Guratan di wajahnya telah menandakan usia yang tak lagi muda. Jauh sebelum nyonya Amanda datang ke kota tersebut, lokasi kedai makan adalah tempat pak Tomo dan istri menjalankan usaha toko roti. Setiap hari pak Tomo berada di dapur menguleni adonan hingga memasukkan roti isi ke dalam pemanggang. Sementara istrinya khusus melayani bagian penjualan. Usaha itu hanya dijalankan oleh dua orang, jika sedang ramai-ramainya terkadang dibantu putra tunggal mereka.
Namun karena krisis ekonomi melanda, sepasang suami istri tersebut tidak mampu lagi untuk membayar uang sewa bahkan sangat sulit untuk bisa balik modal. Mereka terus merugi dan terpaksa menutup usahanya. Pada saat seperti itu, Amanda datang menawarkan solusi kepada pak Tomo. Ia akan membeli tanah dan ruko dari si Pemilik. Sebagai gantinya pak Tomo diminta menjadi juru masak di tempat usaha yang akan dirintis oleh Amanda. Bukan sebagai toko roti melainkan rumah makan yang menyajikan beragam menu masakan dan dijanjikan bayaran yang sepadan. Cukup sulit bagi pak Tomo untuk memutuskan sebab keahliannya selama ini hanyalah membuat roti. Ia belum bisa menerima tawaran bagus seperti itu.
Lahan usaha yang strategis tetap dibeli oleh Amanda dengan sedikit saja melakukan renovasi seperti menambah jumlah meja dan kursi. Sementara di luar sana pak Tomo dengan ulet belajar, bagaimana mengolah aneka resep masakan agar cocok untuk lidah semua orang. Namun dalam upaya besarnya itu, istri beliau justru tutup usia dikarenakan jatuh sakit. Pak Tomo baru kembali setelah satu setengah tahun Amanda’s resto berdiri.
Sudah tiga hari pak Tomo tidak masuk. Untung masih ada Ervan yang menggantikan peran sang Koki. Bos Amanda ternyata belum tahu nama karyawan baru itu sampai Lisa menanyakannya secara langsung.
Tanpa kabar juga tanpa ada yang tahu di mana rumah pak Tomo. Nomor pun tidak ada yang bisa dihubungi. Mereka lalu mengandalkan Lisa yang mengaku pernah bertemu saat pak Tomo menjemput cucunya di sebuah taman kanak-kanak. Nina, begitu panggil si Kakek untuk mengajaknya pulang.
Setelah bekerja selama setengah hari, Lisa diminta bu Amanda untuk mencari tahu alamat kediaman murid TK tersebut. Lisa pergi sendirian, ia sudah memikirkan bahwa anak-anak pasti sudah dijemput pulang. Tujuannya bukan lagi untuk menemukan Nina, tapi siapa pun gurunya yang memiliki daftar alamat sang Murid.
Sampai di sekolahnya, Lisa mencoba masuk ke area halaman yang banyak alat permainan outdoor untuk anak-anak. Ia langsung mencari di mana letak ruang guru berada. Namun ada seorang ibu yang baru saja keluar dari salah satu pintu ruangan. Tampak dari pakaiannya bahwa beliau adalah salah satu tenaga pendidik yang ada di sana.
Lisa mengucapkan salam untuk memberikan rasa hormat lalu merangkai kalimatnya agar terdengar lebih sopan. Ternyata ibu Guru tersebut menanggapi permintaan Lisa dengan tangan terbuka. Akhirnya alamat Nina berhasil didapatkan. Lisa berterima kasih dan sangat berharap bahwa pak Tomo juga tinggal serumah dengan cucu kesayangannya itu.
Sampai di pertigaan jalan, Lisa mengambil belokan ke arah kanan. Dari ujung penglihatannya, tampak seorang pria tua yang tengah sekotak pensil warna. Terasa melegakan bisa mengetahui kondisi pak Tomo yang terlihat sehat seperti biasa. Namun dugaan itu ternyata salah.
