“STOP....!”
Lengking keras teriakan Lisa hingga menyerakkan getar pita suaranya. Wanita di sana tidak habis pikir dengan kelakuan dua pemuda yang dikenal baik itu. Sementara Ervan tak menghiraukan peringatan Lisa hingga tetap dengan tega, membuat memar pada wajah si Niko beberapa kali.
“Ervan!” sergah Lisa penuh amarah.
Kemudian si Ervan lekas kabur meninggalkan lokasi bersama teman-teman lain yang bangkit dan lari menyusul ia dari belakang.
“Kak Niko bisa mendengar suara saya?” tanya Lisa karena mengira Niko sudah pingsan saat didekatinya.
Kedua mata kak Niko terpejam namun bibirnya tersungging dan dia pun tertawa sebab menahan sakit. Berguncang tubuhnya yang terbaring di permukaan lantai beton, merasa konyol dengan kekalahan malam itu. Niko hanya sanggup menertawakan kondisinya sendiri yang seperti dipermalukan oleh Ervan. Sedangkan Lisa, hanya terdiam dengan duduk bersimpuh menunggu kehadiran jiwa yang tenang di hadapan.
---
“Aduh!” sontak kak Niko yang merasakan nyeri karena bengkak pada tulang pipi.
Maka kemudian, Lisa menyerahkan saja beberapa es batu yang dibungkus handuk kecil kepada kak Niko untuk mengompres sekitar lukanya sendiri. Kini mereka berdua duduk di dalam mobil yang masih berhenti di area parkir, dekat jalan masuk gerbang pelabuhan. Sambil menjaram area lebam pada wajahnya, Niko melihat rona Lisa yang menunduk dan merasa tidak berguna. Sang Pria pun mengakui keadaan.
“Maafkan saya, Lisa! Kamu harus menyaksikan perbuatan tak menyenangkan tadi.” kata kak Niko.
“Itulah mengapa aku pernah memintamu untuk berhati-hati karena tinggal satu lingkungan rumah dengan Ervan. Anak itu benar-benar seorang berandalan. Kamu lihat sendiri! Meski kamu suruh berhenti, dia tetap saja menyerangku dengan liar seperti tadi.” curahan hati si Niko.
“Aku tidak membalasnya karena aku menjaga perasaanmu, Lisa! Aku tahu kamu sudah menyukai Ervan terlebih dahulu sebelum bertemu denganku. Padahal sesungguhnya dia sama sekali tidak layak untuk mendapatkan hal semacam itu, Sa!” omongannya terus menerus.
“Cukup!” Lisa menyela perkataan Niko yang macam-macam.
“Tidak perlu kita membahas Ervan lagi di sini!” tegurnya.
Kak Niko terperenyak. “Kamu benar juga!”
Lalu berkata. “Sekarang bagaimana kalau kita membahas tentang ...?”
“Saya mau pulang kak Niko. Tolong!” tutur si Lisa dengan kerendahan hati.
Niko pun mengangguk-angguk menuruti kemauan Lisa. Ia membuang handuk kompres di tangan lalu melemparkannya ke atas dasbor mobil. Kak Niko menginjak pedal rem, menstater mobil, mesin menyala, memindahkan tuas persneling lalu berkendara dengan mode ekonomis. Selagi jarak laju yang semakin menjauh, Ervan melihat arah perginya mobil berwarna silver dari atas sebuah bangunan. Ia memandang dendam kepada penggunanya sekaligus pilu kepada satu orang penumpangnya.
---
Dalam perjalanan pulang, Niko masih saja membahas tentang pertunangan yang dikonsepkan oleh bu Melati. Lisa sampai dibuatnya melanggengkan emosi meninggi di dalam hati.
“Kak Niko, saya pikir ucapanku tadi di kafe sudah sangat terbuka. Maaf sekali lagi! Tapi harus saya tekankan bahwa kita berdua sudah tidak punya hubungan istimewa. Teman! Kita semua masih bisa berteman, bukan?” Frustrasi Lisa menyikapi perdebatannya.
“Saya tidak yakin kamu akan bahagia bila dengan Ervan. Kamu membatalkan pertunangan ini hanya karena ingin bercinta dengan dia! Lantas kamu juga akan berpihak padanya dan melawan kami yang sudah menjadi korban kekejiannya!” tuduh Niko dengan tajam.
Lisa menggeleng-gelengkan kepala. “Sama sekali tidak, kak Niko! Aku tidak pernah memikirkan sampai ke situ. Saya hanya ingin memperjuangkan kehidupan diri sendiri.” ungkap Lisa, ingin meniru metamorfosis kupu-kupu yang sempurna supaya bisa hidup dengan segala potensi yang dimiliki.
“Entah bagaimana benang kusut dari kasus apa pun yang menjerat kak Niko dengan Ervan, saya tidak mau ikut campur.” kata Lisa. Ada sedikit ketakutan yang berusaha disembunyikannya.
“Saya janji tidak akan berpihak kepada Ervan maupun melawan kak Niko beserta ibu Melati. Jadi, tolong lepaskan saya!” pinta Lisa dengan sangat.
Niko menampik. “Bagaimana aku bisa percaya dengan kata-kata, Lisa? Sedang isi hatimu pernah mengungkapkan bahwa kamu mencintai Ervan. Bahkan kamu telah menolakku secara kata-kata waktu itu. Kamu ingat?”
