Seorang ‘teman’ menawarkan buah durian kupas dalam kemasan vakum yang sudah dibuka. Namun tangan Ervan tetap saja menolak. Pria yang menjadi salah satu anggota preman di sana, lantas mengambil daging buah sebiji dengan tangan kanan. Ia makan untuk diri sendiri sambil berjalan ke belakang, bergabung bersama rekan-rekan satu hunian. Di bawah tol layang Ervan kini tinggal dengan beberapa gangster yang belum terdaftar. Kebanyakan dari mereka adalah pemuda dari kota maupun daerah lain yang nekat merantau tapi tak punya keahlian di suatu bidang dan tidak mampu mengontrak tempat tinggal meskipun sementara. Ada juga yang merupakan warga dari wilayah sini. Mereka bergabung karena lebih senang hidup di jalanan atau terpaksa kabur sebab punya masalah di keluarganya. Alhasil, nasib mereka semua malah kena rekrut sama Asisten berkepala plontos untuk dijadikan anak buah dari seorang bos gangster yang sama sekali belum pernah mereka sendiri temui. Termasuk Ervan, walau ia ikut bergaul dalam kelompok ini dengan niat dan kepentingan pribadi. Dua hari tinggal di sana membuat Ervan langsung terbiasa dengan aksi kriminal para amatir. Akan tetapi dia malah kelaparan karena tidak mau makan dari hasil tindak kejahatan. Namun ia tidak bisa pergi sebelum tujuannya terpenuhi.
Pada satu siang, Ervan berjalan-jalan lagi di sekitar dermaga. Kali ini, dia yang tidak sengaja mendapati Niko tengah sibuk di terminal peti kemas milik sebuah perusahaan. Ervan dengan gaya cuek dan santai, mengamati pekerjaan si Niko dari atas truk kontainer yang masih mengantre proses bongkar muat. Sementara pihak terkait yang banyak urusan pekerjaan di bawah itu, sama sekali tak merasa bila sedang diawasi.
Satu jam berlalu, Niko yang mengenakan helm proyek berwarna putih menyalami seorang mitra sambil mengucapkan banyak terima kasih atas kerja samanya. Di sisi lain, Ervan kepanasan setelah tidur terlentang di atas kepala truk trailer dengan muka ditutup topi. Cepat ia bangun kemudian duduk melihat-lihat keadaan sekeliling di bawahnya. Niko masih dalam pantauan, tapi sayang saat itu juga Niko mendapati posisi aman si Ervan di atas sana. Sepasang mata mereka saling bertemu. Dengan lompatan yang kuat dan akurat, Ervan turun dari kendaraan beroda 16 buah tersebut. Dia jatuh dalam posisi kedua kaki mendarat secara bersamaan dengan sedikit menekukkan, lalu berdiri tegak hingga bertolak pinggang layaknya menantang Niko di hadapan. Niko pun melipat kedua tangan dan melebarkan jarak antara kedua kakinya yang berdiri sejajar. Kedua pria saling menunjukkan aura kebencian satu sama lain bersama deru angin di pelabuhan tersibuk pulau ini.
“Mau minum?” tawar Niko kepada Ervan.
Akhirnya mereka menikmati jus alpukat vanilla cokelat segar dingin di spot gerai minuman, salah satu fasilitas dermaga eksekutif pelabuhan. Ervan tanpa malu langsung menghabiskan jus alpukatnya hampir tiga perempat gelas. Niko melihat, ada satu hal yang aneh dari Ervan sejak terakhir kali mereka berseteru.
“Sepertinya kamu sudah melupakan kacamatamu!” singgung si Niko.
Setelah bergabung menjadi gangster lokal, Ervan memang telah melepaskan image pria berkacamata. Penglihatan Ervan masih cukup jelas untuk mengenali wajah seseorang yang tidak disenanginya itu.
“Aku dengar kau berhari-hari tidak balik ke rumah. Apa kamu sudah pindah atau aku harus menyebutnya dengan kabur!” gertak Niko secara halus.
Ervan menunjukkan seringai sinis. “Jadi benar. Kau yang telah mengirim polisi-polisi gadungan itu untuk menangkapku, bukan begitu!” tudingan Ervan sangat jelas.
Niko menghela napas lalu mengusap seluruh permukaan wajah dengan telapak tangannya. Dia lalu mengubah arah pembicaraan. “Sabtu besok Aku dan Lisa akan bertunangan. Maaf, rasanya kamu tidak masuk dalam daftar tamu undangan kami!” ujar Niko ingin merendahkan si Lawan bicara.
“Itu tidak penting!” jawab si Ervan.
