti ini di depan orang lain.
“Duh! Kalian ini sudah kayak balik jadi anak didik dari taman kanak-kanak saja! Rebutan melulu dari tadi. Nanti itu piring bisa jatuh terus pecah!” lontar keluhan si Lisa.
Vina dan Desi masih bersaing ketat menghalangi jalan satu sama lain. “Tuh, dengar kata Lisa! Nanti piringnya pecah. Jadi, aku yang mencuci ke dapur dulu...!” ujar Vina lantas cabut dengan berjalan cepat mendahului Desi yang bereaksi lambat.
Desi tak mau kalah cerdik. Saat Vina sedang membuang semua sisa tulang dari piringnya ke tempat sampah khusus sisa makanan, ia memanfaatkan kelengahan ini. Dengan cekatan mengambil spons lalu dikasih satu kali tekan dari botol kemasan sabun cuci cair di dekat wastafel dapur. Desi lalu beranjak pindah ke tempat cuci muka yang menempel pada dinding luar kamar mandi.
“Lisa! Spons buat cuci piringnya di mana?” tanya Vina dengan mengeraskan suara.
“Ya di wadah dekat sabun itu, kan? Biasanya kamu juga tahu!” terang Lisa juga dengan melantangkan suaranya agar sama-sama terdengar.
Vina bingung tidak mendapati busa persegi berbahan lembut dan berpori, berwarna kuning dengan kombinasi sabut gosok pada salah satu sisi terluasnya. Saat masih berupaya untuk terus mencari, pada waktu itu pula Desi sudah meletakkan satu piring putih bersih nan mengilap pada sela-sela rak tingkat di atas wastafel cuci piring.
“Aku pergi dulu ke kamar ya? Siap-siap tidur di bawah, Casilda...!” ejek Desi kepada Vina yang berdiri membungkuk sambil terpana memandangi rak piring cantik milik keluarga Lisa di depannya.
Vina yang menerima spons cucian itu dari tangan si Desi, tidak bisa berkutik lagi. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain membersihkan, menyabun lalu membilas piring kotor di pegangan tangan. Ujung-ujungnya Vina juga yang sekalian mencucikan peralatan makan Lisa dan gelas-gelas mereka karena kasihan sama si Tuan rumah. Setelah beres semua Lisa dan Vina mengunci pintu, mematikan semua lampu di ruangan bawah. Baru kemudian keduanya naik ke lantai atas dan masuk ke kamar tidur. Dilihatnya Desi, sudah mengorok saja di atas ranjang tidur di dalam sana. Vina lalu memaksa Desi untuk bangun, memang kebiasaan yang tidak bagus buat kesehatan jika langsung tidur seusai makan.
“Ayo bangun! Dua jam lagi! Permainan belum berakhir!” paksa si Vina.
Desi mengeluh berat tapi badannya yang lebih lemah tidak bisa menandingi kekuatan lengan si Vina. Gadis itu terbangun hingga dipaksa ikut duduk bertiga di lantai beralas tikar tenunan kain dan alang-alang.
“Mari kita mainkan sesuatu! Siapa yang kalah atau tidak berhasil melakukan tantangan yang diberikan, maka dia yang harus tidur di bawah. Oke?” ajak Vina dengan rasa optimis akan menang kali ini.
“Termasuk aku juga?” tanya Lisa selaku tuan rumah di antara mereka.
Vina tersenyum dengan lebar, tandanya tak akan ada diskriminasi di sini. Permainan ini berlaku bagi siapa saja yang berada di dalam ruangan tersebut. Jadi otomatis, Lisa juga dilibatkan dengan aturan yang sama tanpa dibeda-bedakan. Selanjutnya Vina mengambil sebuah majalah di meja Lisa dan sebuah ‘type-ex’ yang sudah habis isi dan masa kegunaannya sejak Lisa lulus SMA. Vina meletakkan majalah itu di atas tikar.
“Nanti tabung pengoreksi pena cair ini diputar. Siapa yang kena tunjuk oleh penutup berwarna putih, maka harus melakukan satu tantangan yang diberikan oleh lawan di sebelah kirinya!” instruksi dari Vina yang mempunyai inisiatif sederhana.
“Ih! Enggak seru, ah!” ledek si Desi.
“Heh! Coba dulu, lah!” seram wajah Vina, membuat Desi langsung terdiam dan menurut saja.
Posisi sekarang, Lisa duduk di sebelah kanan Vina dan di sebelah kirinya Desi. Jadi sebelah kanan Desi adalah Vina sehingga sebelah kiri Vina adalah Desi. Tiga sahabat itu menentukan giliran main dengan melakukan suit batu, gunting, kertas. Didapatlah urutan yang memutar ‘type-ex’ terlebih dahulu yaitu Vina, Desi baru yang terakhir Lisa.
“Siap?” aba-aba Vina langsung memutar benda ringan berbentuk tabung di atas cover buku besar terbitan mingguan.
Berputar sejenak lalu berhenti, tepat mengarah langsung ke Desi.
“Aduh! Aku duluan, lagi!” tuturnya.
