Kerasnya dering alarm sontak membangunkan Lisa dari tidurnya.
“Apa tidak salah? Ini kan baru jam 3 pagi!” Lisa bergumam malas.
Amat berat untuk membuka kedua pelupuk matanya. Lisa berusaha melihat setelan jam alarm di ponsel pintarnya. Alarm dalam 1 jam 55 menit. Pengaturan setiap hari.
Kurang dari tiga menit, alunan musik dari smartphone berbunyi. Cahaya hidup pun kembali, menyala terang dari layar yang terkunci. Baru saja Lisa akan memasuki alam mimpi. Dalam sekejap ia harus membuka selimut yang telah menutupi wajahnya.
Sebuah panggilan telepon dari bos tempat Lisa bekerja. Belum sempat diterima panggilan sudah dimatikan. Lisa sampai mengucek mata karena merasa tidak percaya dan memastikan bahwa ia tidak salah lihat.
Satu pesan diterima. “Ambil paket di depan rumah nomor 29 jalan Cermai! Datanglah sendiri lalu kirimkan barang ke lokasi berikut!”. Lisa juga menerima pesan yang berisi nama beserta alamat yang akan dituju.
“Memangnya di Jepang sekarang jam berapa sih? Apa nyonya Amanda tidak tahu kalau di sini masih gelap? Sudahlah! Aku akan mengurusnya nanti.” Lisa kembali tertidur.
Tepat pukul 8, Lisa turun dari taksi yang mengantarkannya ke alamat rumah di jalan Cermai. Lisa memeriksa kembali pesan yang diterima sebelumnya. Persis nomor rumah yang disebutkan yakni 29. Lisa melihat ada sebuah paket berwarna hitam yang telah dikemas dengan sangat baik dan diletakkan di depan pintu gerbang.
“Permisi! Ada orang di rumah?” sapa Lisa.
Tiba-tiba Lisa melihat ada seorang anak laki-laki yang mengintip dari balik jendela kaca. Sedikit samar penglihatannya karena pantulan cahaya matahari pagi.
“Adik kecil, Kakak disuruh ibu Amanda untuk mengambil paket.” Lisa memberitahu.
Anak laki-laki itu hanya tertawa kecil lalu berbalik ke belakang dan berlari meninggalkan tempatnya. Lisa masih ragu tapi hanya satu barang tersebut yang diletakkan di depan rumah. Tidak ada tanda-tanda ada orang lain di dalam rumah. Tidak ada pula yang keluar menemui Lisa. Pintu gerbang di depannya pun dalam posisi digembok.
Lisa mengambil kotak hitam berukuran sedang tersebut untuk segera dikirimkan ke alamat penerima. Saat ia mengangkat paketnya ternyata cukup berat juga entah apa isinya. Lisa pun tidak ingin tahu. Pergilah Lisa ke tempat ekspedisi terdekat dari lokasi.
“Dari mana saja kamu, Sa?” tanya Vina kepada Lisa yang baru saja tiba di kedai makan.
“Maaf teman-teman aku terlambat! Tadi harus mengirim paket dulu dari nyonya Amanda.” Jawab Lisa apa adanya.
“Dari nyonya Amanda? Maksudnya bagaimana?” tanya Vina keheranan.
“Iya. Tadi aku mampir ke kediamannya si Bos. Lalu aku disuruh ambil barang terus untuk aku kirimkan sekalian ke jalan Perintis Km 10 memakai jasa pengiriman.” jelas Lisa.
Reaksi Vina malah semakin bingung. “Kediaman bos yang rumah kontrakannya itu kan? Jalan Cermai no.29?”
“Tepat sekali!” tegas si Lisa sambil menunjuk ke arah Vina.
“Tapi jalan Perintis Km 10? Bukankah itu alamat kedai makan ini?” terang Vina sekali lagi.
“Ha?” Lisa kelimpungan. Benar apa yang dikatakan Vina. Sayangnya, Lisa tidak pernah terpikirkan hal tersebut sebelumnya.
Beberapa pelanggan keburu datang. Lisa bergegas berganti seragam. Cepat-cepat ia membantu Vina dalam melaksanakan tanggung jawab pekerjaan keduanya sebagai pelayan resto.