“Oh! Kamu ternyata tidak peduli ya, dengan nasib Lisa yang kau bilang, teman!” tukas Niko.
“Bukankah sikap egois itu terkadang juga diperlukan?” kata Ervan dengan sangat rileks.
“Kejamnya...!” sindir pria yang lebih tua.
“Kamu beserta keluargamu yang lebih kejam!” ejekan kasar dari pria muda sebab dendam yang membara.
Ervan lantas menggebrak meja sambil berdiri, hendak meninggalkan Niko yang ikut merasakan fasilitas calon penumpang kapal tersebut.
“Woi!” teriak Niko mengagetkan kenyamanan orang-orang di sekitar.
“Jika berani, nanti malam kita duel satu lawan satu!” ujar si Niko tanpa ragu.
Ervan pun mencela. “Kau tidak malu kalau perilakumu itu tak mencerminkan seorang akademikus! Apalagi alumni dari universitas besar di luar negeri!”
“Ini hanya tantangan jati diri sebagai pria sejati!” sergah Niko.
“Oh! Ternyata putra dari sosok Arya Adiguna Atmaja ini terlalu berbelit-belit, ya! Kalau begitu mengapa kau tidak menghancurkanku sekalian di sini saja? Apa kau tidak bisa menggunakan kapasitas otak dengan sedikit lebih cerdas?” tantang Ervan tanpa hadir rasa frustrasi.
Pria itu mulai tersenyum licik. “Haruskah kita mencobanya?” peringatan si Niko.
Kemudian dari arah belakang dan sekeliling Niko datanglah keenam pria berjaket hitam. Masing-masing orang melakukan pemanasan otot sebelum benar-benar siap menyerbu Ervan yang menjadi target perburuan.
“Tangkap anak itu sekarang!” perintah dari si Tuan.
Ervan berlari secepat kilat menuju pintu keluar. Merangsek ke setiap sela ruang di antara tembok dan manusia. Menyalip, menubruk bahkan melompati setiap penghalang jalan yang ada di depan mereka. Sampai Ervan berhasil sembunyi di belakang tumpukan kontainer, mengamati kebingungan para ppemburu baru diam-diam melarikan diri dari lokasi.
“Itu dia!” tunjuk si Ketuanya.
Ervan sudah memperhitungkan waktu pergerakannya sehingga jalan pengejaran para gadungan pun terhenti, ketika alat bongkar muat kapal jenis Reach stacker dioperasikan oleh petugas. Mekanisme geraknya menghalangi orang-orang sewaan Niko di sana, celingukan dari balik mobil mencari di mana posisi target itu. Dengan sombong Ervan menunjukkan angka tujuh dengan jari telunjuk kanan ke bawah dan ibu jarinya lurus ke samping. Ditambah jari telunjuk sebelah kirinya yang menunjuk ke atas. Sebuah simbol dari pesan tersuratnya agar mereka kembali bertemu nanti malam tepat jam 7. Entah di mana tempat perjanjian itu, yang jelas pertarungan antar geng akan terjadi di areal sekitar sini.
---
Melepaskan perasaan tegang, sejenak Lisa mengusap-usap layar smarphone yang agak kotor dalam pandangan jarak dekat. Lisa berniat menelepon kak Niko siang ini, kira-kira sudah di jam istirahat dari sebuah kantor atau perusahaan. Bagaimana ia harus mengatakan kalimat maksud dengan singkat, jelas namun tak melukai perasaan laki-laki di ujung panggilan teleponnya?
“Halo! Ada apa Lisa?” sapa kak Niko setelah menerima panggilan masuk dari Lisa.
“Kak Niko!” Lisa malah terkejut sendiri. “Ehm, bisa kita bertemu di luar sore ini? Saya ingin membicarakan sesuatu.”
“Apakah itu penting untukku?” tanya kak Niko.
“Eh?” ragu si Lisa.
“Haha! Bercanda, Lisa! Aku hanya bergurau. Kalau begitu nanti sore aku jemput kamu di rumah. Ya sudah, ya! Aku harus kembali bekerja dulu. Sampai nanti!” alasan Niko yang tengah menunggu ‘laporan' di dermaga 1.
“Sampai nanti!” jawab Lisa dengan sopan dan telepon pun ditutup.
Sebenarnya Lisa ingin langsung saja mengutarakan niat hati. Tapi ia ragu juga merasa tidak mempunyai etiket, terlebih karena acara pertunangan itu melibatkan ibunya kak Niko. Masalah ini Lisa hadapi sendiri. Ia tidak ingin Vina maupun Desi tahu apalagi ikut bermasalah dengan urusan pribadi antara Ervan dengan Niko. Seusai menghubungi kak Niko, Lisa juga mencoba untuk mengontak nomor Ervan. Namun tetap saja tiada mendapatkan tanggapan. Lisa sudah putus asa. Mungkin dengan atau tanpa perjuangan apa pun, garis takdir mereka memang sudah berakhir sejak ‘pengusiran’ Lisa kepada Ervan dari ruang tamunya.