“Sekarang kamu kasih satu tantangan Sa, buat Desi!” pandu si Vina.
“Ehm..., apa ya?” pikir-pikir si Lisa.
“Nyanyikan satu soundtrack drama kesukaanmu dengan mengubah semua huruf vokal per bagian lagu dari a-i-u-e sampai o!”
“Susah banget sih!” protes Desi.
“Gampanglah! Kan kamu suka tuh, nyanyi lagu-lagu ost drama yang lagi ongoing. Ayo! Satu, dua, tiga!” atur si Vina bersemangat.
Desi lantas memilih lagu lama yang sudah hafal di luar kepala. Nyanyian dari salah satu ost drama ‘ahli waris’ dengan sedikit perubahan bunyi huruf vokal sebagai tantangannya. Dari bagian intro sampai ke coda, nyatanya Desi bisa mengucapkannya sesuai tantangan dari Lisa, tidak ada yang keliru. Walau untuk nada tinggi Desi harus terdengar sumbang dan aneh di telinga kedua sahabatnya. Tentu saja Vina kecewa sebab Desi sudah unggul satu kosong sekarang. Untuk putaran yang kedua, Desi yang mendapat giliran. Penutup putihnya kini menunjuk kepada Lisa, artinya yang mengajukan tantangan adalah Yavina. Tak tanggung-tanggung Vina sampai membuat Lisa terpaksa membuat sebuah pengakuan yang didatangkan dari hati.
Vina bersama-sama Desi membukakan pintu sempit di pojok kamar lalu mendorong Lisa berjalan keluar menuju balkon. Sang Tuan rumah berdiri tegap, menghadap ke arah letaknya rumah si Ervan. Sementara Desi dan Vina dengan antusiasme kejailan mereka, mengintip dari balik jendela kamar. Duo tersebut menantikan Lisa agar segera meneriakkan kalimatnya. Lisa sendiri, harus berulang kali memantapkan persiapan mental dan harga dirinya. Sampai dua kali ia ingin mengurungkan tantangan ini. Namun Vina mencegat serta mengatakan kalau sudah terlambat untuk melangkah mundur. Harusnya Lisa membuat penolakan sejak tadi lalu tinggal menerima sanksinya. Gadis itu pun kembali berdiri di hadapan pagar pengaman teras lantai atas pada bangunan tingkat duanya.
Lisa mengambil napas dalam-dalam lantas berteriak sekali dengan sangat kencang pada suasana sepi malam.
“I miss you, Ervan...!”
Berlari Lisa ke tembok samping kiri, membuka pintu lalu menutupnya dengan rapat. Vina dan Desi tertawa puas.
“Kalian curang!” sebal si Lisa.
“Enggak curang, Sa! Ini kan, cuma permainan saja. Jangan terbawa perasaan begitulah!” goda si Vina.
“Iya, Lisa! Kamu malah terlihat lucu kok! Memang Ervan bakalan bisa mendengarnya dari dalam rumah di ujung jalan sana?” pertanyaan Desi.
Tiba-tiba Vina teringat kondisi depan rumah Ervan ketika lewat tadi pagi, menjelang siang. “Eh! Tapi bisa jadi sekarang anak itu sudah tidak ada di rumahnya, loh!” ungkapnya.
“Dia beneran pindah?” terkejut Desi.
“Ya siapa tahu, kan!” dugaan Vina.
“Sekarang bagaimana dengan permainannya, mau lanjut atau tidak?” tanya si Lisa mengembalikan fokus perhatian.
“Lanjut, dong! Belum ada yang kalah nih!” semangat Desi. “Ayo! Ayo!”
Kini giliran Lisa yang memutar kemasan biru-putih di atas majalah. Akhirnya penunjuk pun mengarah ke tempat duduk si Vina. Bola tantangan kini ada di tangan Desi. Gadis fashionable itu memikirkan bahan pertandingannya dengan baik-baik. Dia ingin pakai akal sehat lagi bukan sekadar main-main. Vina jadi curiga mencermati gelagat sok pemikir si Desi yang duduk di sebelah kirinya.
“Cepatlah!” desakan Vina.
“Sabar! Aku menantang Casilda Yavina untuk tidur memakai kasur lipat di lantai!” ucap Desi begitu nyaman.
Vina melawan. “Mana ada! Itu bukannya tantangan, tapi hukuman yang jadi kesepakatan bagi yang kalah!”
“Tapi Vin, itu tetap dihitung sebagai tantangan juga! Kalau kamu menolak berarti kamu otomatis kalah dan dihukum sama.” tutur Lisa berada di pihak yang berdasarkan aturan.
Desi mengangguk-angguk tersenyum, seketika berlagak menjadi seorang Jenius besar.
Permainan berakhir, lampu listrik pun dimatikan. Lisa dan Desi berbaring di atas kasur beranjang. Sedangkan Vina yang kebagian tidur di bawah.
“Apa-apaan ini? Aku yang memulai, aku juga yang mengakhirinya dengan hukuman. Kalau bukan karena Desi ini, pasti dia sendiri yang sudah tidur di lantai.” gerutu Vina sambil menarik selimut tebal pada kasur lipatnya.