Saat istirahat makan siang, keganjilan masih saja dirasakan mengganggu pikirannya. Lisa kemudian menceritakannya sekali lagi kepada Vina dan Desi, bagaimana urutan peristiwa yang dialami secara lebih detail.
“Anak kecil yang mana?” sahut Desi terkejut.
“Itu lho, anak laki-laki usianya sekitar lima tahun lah! Tapi masa sih ibunya pergi bersenang-senang tapi anaknya malah ditinggal sendiri di rumah? Bukankah nyonya Amanda itu seorang single parent?” ungkap Lisa.
Desi dan Vina bertukar pandang dengan kerutan pada dahi keduanya.
“Sa! Kamu tahu kan bos Amanda itu hanya memiliki satu anak?” tanya Vina dengan hati-hati.
“Tahu!” jawab Lisa dengan yakin.
“Tapi Lisa, anaknya itu sekarang sudah remaja dan dia seorang perempuan bukan laki-laki! Bahkan dia juga ikut pergi berlibur. Kan bos dapat dua tiket! Ungkapan tegas dari Desi hingga merinding Lisa dibuatnya.
Lalu siapa anak kecil yang ada di dalam rumah itu? Rasionalitas Lisa memberontak, mana mungkin ia melihat hantu di pagi yang secerah itu.
Suara piring pecah yang berasal dari dalam dapur terdengar oleh ketiga pegawai wanita yang tengah berkumpul di satu meja kasir.
“Permisi, ada paket untuk ibu Diaz Pertiwi!” ujar seorang kurir yang menghampiri meja kasir.
Lisa, Vina dan Desi langsunh menyadari kedatangan laki-laki dengan box di tangannya. Namun yang dirasa asing adalah seharusnya tidak ada seseorang yang bernama Diaz Pertiwi di tempat ini.
Seorang wanita seketika menerima paket dari si Kurir. “Iya, terima kasih! Kalau beliau sudah kembali akan segera saya sampaikan.” Kata Desi.
Setelah kurirnya pergi akhirnya Vina bertanya, “Siapa Diaz Pertiwi?”
“Hush, jangan keras-keras! Ini untuk bos Amanda. Nama aslinya itu Diaz. Tapi setelah bercerai dari suaminya, beliau mengganti namanya jadi Amanda Pertiwi.” Bisik Desi kepada Vina juga Lisa.
“Ternyata kamu tahu banyak ya tentang bos kita!” salut Vina.
Desi menjadi tidak percaya diri karenanya.
“Eh, tunggu dulu! Berarti ini paket yang aku kirimkan tadi pagi. Benar kan!” tutur Lisa setelah mencermati meski dari keadaan luarnya saja.
Mereka bertiga sepakat untuk menyimpan barang tersebut di ruangan lantai atas. Tidak ada yang berani membukanya sampai nyonya Amanda kembali dalam tiga sampai empat hari lagi.
Hari ini kedai makan sudah mulai ramai dikunjungi banyak orang. Satu rombongan anak SMA yang baru saja tiba, langsung memenuhi sisa meja yang masih kosong. Untung jumlah mereka juga tidak terlalu banyak, hanya empat orang. Akan tetapi obrolan dari mereka cukup mengganggu pelanggan lainnya.
Satu hal yang membuat Lisa tercengang adalah Ervan ketahuan bergabung di antara gurauan anak sekolahan. Ervan berdiri di sana dengan santai. Tampak keempat murid laki-laki juga sangat senang melihat keadaan Ervan yang ternyata baik-baik saja. Tanpa berlama-lama Ervan kemudian kembali masuk ke ruang dapur bersama pak Tomo untuk memenuhi menu pesanan lainnya.
Waktu yang sibuk hingga petang hari. Ervan mendapat giliran terakhir yang keluar setelah kedai makan tutup. Ia mengunci pintunya dan menyimpan kunci itu ke dalam saku celana.
“Eh! Belum pulang?” Ervan terkejut mendapati Lisa ada di hadapannya.
“Biasanya kamu juga menungguku kalau mau pulang!” jawaban Lisa yang membuat Ervan tersipu malu.