Jam 4 sore, Lisa sudah bersiap diri. Berdandan tipis dan berpakaian rapi dengan sedikit semprotan parfum untuk wangi-wangi. Rambut panjangnya digerai, tak kalah lebat dengan tanaman tali putri yang merambat dan menjuntai pada tanaman inang di kebun raya.
Tin tin!
Suara klakson dari sebuah mobil berwarna silver yang berhenti di jalan beraspal depan rumah Lisa. Wanita itu keluar, mengunci pintu kemudian berjalan lebih cepat ke arah mobil yang menjemputnya. Pintu mobil dibuka, Lisa duduk di kursi penumpang depan dengan tenang. Kak Niko juga mengendalikan kemudi mobil dengan mulusnya.
“Kita mau pergi ke mana?” tanya kak Niko bermuka serius ketika menyetir kendaraan.
“Terserah kak Niko saja.” jawab si Lisa.
Niko tertawa renyah. “Kok terserah aku? Kan, kamu yang mengajak keluar!” lisannya.
“Iya sih! Kalau begitu kita ke kafe di jalan Cempaka saja.” saran Lisa.
“Kenapa tidak ke Amanda’s resto saja sekalian mampir?” ucap Niko.
“Jangan!” sentak Lisa. “Eh! Maksud saya ingin mencari tempat mengobrol dengan nuansa lain. Jadi jangan ke sana.” katanya Lisa.
“Baiklah, kalau itu keinginanmu!” sambut kak Niko.
Lisa terus menutup rapat mulutnya hingga mereka akhirnya tiba di kafe yang dimaksudkan. Kak Niko lantas memesankan dua kopi mocha latte untuk diantarkan ke meja pengunjung yang mereka tempati. Seusai duduk, Lisa mulai berbasa-basi. Dari menanyakan kabar bu Melati, bibi Siska bahkan urusan bisnis dan perusahaan kak Niko yang sama sekali tak dimengerti oleh Lisa. Sampai pada sela-sela obrolannya, Niko baru sadar.
“Eh, kamu sudah tidak pakai kruk lagi ya?” senang kak Niko.
Lisa dengan senang hati pula menjawabnya. “Iya! Masih coba-coba untuk latihan. Kaki juga sudah biasa lagi kalau buat berjalan normal, tidak sakit.”
“Syukurlah! Tapi kamu masih harus berhati-hati!” nasihat dari Niko.
Saat-saat tersebut, pesanan minuman mereka telah siap di atas meja dengan nomor pesanan yang ditarik kembali oleh pelayan.
“Ah! Mari minum!” ajak kak Niko, juga mempersilakan.
Lisa pun meminum segelas mocha latte yang menjadi jatahnya dengan sedotan besar.
“Eh, maaf! Bukannya kamu tidak suka minuman kopi, Lisa? Ervan yang mengatakannya waktu itu.” Niko menyela.
“Uhuk, uhuk! Itu hanya dugaannya dia saja!” jawab si Lisa berterus terang.
Kak Niko lantas mengambilkan selembar tisu makan kepada Lisa.
“Terima kasih!” ucap sang Wanita.
Lisa mengelap mulutnya supaya bersih. Sekarang, dia ingin menyampaikan maksud dan tujuan dengan jujur terhadap kak Niko. Tanpa canggung bahkan sangat yakin, Lisa minta untuk membatalkan pertunangan di antara mereka. Tak lupa ia mengucapkan permintaan maaf yang besar untuk kak Niko terutama pula untuk ibunya. Lisa mengaku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Ia tidak ingin menipu diri sendiri. Niko terus saja menjelaskan bahwa semua itu adalah permintaan dari ibu kandung dan dari hati terdalamnya. Pria tersebut juga tidak pernah mempertanyakan kesiapan Lisa dengan tujuan untuk membatalkan pertunangan. Tapi keputusan Lisa sudah bulat. Inilah perjuangan terbaik oleh ia pribadi agar tak hancur dan menyesal di kemudian hari. Segelas minuman itu pun akan Lisa bayar dengan uangnya sendiri.
Niko nyaris menyerah untuk bisa mengubah pikiran Lisa. Rencana dia dan sang Ibu memanfaatkan Lisa agar si Ervan tunduk, sudah menampakkan kegagalan di awal-awal. Tiba-tiba sebuah pesan baru, masuk dalam bar notifikasi di layar ponselnya. Niko membuka dan membaca pesan yang dikirimkan oleh seseorang yang sudah ia kenal. Kemudian diletakkan lagi ponsel itu di atas meja dekat gelas minuman kopi yang belum habis juga.
