Semua karyawan di sana menyukainya. Namun pelanggan baru itu ternyata lebih menaruh hati kepada Lisa.
Niko, begitu sapaannya sejak pertama kali datang ke Amanda’s resto. Ia seperti keluarga dekat bagi mereka. Pria yang sebentar lagi berusia 30 tahun itu tak malu-malu untuk memperkenalkan diri. Niko adalah anak dari pemilik rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal nyonya Amanda beserta sang Putri. Kebetulan ia baru pulang setelah menyelesaikan studi di luar negeri. Sebagai penghargaan kepada penghuni kontrakan, Niko sengaja meluangkan waktunya untuk menikmati makanan di usaha milik Amanda.
Rasa penasaran mulai mengusik seseorang. Sembari menikmati waktu istirahat, Desi menyapa Niko yang duduk sendiri di meja pelanggan. Ia bertanya tentang bagaimana Niko bisa kuliah sampai ke luar negeri, bagaimana kehidupan di sana dan gelar apa yang telah diraih. Desi tak bisa menyembunyikan semua rasa kekagumannya. Namun si pria justru merasa tidak nyaman dan mulai mencari alasan untuk menghindar. Ia pergi mendekati Lisa yang masih sibuk bekerja sendirian.
“Tidak istirahat?” tanya Niko.
Tanpa melihat siapa yang bertanya Lisa langsung menjawab. “Sebentar lagi! Kamu makan duluan saja, Van!”
Tak sengaja menoleh, Lisa terperanjat. Keduanya tertawa kecil menatap satu sama lain. Lisa meminta maaf karena tidak menyadari ternyata Niko yang mendatangi dirinya. Ia menawarkan bantuan tapi Lisa beralasan kalau pekerjaannya sebentar lagi sudah selesai. Cepat saja Lisa membuktikan ucapan itu.
“Kalau akhir pekan kamu ada waktu? Boleh saya memintamu untuk menemani jalan-jalan di sekitar kota ini saja! Sudah lama saya tak mengenal lingkungan di sini.” Niko memohon.
Karena merasa tidak enak dengan bosnya, Lisa pun mengiyakan permintaan tersebut. Niko tampak sangat lega mendengarnya. Ia pun banyak berbagi cerita dan pengalaman saat berada di luar negeri kepada Lisa. Ervan yang sedari tadi mengamati dari jendela dapur menjadi tidak suka melihat kedekatan di antara Niko dan Lisa. Segera Ervan mengelap tangannya yang basah dengan serbet lalu mengambil sebuah minuman kaleng dari dalam lemari pendingin.
“Saya rasa minuman gratis bisa menyenangkan hati pelanggan kami!” kata Ervan sambil memberikan kaleng minumannya.
Niko menerima pemberian Ervan, ia tersenyum tapi tampak tak terlalu senang. “Terima kasih!” ujarnya.
“Bukankah kamu belum makan Lisa? Sebentar lagi waktu istirahat sudah habis.” Ervan mengingatkan.
“Oh, iya! Aku sampai lupa. Maaf kak Niko, saya tinggal dulu!” pamit Lisa.
“Tidak perlu meminta maaf! Saya pikir pelanggan baru kita ini yang harus berpamitan terlebih dahulu. Sudah setengah hari penuh dia berada di sini, bukan?” Kalimat dari Ervan menyindir kenalan bosnya tersebut.
Niko menangkap maksud pembicaraan dan berpura-pura membenarkan apa yang telah dikatakan Ervan. Akhirnya ia pergi setelah berpamitan dengan pemilik kedai dan semua karyawan di sana dan berjanji akan menjadi pelanggan tetap mereka. Teruntuk Lisa, Niko mengingatkan janjinya untuk bertemu lagi di akhir pekan.
Desi yang sangat tertarik dengan pribadi Niko mulai bergeliat mencari informasi terpercaya.
“Lisa! Kamu benar diajak jalan-jalan oleh kak Niko? Bagaimana bisa sih!” tanya Desi penasaran.
“Mau bagaimana lagi, Des! Aku tidak enak kalau menolaknya. Apalagi dia juga kenal baik dengan bos kita!” jawab si Lisa.
Desi merasa kecewa kenapa bukan dirinya saja yang dimintai tolong. Vina lalu ikut-ikutan berbicara. “Dia memang dikenal baik oleh bu Amanda. Tapi kita kan baru saja mengenalnya, jadi jangan terlalu tak enak hati juga! Kita tidak tahu niat dalam hati seseorang.”
“Tapi kalau aku sih yakin kak Niko orangnya baik. Dia tidak mungkin bermaksud buruk, Lisa!” bela si Desi.
Segala pertimbangan tergantung pada Lisa. Akan tetapi dia juga terlanjur membuat janji. Keraguan itu memudar dengan kedatangan seorang pelanggan lama bersama keluarga kecilnya. Pak Lukman, pelanggan yang berkunjung beberapa waktu lalu itu kini membawa putra pertama, istri beserta bayi kecilnya. Suasana di dalam kedai berubah menjadi penuh canda dan kehangatan. Pak Tomo juga turut bersemangat membuatkan masakan terenak sebagai bentuk hadiah.
Mungkin karena perasaan Lisa yang sensitif, tapi dilihatnya pak Tomo itu seolah menahan rasa haru di depan pintu. Tampak kemudian beliau berjalan ke belakang, masuk lagi ke dapur. Sapu tangan menghapus air matanya yang menetes begitu saja. Ada apa dengan pak Tomo? Lelaki yang sudah lanjut usia tersebut tiba-tiba duduk jongkok menghadap lemari dapur sambil menangis sesenggukan.