Ayahnya Nina baru pulang dari hutan bambu, agak jauh di belakang rumah mereka. Ia datang menemui Lisa dan menceritakan hal-hal berkaitan dengan kesehatan sang Ayah. Beberapa hari pak Tomo telah merasakan sakit pada kaki-kakinya. Entah lelah karena terlalu lama berdiri saat kerja, mungkin juga faktor kebugaran tubuh yang memang sudah menurun. Mereka belum membawanya ke dokter. Pak Tomo tidak bersedia dan hanya mengobati sakit itu dengan cara dipijat.
Pak Tomo mengaku masih bisa bekerja dengan kedua tangannya tapi sementara ini ia tetap disarankan untuk beristirahat di rumah. Orang tua itu sempat bersikeras ingin berangkat ke tempat kerja tapi anaknya juga bersikukuh dengan pendapat yang dimiliki. Semua demi kebaikan pak Tomo sendiri. Pada kesempatan itu putranya memohonkan izin cuti melalui Lisa sebab tidak bisa menyempatkan diri datang menemui atasan mereka. Lisa memaklumi alasan pribadi tersebut. Ia pun memberikan buah tangan yang menjadi titipan nyonya Amanda untuk sang Juru masak andalannya. Tapi kasihan, uangnya diambil dari dalam dompet Lisa sendiri.
Saat ayah Nina masuk ke dalam rumah, pak Tomo memanfaatkan kesempatan untuk mengutarakan pikirannya. Meskipun sedikit, beliau ingin membantu perekonomian keluarga dari anak semata wayangnya tersebut. Setelah ditinggal oleh sang Istri pak Tomo hanya berpikir untuk siapa lagi ia bisa berbuat selain untuk sang Anak. Terlebih kepada cucu perempuan yang kini sedang tidur siang di dalam kamarnya. Bak putri tidur, ia ingin dibangunkan oleh kejutan spesial di hari ulang tahunnya. Baik itu dari ayah, ibu maupun kakeknya.
“Hore! Aku dapat hadiah!”
Begitu ucapannya setiap kali mengigau saat tertidur lelap. Gadis kecil yang akan genap berusia lima itu ingin sekali bisa mendapatkan hadiah tahun ini. Itulah yang memotivasi pak Tomo untuk tetap bekerja paling tidak sampai pada tanggal lahir Nina yakni delapan hari lagi. Ia meminta waktu satu hari lagi untuk kembali sehat. Lisa memintanya untuk tidak memaksakan diri. Bos pasti juga mengerti. Namun pak Tomo tetap berpegang pada janji yang diucapkannya.
Tak disangka cara berjalannya lebih bergaya dari hari-hari biasa. Pria tua itu datang untuk menunaikan kembali tugasnya sebagai koki ternama di dapur nostalgia milik Amanda. Pak Tomo sangat ingin memperlihatkan bahwa dirinya kini sudah benar-benar sehat. Sekadar ucapan selamat datang seraya menambah raut kegembiraan.
Hari demi hari dilewati dengan sangat baik. Tibalah penantian si Kakek untuk membelikan kado kepada sang Cucu. Ia sudah memikirkan hadiah apa yang akan diberikan. Pak Tomo menerima gajinya secara tunai seperti permintaannya sejak awal. Khusus hari ini ia pun diizinkan untuk pulang lebih awal. Namun sebelum berhasil mencapai pintu keluar, tiba-tiba bos Amanda mencegah kepergiannya.
Seorang kakek yang ingin merayakan pesta ulang tahun cucunya tak beranjak dari tempat berdiri sampai akhirnya nyonya Amanda keluar ruangan dengan membawakan sesuatu. Satu buket bunga penuh warna nan indah menyegarkan mata untuk gadis kecil yang berbahagia. Tak ada yang mengira bos yang selalu perhitungan itu bisa bersikap manis juga. Pak Tomo pulang dengan rasa syukur meski mungkin akan kerepotan dengan buket berukuran besar itu.
Tega betul jika nyonya Amanda membelikan buket bunga yang mahal itu dari memotong gaji yang diterima pak Tomo.
“Tentu tidak, Vina! Saya juga masih bisa jadi orang baik lho! Untung saja kiriman dari Melinda itu saya simpan dengan baik.” ungkap nyonya Amanda.
“Jadi yang tadi itu, sebenarnya juga hadiah dari teman?” geram Vina yang sangat gemas dengan perilaku bosnya. Lisa dan Desi berbisik-bisik, mengendalikan Vina yang sedang emosi.