Mereka berdua kemudian pergi bersama-sama. Di dalam perjalanan itu, Lisa membuka rasa keingintahuannya. Ia penasaran mengapa Ervan bisa begitu akrab dengan beberapa pelanggan berusia remaja tadi. Jawabannya sangat jelas, ternyata Ervan pernah bekerja sebagai salah satu staf tata usaha di SMA milik sebuah yayasan tersebut. Ervan dikenal baik dan sangat bersahabat dengan para siswa ditambah lagi usia mereka juga tidak terpaut terlalu jauh. Mereka berinteraksi layaknya dengan teman sendiri. Lingkungan kerjanya sangat kondusif dan menyenangkan menurut cerita dari Ervan.
Tapi kalau memang benar begitu yang dirasakan, kenapa Ervan justru memilih untuk mengundurkan diri?.
“Aku tidak mengundurkan diri. Anggap saja aku keluar karena ingin mengikuti passion yang ada dalam diriku ini.” ujarnya.
“Aku juga berkeinginan menjadi seorang koki terbaik! Dan ku buktikan dengan terus belajar dan banyak berlatih di mana pun ada kesempatan.” Kata Ervan bersemangat.
“Tapi jika memang ingin jadi yang terbaik, seharusnya kamu memilih tempat terbaik pula? Ada banyak restoran berkelas yang bisa memperkerjakanmu. Kenapa justru menjadi juru masak untuk sebuah resto kecil-kecilan?” tukas Lisa cukup tajam.
Dengan mudahnya Ervan menjawab bahwa Amanda’s resto adalah tempat makan terbaik yang pernah ia temukan dan inilah tempat kerja terbaik bagi dirinya mungkin untuk selamanya.
Lisa tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Ervan tersebut. Sangat berlebihan bahkan cenderung menjadi sebuah kebohongan.
“Kamu bercanda?” sindir Lisa dalam hati.
“Terlebih karena aku bisa mengenalmu Lisa!” ungkap Ervan. “Tanpa disadari, kamulah yang menjadi alasan kenapa aku bisa berubah dan merasa jauh lebih baik sampai detik ini.”
Lisa tak mengerti. Apakah kalimat panjangnya tadi juga hanya ungkapan yang sangat berlebihan bahkan cenderung menjadi sebuah kebohongan bagi Lisa?. Perasaan dan sikap Ervan memang sulit untuk ditebak. Hampir-hampir kalimat itu membuat kedua pipi Lisa menjadi merah. Entah merasa malu, tersanjung atau justru ingin marah atas ucapannya yang dianggap tidak berdasar.
Lisa berusaha betul untuk tidak percaya dan membuang jauh kata-kata manis yang meracuni pikirannya. Lisa masih menganggap Ervan sebatas teman yang baru-baru ini dikenalnya.
“Kalau begitu kapan kamu mau ke rumahku?”. Pertanyaan Ervan menghapuskan lamunan seseorang.
Jantung Lisa berdebar-debar. Nada bicaranya meninggi, “Untuk apa aku harus ke rumahmu segala?”.
Dengan suara rendah Ervan menyinggung soal Lisa yang katanya ingin meminjam buku novel yang pernah sekali waktu dibacanya sebelum ada insiden kebakaran. Spontan Lisa menjawab, ia berjanji akan datang ke rumah Ervan pada hari libur besok. Ervan pun senang mendengar keputusan Lisa tersebut.
Menjelang tidur, Lisa merasa gelisah. Ia menyesal telah mengatakan suatu hal yang belum ia pikirkan dahulu dengan baik. Bertamu ke rumah Ervan, entah bagaimana pendapat keluarganya terhadap seorang Lisa. Atau bagaimana ia sendiri akan menyikapi jika terdapat banyak perbedaan yang fundamental? Atau mungkin terlalu jauh kah khayalan dari seseorang yang hanya ingin meminjam satu buah buku dari rumah seorang teman?.
Bukan kebutuhan yang mendesak untuk Lisa bisa mengetahui akhir cerita dalam novel tersebut. Meski masih penasaran, belum tentu juga Ervan memilikinya di antara ratusan koleksi buku fiksi yang ada.
Lisa menormalkan kembali perasaannya. Jangan sampai bayang-bayang Ervan terbawa ke dalam mimpinya malam ini.
Pada akhirnya Lisa pun melupakan paket yang masih menjadi misteri baginya. Memang kiriman itu ditujukan untuk ibu Diaz Pertiwi alias nyonya Amanda Pertiwi. Meski demikian, suatu saat Lisa hanya bisa menyesal karena namanya menjadi terseret dalam kasus pidana sejak bertahun-tahun silam.