Masa itu, saat pekan perayaan hari Nasional. Ervan berinisiatif membuka gerai buku dan terbuka untuk umum. Duduklah ia pada sebuah kursi dengan empat kaki kayu yang pendek. Ervan dengan keseriusan, menikmati kembali beberapa bacaan lama yang hanya akan tersimpan dalam memorinya. Mungkin saja seperti itu.
Sesekali ia menawari para pengunjung yang berseliweran di jalan menuju gedung museum tersebut. Tak banyak yang tertarik meski harga yang ditawarkan jauh lebih murah daripada yang ada di toko buku. Orang-orang hanya ramai berkumpul dan berbaris mengantre di depan gerai makanan hangat di sebelah lapak milik Ervan. Namun ia tidak ambil pusing.
Ervan, kala itu masih duduk di bangku SMA. Ia nekat berjualan buku untuk membayar biaya sekolahnya.
“Wow! Separuh harga?” kejut seorang pembeli. Ia menunjukkan harga yang tercantum pada cover belakang buku dengan label harga baru yang dibuat oleh Ervan si Penjual.
“Iya! Soalnya itu hanya novel dan sudah terbitan lama.“ jelasnya.
“Apa Anda tidak rugi nantinya? Tebal juga lho bukunya!”. Pembeli yang mana seorang gadis remaja itu seperti merasa kasihan.
Sedangkan Ervan sama sekali tak mempermasalahkan. “Kalau mau cari yang nyaris seharga, silakan pilih kategori non fiksi juga ada banyak kok!” candanya.
“Tidak usah, yang ini saja Kak!” pinta gadis itu sambil cengengesan.
Beberapa pembeli lainnya juga minta sang Penjual untuk melayani pembayaran mereka masing-masing. Setelah para pengunjung pergi, tiba-tiba ayah Ervan datang memberikan teguran keras padanya.
“Apa-apaan semua ini? Ervan! Sedang apa kamu di sini?” tanya sang Ayah dengan tegas.
Ervan tidak mudah untuk mengungkapkan keadaan sebenarnya. Sebelum pembubaran paksa itu terjadi, ayahnya menemukan sendiri bahwa tumpukan buku yang ada di sana adalah milik Ervan. Tanpa sepengetahuan sang Ayah, buku-buku itu diangkut dari salah satu ruangan di dalam rumah mereka.
Ayah Ervan yang sepulang dari tempat pemancingan langsung membuang alat pancing yang berada di tangannya. Tampak tak ada hasil tangkapan yang ia bawa pada hari libur kali ini.
“Pulang! Kemasi semuanya dan kembalikan ke tempat semula. Ayah tidak tahu sejak kapan kamu berani menjual semua buku yang telah ayah berikan.” gertak Ayah.
Anaknya memberikan alasan, “Ervan tahu kalau ayah sedang kesulitan keuangan karena juga harus membayar utang kepada rentenir! Jadi...”.
“Jangan kau sebut-sebut tentang penipu itu! Apa yang kamu tahu? Ayah bisa cari uang dan masih sanggup untuk membiayai kamu sekolah! Kamu fokus belajar saja yang benar!”
Ayahnya terus mendesak Ervan. Terpaksa ia pun mengikuti perintah dan membawa pulang seluruh barang dagangannya itu. Ervan kembali ke rumah beserta seluruh muatan dengan keranjang motor di kedua sisi. Sementara ayah Ervan pulang dengan berjalan kaki sembari membawa alat pancingnya karena jarak rumah yang cukup dekat.
Sesaat setelah kepergian Ervan, petugas ketertiban tiba di lokasi tersebut guna membubarkan lapak-lapak pedagang yang tidak memiliki ijin berjualan.
Menginjak usia remaja, Ervan sudah tinggal berdua dengan ayahnya. Ibunya bertahun-tahun menderita sakit hingga harus bolak-balik di bawa ke rumah sakit. Ayah Ervan pontang-panting mendapatkan dana untuk membayar perawatan serta pengobatan sang Istri. Mahalnya biaya rumah sakit tak cukup dengan mengandalkan gaji bulanan. Meski berstatus pegawai dinas di sebuah lembaga milik pemerintah tentu tidak sebanding dengan pegawai negeri yang bekerja di depan komputer maupun dinas lapangan.
Ayah Ervan sempat menemui jalan buntu hingga didapatkannya pinjaman rutin dari seorang kenalan. Pinjaman uang yang tidak membuahkan hasil positif itu justru menjerat dirinya berbulan-bulan bahkan setelah kematian ibu Ervan. Hidup dalam jerat utang seorang lintah darat seperti tidak ada habisnya. Terus membayar bunga dari bunga utang pokok belum termasuk denda keterlambatan.