“Tidak lagi! Saya bersungguh-sungguh dengan ucapanku sebelumnya. Saya Lisa, akan mencoba untuk tidak lagi mencintai Ervan. Jadi, ..!” Lisa sampai tersendat-sendat dalam berbicara.
“Mencoba? Mau berapa kali uji coba untuk menjatuhkan harga dari sebuah perasaan? Kamu ini wanita, Lisa! Perasaanmu lebih dominan dibandingkan logika. Jujurlah dengan hatimu aku tidak mengapa, lalu kita hancurkan Ervan bersama-sama!” modus si Niko.
Kak Niko sudah memperlihatkan kejanggalan. Lisa pun hampir membuka paksa pintu mobil yang tengah berjalan di jalur protokol. Namun, tentu saja keempat pintu sudah terkunci secara otomatis saat mesin dihidupkan. Tentu Niko juga tidak akan begitu saja, mau membuka penguncinya hanya untuk Lisa.
“Bagaimana kalau sekarang aku membawamu berkunjung ke rumah kami? Bertemulah dan berbicara dengan Ibu jika ingin mengubah konsep acara pertunangan kita. Kalau mau sekalian kamu menginap saja mulai malam ini!” masih dengan bualan kak Niko.
Lisa semakin tak tahan. Ia mulai bertindak dengan gegabah, berupaya merebut kemudi dari kuasa Niko agar membanting setir ke bahu jalan.
“Tenang, Lisa! Tenang!” peringat Niko dengan mempertahankan diri.
Lisa berteriak di dalam mobil sambil menutup kedua telinga sebab tidak mau mendengarkan alasan apa pun. Niko kini juga merasa khawatir dengan keselamatan mereka di dalam mobil.
“Oke, oke! Aku batalkan pertunangan kita, tapi kamu jangan memaksa turun di tengah jalan seperti ini! Aku akan langsung antar ke rumahmu.” janji kak Niko yang membuat Lisa sedikit lebih tenang.
Melanjutkan sisa perjalanan, Lisa hanya senantiasa melihat ke arah luar jendela. Sampai di jalan depan rumah, sebelum turun dari mobil ia kembalikan kotak perhiasan berisi cincin dari Ibu kak Niko.
“Selamat tinggal!” ucap Lisa, kemudian keluar dan menutup pintu mobil silver tersebut.
Gadis pegawai resto Amanda yang resah, cepat-cepat masuk ke kediamannya yang gelap gulita. Hanya menyalakan lampu teras dan kamar tidur di lantai atas, Lisa mengintip lagi dari celah gorden jendela. Mobil kak Niko masih ada di jalan bawah sana. Namun beberapa detik kemudian, Lisa merasa sangat lega karena pria tersebut akhirnya pergi meninggalkan lokasi ia yang tinggal sendiri.
Lisa pun kembali turun ke ruang dapur untuk mengambil segelas air putih. Ditambahkannya tiga kubus es batu yang dingin dari dalam kulkas. Hawa malam ini terasa begitu panas dan mengeringkan tenggorokan si Lisa. Dia minum seteguk demi seteguk. Begitu menyegarkan hingga Lisa juga tampak bersantai dengan melihat-lihat sambil sedikit menggoyangkan kakinya yang mulai sembuh secara total. Mungkin sebelum Senin besok, ia sudah memutuskan untuk kembali masuk kerja di Amanda’s resto. Tidak ada rencana lagi yang ingin dilakukan Lisa selain hal ini.
Lisa mengambil ponsel dari saku sweter yang dikenakannya. Rasanya ia ingin menghubungi Desi dan Vina. Akan tetapi, justru nomor kontak Ervan yang muncul pertama dalam riwayat panggilannya. Laki-laki muda itu! Bisakah Lisa membuktikan janji? Sejujurnya, ada banyak kesamaan di antara Lisa dan Ervan yang menjadi dasar alasan keduanya justru tidak akan cocok menjadi pasangan. Capaian usia mereka sama. Bekerja di tempat yang sama, tinggal di satu kompleks rumah, dan sama-sama masih suka mengunggulkan egonya. Mungkin benar kata kak Niko, jika mereka bersama tidak akan bisa bahagia. Tapi, rasa ini apa namanya?
Kalut! Kacau pikiran Lisa yang berada di tengah konflik masa lalu antara Ervan dan kak Niko. Tapi, rasa apa lagi ini yang tertinggal? Lisa merasa ingin memberikan dukungan morilnya setiap kali terlintas sosok Ervan dalam angan-angan. Mungkin ia benar telah jatuh cinta atau justru sekadar menaruh belas kasihan. Lisa tidak tahu cara yang tepat untuk mengutarakan isi hati dan pikirannya. Yang bisa ia bilang hanya, ungkapan cinta Ervan pada Lisa di waktu lalu tidaklah bertepuk sebelah tangan.
Lisa kembali meminum sepertiga air bening hingga menyisakan dua bentuk es batu yang tertinggal di dasar gelasnya. Ibaratkan es kubus itu adalah Lisa dan Ervan. Pada akhirnya mereka berdua memang bersama. Tapi kita lihat sendiri bahwa wujud dari kedua es batu yang diambil dari cetakan, sudah tidak lagi sempurna. Tiap sudut di keenam luas sisi itu telah menumpul. Dari volume kubus berangsur menjadi sebongkah bola dingin. Zatnya semakin menyatu namun es itu semakin mencair pula jadinya. Lalu solusi terakhir, air sisa dari es batu yang mencair itu pun hanya untuk dibuang juga.