Lisa mencoba untuk menemui. “Pak Tomo!” tegur Lisa dengan lembut.
Segera tangan keriput itu menyimpan kembali potongan kain ke dalam saku celemek koki yang dikenakan. Pak Tomo membuka lemari penyimpanan seolah mencari bumbu dapur yang tak kunjung ia dapatkan. Membuat alasan stoknya sudah habis lalu meminta Lisa untuk menyampaikan kepada atasan. Pak Tomo bertahan dengan posisinya sampai Lisa pergi membiarkan ia sendiri.
Setelah beberapa saat lamanya, Lisa kembali. Pak Tomo yang tengah memotong beragam jenis sayuran langsung bertanya bagaimana jawaban dari nyonya Amanda. Tetapi Lisa justru memberi kabar bahwa pak Lukman ingin bertemu dengannya sebagai pribadi. Bergegas pak Tomo mempersiapkan diri dengan baik dan terlihat bersih.
Dua wajah yang ramah itu saling menyapa sehingga menebarkan nuansa ketenangan bagi orang-orang di sekitar mereka. Hingga akhirnya, pak Lukman menyampaikan maksud kedatangannya pada hari ini. Kepala keluarga tersebut mengungkapkan kalau mereka akan pindah rumah dan ini kesempatan terakhirnya bisa mampir ke kedai makan tersebut. Ia senang bisa merasakan kelezatan masakan dan mengenal orang-orang yang ada di sana. Dengan segala ketulusan, pak Lukman beserta istri mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua. Terlebih untuk pak Tomo, menghadirkan makanan yang selalu bisa disukai bagi lidah anak dan istrinya. Amanda’s resto adalah bagian terindah dari perjalanan kehidupan pak Lukman. Kedai makan yang dulunya masih berupa ruko itu menjadi saksi perjuangan seorang Lukman, dari tunawisma menjadi seorang pengusaha kerajinan kayu yang mana produknya sudah terjual hingga ke luar negeri. Dan pak Tomo adalah orang yang paling diingatnya sebagai sosok yang ikhlas. Pak Lukman mengingat dengan jelas saat ia diberi satu kantong plastik penuh berisi roti di saat ia sudah tidak bisa makan selama lima hari.
Kali ini pak Tomo tidak sanggup lagi menahan kesedihannya. Di hadapan semua orang, air mata itu mengucur deras. Luapan emosi atas dasar kasih sayang membuat Lisa, Vina, Desi dan juga nyonya Amanda ikut merasakan keharuan yang nyata. Akhirnya saat perpisahan pun tiba. Hanya doa kebaikan dan kebahagiaan yang menjadi harapan bagi keluarga pak Lukman seterusnya. Kedua pihak melambaikan tangan mengiringi kepergian menuju satu perjalanan baru yang jauh nan panjang. Meski sangat lama, semuanya masih berharap bisa berjumpa kembali di waktu mendatang. Bayinya yang tertidur tiba-tiba tersenyum seolah ikut mengaminkan.
Orang-orang di Amanda’s resto kembali bekerja. Suasana hati semakin tenang meski ramai kendaraan yang berlalu-lalang hendak menyambut malam. Tapi ke mana Ervan? Setelah kepulangan Niko tadi siang, tidak terlihat lagi batang hidungnya. Sepertinya Ervan tak diketahui akan meminta izin untuk pulang lebih awal. Lisa mulai mencari ke seluruh ruangan. Bertanya ia pada kawan-kawan tapi yang lain juga baru sadar jika Ervan tidak ada di sana. Begitu juga dengan pak Tomo, beliau juga merasa ada yang hilang saat bekerja di dapur sendirian.
Apa Ervan sengaja membolos dari jam kerja? Tapi ia belum genap sebulan berada di sana. Apalagi bos mereka juga baru saja kembali rutin mengawasi dari ruang kantor pribadinya. Mengapa Ervan bisa menghilang begitu saja tanpa memberitahu siapapun yang ada di sana? Sungguh anehkah perbuatan Ervan bagi seorang Lisa?
Lisa tidak ingin terlalu tahu tapi hatinya merasa sangat terganggu. Ia pun mencoba untuk bertanya langsung kepada bos di tempat itu. Lisa mencari di ruang kerja bu Amanda, tidak ada. Ia naik ke ruangan di lantai atas, juga tidak ditemukan. Lisa pergi ke dapur, gudang, toilet, bahkan ke tempat penyewaan tenda di seberang jalan tak juga mereka bersua. Sekarang nyonya Amanda ikut menghilang. Kemana dua orang tersebut?
Tahu-tahu, bos wanita yang dicari sedang duduk santai pada kursi panjang di depan kedai makan miliknya. Lisa spontan memprotes keberadaan bos pada kesempatan sebelumnya lalu mengatakan alasan kenapa mencari-cari nyonya Amanda.
“Bos tahu di mana Ervan sekarang? Soalnya dari tadi siang dia tidak kelihatan! Kasihan pak Tomo kerepotan sekali harus memasak sendirian! Mana sebentar lagi sudah malam, kedai mau tutup, piring, gelas dan alat masak belum dicuci. Siapa lagi yang mau bantu-bantu coba?” curhat Lisa.
Bos Amanda justru bertanya-tanya. “Wait! Tunggu dulu, Lisa! Apa yang kamu bilang tadi? Ervan? Ervan siapa?”