Suatu hari, Ervan remaja pernah sekali berkunjung ke gedung perpustakaan kota. Betapa terkejut ia saat mengetahui ternyata ayahnya selama ini bekerja di sana sebagai seorang tenaga kebersihan. Seorang pegawai yang tidak dikenalnya memergoki Ervan.
“Ada yang bisa dibantu?”
Ervan masih terpaku. “Kamu kenal dengan bapak-bapak yang di sana itu?” tanya petugas perpustakaan tersebut.
“Iya. Dia ayah saya, Pak!” jawab Ervan remaja dengan polos.
“Oh! Jadi kamu anak si Pencuri itu!” pernyataannya memerahkan telinga si Anak. Hati Ervan remaja menjadi sesak sebab amarah yang seketika meledak.
Ayah Ervan segera menyadari kehadiran putranya di tempat itu lalu datang menghampiri.
“Mengapa kamu ke sini?” tanya Ayah.
Ervan remaja memberitahu kalau ia ingin mencari sebuah buku untuk dipinjam karena di perpustakaan sekolah tidak ada.
“Oh begitu! Bukan untuk menyaksikan sendiri bagaimana Bapaknya bisa memperoleh barang-barang yang bukan miliknya? Pasti buku-buku yang hilang itu sengaja kamu berikan untuk anakmu ini kan!” tukas orang yang berdiri dengan bertolak pinggang itu.
Ayah Ervan membantah tegas, “Saya bukan pencuri dan jangan pernah sekali-kali Anda menyinggung tentang anak Saya!”.
Dua laki-laki yang sama-sama berusia kepala empat itu terlibat dalam satu perkelahian kecil. Seorang security mencoba untuk mendamaikan. Sampai akhirnya tidak sengaja ayah Ervan mendorong lawannya hingga terjatuh dari lantai dua. Tubuh gempal itu terguling sepanjang anak tangga hingga menyentuh lantai dasar.
Ayah Ervan dipecat dari pekerjaannya.
Satu hari setelah insiden perkelahian, seorang staf perpustakaan yang lain mengaku kehilangan kas tunai berjumlah jutaan rupiah yang tersimpan dalam amplop coklat. Uang tersebut berasal dari donasi masyarakat dan pegawai kantor untuk pengadaan buku baru guna memaksimalkan event perpustakaan keliling yang mereka agendakan.
Tanpa basa-basi, petugas perpustakaan yang mengalami cedera pada kaki dan tangannya itu dengan keras menuduh ayah Ervan sebagai pelakunya. Semua yang mendengarnya tentu tidak mudah terbawa tuduhan berdasarkan amarah seperti itu. Sementara yang tertuduh pun sudah hampir dua hari tidak bekerja di sana lagi.
Tapi entah apa pun alasannya, hanya satu orang itu yang tetap memaksakan pendapatnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk mendatangi rumah mantan pegawai tersebut untuk dimintai keterangan.
Dua orang laki-laki memakai kemeja panjang datang bertamu ke rumah yang berada di kampung sebelah kompleks perkantoran. Ayah Ervan pun menyambut mereka karena sudah saling mengenal sebelumnya. Namun selanjutnya sang Tuan rumah tersebut justru naik pitam. Ia merasa dituduh telah mengambil uang yang bahkan tak sekalipun pernah dilihatnya. Ia tidak terima!
Tiba-tiba orang lain mengetuk pintu rumah yang ditinggali oleh Ervan beserta ayahnya tersebut.
“Selamat sore! Kami dari Kepolisian. Apakah benar ini kediaman bapak Hasan?” tanya salah seorang polisi yang datang.
“Benar! Saya Hasan.” jawab si Tuan rumah.
“Bapak silakan ikut kami ke kantor untuk dilakukan pemeriksaan! Kami menerima laporan dari seorang pegawai gedung perpustakaan kota bahwa Bapak diduga telah melakukan tindak pidana pencurian. Ini surat pemanggilan Anda!” penjelasan singkat dari polisi.
Refleks ayak Ervan langsung menoleh, tertuju pada dua orang yang tengah duduk di ruang tamu. Namun mereka mengaku tidak tahu-menahu perihal pelaporan ini.
Kemudian dua orang polisi masuk ke dalam rumah untuk mencari barang bukti. Entah bagaimana petugas itu menemukan segepok uang dengan amplop berwarna coklat dari dalam kamar pak Hasan.
Ervan yang baru pulang dari kelas tambahan sangat bingung tiba-tiba mendapati kejadian seperti ini. Ia tidak kuasa melawan polisi untuk tidak membawa ayahnya pergi bersama mereka.
Pak Hasan untuk sementara akan ditahan di rumah tahanan kepolisian daerah setempat. Ervan pun pergi mengunjungi sang Ayah.