“Tenang-tenang, nanti semua juga dapat bagian! Jangan bertengkar ya?” pesan si Bos kepada para karyawan.
Bos segera kembali masuk ke ruang pribadinya. Nyaris rambut sasakan itu dijambak oleh jari-jari tangan Lisa yang panjang. Lisa berhasil menanganinya dengan sangat baik dan pada waktu yang tepat. Desi pun mengingatkan bahwa nyonya Amanda tetaplah atasan mereka semua. Vina pun menyerah dengan nasib sebagai seorang bawahan.
Ervan yang melihat kehebohan dari ketiga wanita single tersebut tak mampu menahan tawa yang keluar dari mulutnya. Namun rasa lucu seketika hilang begitu ia menyadari Niko kembali datang. Ia tiba-tiba saja membicarakan hal yang tak melibatkan dirinya sejak awal.
“Apa benar pak Tomo sudah boleh pulang?” tanya Niko untuk memastikan. “Kebetulan tadi saya bertemu di toko lalu sekalian saya antar beliau dengan mobil agar cepat sampai ke rumah.”
“Wah, pasti pak Tomo mengalami kesulitan ya? Terima kasih kak Niko, baik sekali sudah mau membantu!” puji Desi.
Niko menjelaskan. “Itu bukan apa-apa kok! Tadi beliau membeli boneka yang paling besar sebagai hadiah untuk cucunya.”
“Iya. Keluarga pak Tomo mau merayakan ulang tahun Nina sore ini.” Vina menambahi.
Niko kemudian menanyakan keberadaan Lisa. Desi menjadi terkejut, tiba-tiba Lisa tidak ada bersama mereka.
“Kami sedang sibuk. Kalau Anda hanya ingin mencari seseorang jangan pergi ke tempat ini!” teguran pertama Ervan setelah keluar dari dapur itu.
Sejak pertemuan siang lalu, Ervan selalu menunjukkan ketidaksukaannya. Padahal waktu pertama kali berkenalan, mereka semua sangat terbuka dan menghargai tamu tak terduga seperti Niko. Termasuk Ervan. Namun sekarang dirinya justru secara tidak langsung berusaha untuk mengusir Niko dari sana.
Niko celingukan, ia menyaksikan tidak ada pelanggan yang datang ataupun makan di tempat.
“Kalau begitu saya akan pesan makanan dulu!” katanya.
Sebelum Ervan bertambah emosi, Lisa buru-buru datang setelah mengambil ponsel pintarnya dari ruangan di lantai atas. Ia kelupaan untuk melepas charger pengisi daya itu. Setelah melihat Lisa, Niko membatalkan pesanannya.
Ia berjalan lalu sengaja merebut ponsel itu dari tangan Lisa. Menambahkan nomor kontak dan melakukan satu panggilan keluar. Tanpa satu kata, Niko langsung pergi bersama dengan bunyi dering dari smartphone miliknya. Panggilan diterima. Lisa mendengarkan suara bahwa Niko datang untuk menagih janjinya.
Tapi mengapa ia baru datang sekarang padahal semua orang tahu hari ini belumlah libur akhir pekan. Lisa sadar minggu lalu telah terlewatkan. Padahal ia juga sudah menunggu di depan kedai makan, tapi saat itu Niko tidak kunjung datang. Apa Niko sudah mulai mempermainkan Lisa? Mungkinkah ini tanda kebenaran dari apa yang pernah Vina katakan? Hanya Ervan yang tahu kebenaran di balik topeng keramahan itu.
Ia bisa saja melabrak Niko di pinggir jalan raya seperti waktu itu. Suara kendaraan cukup menyamarkan pergulatan kata di antara dua pemuda yang telah mengetahui takdir buruk dari pertemuan mereka. Ervan harus tetap berada di dapur karena pak Tomo sudah tidak ada. Sementara para pelanggan juga sudah kembali datang dan memesan menu makanan. Ervan tertahan dengan tugas yang diemban.
Lisa sendiri tidak tahu apa telah terjadi antara Ervan dan Niko. Ia pikir ini sesuatu yang tidak ada hubungannya antara pelanggan dengan karyawan. Kalau begitu, sakit kah Lisa jika tahu dirinya hanya akan dijadikan korban?