Vina langsung terlelap, sementara Desi masih mencoba untuk merapatkan kedua kelopak matanya yang sulit untuk terpejam. Sekarang, Desi justru kehilangan rasa kantuknya dan susah untuk dipaksakan tidur. Sesekali ia menyalakan layar ponsel, memeriksa bila ada yang mengirimkan pesan ke akun-akun pribadinya. Dalam ketenangan mereka, Lisa juga belum bisa tidur dengan tenang. Ia memiringkan badan, memunggungi Desi. Kemudian Lisa membangunkan diri hendak beranjak pergi.
“Mau ke mana, Sa?” tegur Desi berbisik, takut sekali membangunkan Vina.
“Aku mau ke bawah dulu, ambil minum. Kamu mau, Des?” kata si Lisa.
“Tidak perlu. Terima kasih!” jawab si Desi.
Lisa berjalan pelan dengan alat bantu menuju meja ruang makan. Ada gelas kosong lalu diisinya dengan air mineral dari galon. Lisa duduk sambil menghabiskan setengah gelas air yang diteguk ke dalam kerongkongan. Rasanya menyegarkan. Setelah hilang kekeringan di dalam mulut dan tenggorokan itu, Lisa balik masuk ke kamarnya. Namun ia keluar lagi melalui pintu di sudut ruangan, lalu menutupkan kembali agar angin tidak mengganggu tidurnya para kawan. Lisa menikmati seorang diri, pemandangan luar dari atas balkon.
Sungguh hawa malam yang dingin. Angin sepoi-sepoi itu membelah poni rambutnya yang pendek hingga menerpa dahi Lisa yang lebar. Wanita di atas balkon, menarik erat kardigan merah jambu yang dikenakan. Kedua tangannya melipat guna menambah kehangatan tubuh yang merajuk kedinginan. Lisa mulai berpikir tentang Ervan. Dia menengok ke arah lokasi bangunan rumah di deretan pinggir jalan sana. Terlalu gelap juga tak ada tanda-tanda kehidupan manusia.
“Apa Ervan benar-benar pindah dari sini? Ke mana? Di mana dia akan tinggal? Apa yang akan dikerjakannya? Mengapa Ervan sama sekali tak menghubungiku?”
Begitulah pertanyaan-pertanyaan dalam diri Lisa yang hanya bisa dipendamnya.
“Apa aku yang langsung telepon saja, ya? Ervan tidak akan merasa terganggu, bukan? Tapi, bukankah aku sendiri juga yang menginginkan agar kami bisa menjauh!” ungkapan pikiran Lisa yang berakhir tanpa melakukan apa-apa.
Pada saat tersebut, Lisa mendapati sebuah kepompong yang menggantung pada bagian bawah pegangan railing balkon dari bahan kayu tersebut. Kepompongnya bergerak-gerak tertiup angin, tapi ternyata mengeluarkan bagian sayap yang masih kecil dan terlipat di dalam tubuh pupa. Terlihat kusut dan basah karena ada cairan yang membantunya menuju proses metamorfosis yang sempurna. Menjadi wujud imago secara menyeluruh namun begitu dramatis. Lisa coba membantu membuka sedikit cangkang kepompong. Kupu-kupu dewasa itu sempat meregangkan sayapnya ketika berusaha untuk keluar. Namun, kupu-kupu tersebut tiba-tiba jatuh juga tidak dapat terbang.
“Apa yang terjadi?” heran si Lisa.
Dia lupa, tidak seharusnya Lisa dengan gampangnya memuluskan perjuangan si Kupu-kupu muda. Sudah hukum alam bahwa salah satu jenis serangga itu, harus berjuang sendiri untuk keluar dari ‘rumah’ kepompongnya. Agar sayap yang dicipta semakin kuat dan mengembang. Dengan membantu kupu-kupu, Lisa sebenarnya justru telah membunuh hewan yang tengah berjuang itu. Tidak lama kemudian, kupu-kupu mati di depan mata kepala Lisa sendiri. Bangkainya begitu lemah dan hanya dilihat seperti sampah yang dilibas tiupan angin. Usaha menjadi sia-sia apalagi mengembangkan potensinya untuk bisa terbang dan lain-lain pun sudah tak lagi bisa.
Hal seperti ini membuktikan sifat terburu-buru manusia, hanya akan berbuah duka dan penyesalan. Cara yang salah meski demi tujuan yang benar tetaplah menghasilkan suatu kondisi yang cacat. Lisa tidak ingin menyesal seperti apa yang ia rasakan malam ini. Dia ingin memperbaiki cara yang selama ini dianggapnya lebih baik dari pada harus berjuang sendirian. Lisa ingin membatalkan satu rencana penting sebelum terlanjur tiba, hari dan tanggal yang ditetapkan oleh bu Melati.
-----
Keesokan pagi, Vina maupun Desi berangkat kerja dari rumah Lisa. Mereka keluar pada pukul 8 sembari berpamitan. Nanti malam mereka akan langsung pulang ke tempat tinggal masing-masing. Lisa menutup pintu depan, tapi seketika terdengar suara benda pecah dari lantai dua kamarnya.