Dalam keterbatasan waktu kunjungan itu, ayahnya bersumpah bahwa ia tidak pernah mengambil barang apa pun itu yang bukan miliknya. Mengenai buku-buku di perpustakaan itu bukan hilang tapi Kepala perpustakaan di sana meminta bantuan pak Hasan untuk memilihkan sendiri yang hendak didonasikan kepada yayasan anak yatim piatu. Hal tersebut dikarenakan Bapak kepala perpustakaan tahu bahwa ayah Ervan suka membelikan buku untuk anaknya bahkan hampir setiap hari. Jadi pak Hasan punya feeling tersendiri dan menilai mana bacaan terbaik layaknya saat ia memilihkan hadiah untuk anak-anaknya sendiri.
Meski hanya bekerja sebagai tukang bersih-bersih, pak Hasan sangat dipercaya oleh bapak Kepala perpustakaan. Namun sayang ikhtiar demi kepentingan sosial tersebut dicederai oleh kedengkian yang ada pada diri pegawai lain.
Juga mengenai uang itu, ayah Ervan sama sekali tak tahu ada amplop di dalam tas selempang yang selalu ditinggalkannya di dalam loker saat bekerja. Bahkan setelah hari ia dipecat, pak Hasan tak pernah lagi menyentuh tas yang langsung ditaruh di atas lemari pakaian. Biasanya hanya berisikan sisir, parfum, handphone jaman dulu dan dompet miliknya sendiri. Kebetulan sejak tiga hari lalu pak Hasan selalu menyimpan dompetnya di saku celana dan hp sengaja ditinggal di rumah agar tak tahu jika dihubungi oleh si Rentenir.
“Ervan percaya dengan Ayah. Jadi Ervan mohon Ayah untuk tetap bersabar dan tenang agar kesehatan Ayah juga terjaga!” pinta Ervan yang baru tahu jika sejak diperiksa, ayahnya tidak mau makan atau minum.
Sering sekali pak Hasan terbatuk saat bercerita kepada anak semata wayangnya itu. Namun mau diminta bagaimana pun, Ervan sadar dengan karakter ayah yang tegas dan keras kepala memegang teguh prinsipnya sendiri.
Takdir berkata lain. Belum sampai proses persidangan, pak Hasan meninggal di dalam sel tahanan. Kesehatannya terus memburuk sejak hari pertama dilakukan penahanan. Ervan tak sanggup dengan rasa penyesalan. Seperti keyakinan sang Ayah bahwa kejahatan ini adalah sebuah rekayasa. Ervan ingin berusaha keras untuk menemukan pelaku sebenarnya.
Ia pun memutuskan untuk mendatangi lagi bekas tempat ayahnya bekerja selama bertahun-tahun. Tanpa direncana, Ervan bertemu laki-laki dengan tangan dan kaki yang masih dibalut perban. Petugas perpustakaan yang pernah bersitegang itu tengah menghitung lembaran-lembaran uang kertas seratus ribuan di atas meja.
Ia sama sekali tak terkejut dengan kehadiran Ervan di sana. “Mau apa lagi kamu ke sini? Kasus ayahmu sudah ditutup, kan!” Singgung pak Arya, nama petugas perpustakaan itu.
“Bagaimana bisa pelakunya belum dipidana tapi kasusnya dianggap sudah selesai?” gertak Ervan.
Pak Arya mulai bereaksi, ia sampai berdiri dari tempat duduknya. “Kamu ini tidak pernah diajarkan sopan santun sama orang tua, iya? Lagi pula sekarang Ayahmu sudah mati terus penuntut umum juga mau membuat dakwaan terhadap siapa? Ha? Mengerti tidak?”.
Ervan terus mendesak pak Arya untuk menunjukkan siapa saja yang mau bersaksi jika benar semua tuduhan yang diarahkan kepada ayahnya. Pak Arya hanya bisa berkelit dan mencari alasan subjektif dari apa-apa yang dipertanyakan Ervan.
Nyaris wajah pria yang telah mengalami cedera tulang itu dihantam bogem mentah. Secepatnya security beserta beberapa pegawai yang ada di lantai satu menjauhkan kedua pihak bertikai.
Ervan pun diusir dari dalam gedung milik pemerintah tersebut lalu meneriaki orang di dalam sana. “Tidak seharusnya semua kesalahpahaman dan tipu daya ini dibayar dengan kematian Ayah saya!”
Tubuh Ervan sampai terjatuh di tanah, didorong oleh security karena ia terus saja membuat keributan. Kacamata yang dibelikan ayah pun jatuh dan patah terinjak.
Ervan terus melanjutkan hidupnya meski memiliki satu dendam yang belum terbalas.