Selepas itu, gelas malah tersenggol dan menumpahkan seluruh isinya.
Kain kemeja dan celana panjang kak Niko basah kena tumpahan minuman di sana. Beruntung jasnya sudah dilepas dan disampirkan pada sandaran kursi. Lisa mendadak dikejutkan oleh keteledoran dari tangan si Niko.
“Lisa! Minuman ini, izinkan aku yang membayar semua untuk terakhir kali saja! Aku juga akan mengantarkanmu sampai ke rumah. Tapi tolong, pulang nanti kamu temani aku mampir beli pakaian buat ganti terlebih dahulu. Please!” mohon kak Niko.
Pria tiga puluh tahun tersebut lalu menarik Lisa pergi bersama. Bagaimana ini? Seharusnya akan lebih baik jika selesai pertemuan mereka berdua langsung pulang dan berpisah. Tetapi, anggap saja yang terakhir ini menjadi catatan balas budi untuk menghapus rasa bersalah Lisa.
Niko mengajak Lisa ke sebuah toko pakaian. Berlama-lama Niko memilih kemeja baru dan celana kantor yang panjang. Bukan karena tidak ada yang cocok atau disukainya, Niko sengaja mengulur waktu sampai mendekati pukul 7. Kurang dari setengah jam, mantan pasangan itu akhirnya berada dalam perjalanan pulang. Namun di tengah arah tujuan, kak Niko minta singgah lagi ke tempat lain. Niko beralasan harus menemui seorang klien penting dan janjinya hanya sebentar saja untuk menyerahkan flashdisk yang ditunjukkan nyata di depan Lisa. Gadis itu menyadari kedudukannya sebagai seorang penumpang, tentunya tidak menghargai sekali jika tak mengikuti arahan sang Sopir yang sudah berbuat baik.
Tiba di area parkir pinggir laut, Lisa disuruh menunggu sebentar. Kak Niko segera keluar dan berlari meninggalkan Lisa di dalam kendaraan pribadinya, mobil dengan warna silver mengilap. Dilihat maupun disentuh bagian-bagian interior mobil milik Niko tersebut, sama saja asing bagi Lisa. Baru sekali ini kak Niko menggunakannya. Lisa tidak mengingat apa pun tentang mobil yang telah menabraknya malam itu. Melihat warna mobil saja tidak apalagi nomor pelat. Lisa becermin dengan kaca spion dalam yang menempel pada plafon mobil di bagian depan. Wajahnya sungguh berminyak padahal AC-nya sudah cukup dingin menerpa kulit. Lisa keluar untuk sedikit membasuh muka dengan air keran sembaru menikmati udara bebas. Sepuluh menit Lisa menunggu di luar. Niko tak juga menampakkan batang hidungnya. Wanita itu mencoba berjalan mondar-mandir saja di sekitar parkiran. Namun tak disangka, Lisa melihat warna mencolok dari jas kak Niko yang dikenakan sejak datang menjemputnya di depan rumah tadi sore.
---
Perkelahian antar kelompok itu sudah berlangsung sebelum Niko sampai di sudut sepi. Ervan bersama ‘teman-teman’ geng melawan orang-orangnya Niko satu demi satu secara bergiliran. Hingga adu kekuatan di antara mereka hasilnya seimbang, si Niko tak kunjung datang.
“Mana Dia yang membayar kalian untuk semua ini! Pengecut!” kecam Ervan.
Ervan dan kawan gangsternya tertawa menang.
“Aku di sini!” teriak Niko, muncul dari balik barisan preman bayarannya yang rapi.
“Sekarang waktunya!”
Dalam satu kalimat komando Niko tersebut, semua lawan bergerak maju dan cepat untuk melawan Ervan cs. Mengamuk, meninju, menendang lalu menjatuhkan lawan di depan yang lebih lemah. Menang jadi abu kalah jadi arang! Orang-orang yang hanya mengunggulkan fisik dan emosi tak kenal ampun itu tidak ada yang memperoleh keuntungan.
Para berandal terjerembap bersama tumpahnya cairan hitam dari truk bermuatan oli bekas yang terguling. Darah mereka yang mengucur dari mulut, hidung serta kepala bercampur menjadi cairan merah kehitaman. Ervan dengan Niko masih saling berduel di daratan yang kering. Ervan berhasil menjatuhkan Niko lantas mencengkeram leher jas. Saat Ervan ingin melepaskan bogem mentah, Lisa datang dan berteriak menghentikannya.