Aroma kertas tua, debu halus yang menari di bawah bias cahaya sore, dan keheningan yang pekat menyambut Binar saat langkah kakinya menelusuri lorong paling ujung di lantai tiga perpustakaan kampus.
Di balik meja baca kayu jati yang terletak tepat di dekat jendela besar, seorang pria duduk dengan postur tegap. Kemeja putihnya tergulung sebatas siku, memperlihatkan lengan kokoh berurat dengan jam tangan hitam melingkar di pergelangan tangannya. Jemarinya mengetuk permukaan meja secara teratur, menciptakan bunyi ketukan ritmis yang beradu dengan debar jantung Binar yang kian tak karuan.
Itu dia. Pak Arya. Dosen paling galak dan dingin di kampus yang dijuluki oleh para mahasiswa sebagai Bad Professor.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Binar mendekap map merah berisi draf proposal skripsinya erat-erat. "Selamat siang... Pak Arya," sapa Binar dengan suara yang diusahakan setenang mungkin.
Pria itu menghentikan ketukan penanya, bersandar santai pada kursi, lalu menatap Binar dingin. "Kamu mengganggu waktu baca saya," ucap Arya datar.
"Maaf, Pak. Tapi saya... saya butuh bantuan Bapak. Saya ingin mengajukan Pak Arya sebagai dosen pembimbing skripsi saya."
Alih-alih menolak atau mempertanyakan judul skripsinya, Arya justru bersedekap. Pandangannya perlahan bergerak turun, meneliti Binar dari ujung kepala hingga sepasang sepatu kets kusam di kaki gadis itu.
"Di mana kamu tinggal, siapa orang tuamu, dan... apakah kamu sedang butuh uang?" tanya Arya tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Binar tersinggung, tapi dia tidak berani membentak ataupun memaki Arya atas pertanyaan kurang ajarnya itu. Binar justru berpikir, dosen galak itu sengaja memberinya pertanyaan yang aneh agar Binar menyerah dan tidak mengganggunya lagi. Karena seperti yang semua orang tahu, pak Arya adalah Dosen yang suka ketenangan dan tidak suka gangguan. Binar tidak mau menyerah, Arya adalah satu-satunya Dosen yang bisa membantunya sebagai pembimbing Skripsi.
"Saya tinggal di Suka Sari pak, sepuluh menit dari kampus. Ibu saya namanya Sari dan ayah saya namanya Dedi Dewanto. Lalu masalah uang, saya memang membutuhkan uang pak. Semua orang butuh uang dan saya juga orang jadi saya pasti butuh uang. Namun saya mendatangi bapak bukan untuk minta uang, tapi minta bapak jadi Dosen Pembimbing saya." balas Binar dengan berani. Wajahnya terlihat sangat teguh dan bersemengat, seperti seorang pahlawan yang siap menumpas musuh. Dan wajah itu di mata Arya justru terlihat sangat menggemaskan.
Melihat keberanian gadis itu, Arya bangkit, berdiri menjulang dengan tinggi lebih dari seratus delapan puluh kemudian melangkah dengan berani ke arah Binar dan memojokkan gadis itu hingga punggungnya menempel pada rak buku kayu tebal. Aroma maskulin bercampur citrus dari tubuh Arya mengurung Binar sepenuhnya. Tidak ada reaksi apapun yang terjadi pada tubuh Arya ketika berada dengan jarak sedekat itu dengan Binar, karena itu dari bibirnya muncul sebuah seringai yang membuat bulu kuduk Binar berdiri.
"Kamu ingin saya menjadi pembimbing skripsimu?" bisik Arya rendah di dekat telinganya. Binar mengangguk dengan ekspresi tertekan. Deru napas Arya terasa di dekat telinganya dan membuat Binar merinding sekaligus menyalakan alarm bahaya di dalam kepalanya.
"Boleh, tapi ada syaratnya." ucap Arya dengan senyuman licik.
"A-apa pak Syaratnya?" tanya Binar terbata. Dia memang ketakutan, tapi saat ini yang bisa menyelamatkannya hanya Arya, karena itu Binar berpikir harus nekad menghadapi Dosen yang terkenal berkelakuan buruk itu.
"Menikah dengan saya! Jadi istri kontrak saja. Maka saya akan memastikan kamu lulus tepat waktu dan mendapatkan nilai yang bagus. Bagaimana Binar? Apakah tawaran saya menarik?"
Binar membeku, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Alasan Binar mendatangi Arya memang sangat terdesak. Ia ditolak oleh banyak dosen pembimbing akibat fitnah kejam dari Rian, dosen terkenal yang dendam karena cintanya ditolak oleh Binar. Rian menyebarkan rumor bahwa Binar adalah mahasiswi nakal dan pemalas. Tak hanya itu, Rian memanfaatkan orang tua Binar yang sedang terlilit utang ratusan juta agar mau menikahkan Binar dengannya. Ayah Binar memberi syarat: Binar bebas dari perjodohan Rian jika ia berhasil lulus tepat waktu. Mengetahui hal itu, Rian sengaja memfitnah Binar di kampus agar ia gagal lulus. Pak Arya adalah satu-satunya dosen yang tidak terpengaruh oleh gosip Rian. Karena itu Binar berusaha mendapaykan laki-laki itu sebagai pembimbingnya.
Di sisi lain, Arya sebenarnya adalah Reigha Setyo Aji, putra keluarga konglomerat di Jakarta yang melarikan diri ke Jogja demi menghindari fitnah kejam dari mantan mahasiswanya yang mengaku dihamili olehnya. Arya membutuhkan pernikahan demi menghapus jejak pelariannya yang kemungkinan akan mudah terbaca oleh keluarganya di jakarta. Selain itu dia juga membutuhkan pernikahan dengan penduduk asli Jogja demi kelancaran sebuah bisnis yang hendak dia mulai di Jogja. Dan jika Binar setuju, syarat pernikahan yang diajukan oleh Arya akan menguntungkan keduanya. Namun melihat ekspresi takut Binar, Arya tidak berpikir gadis belia itu akan menyetujui syarat gilanya.
Kembali ke pojok perpustakaan, Binar menatap dosen di depannya dengan mata membelalak penuh amarah dan napas memburu.
"Dasar Dosen gila!" maki Binar dengan wajah memerah padam.
Tanpa membuang waktu, Binar mendorong d**a Arya sekuat tenaga lalu berlari sekencang-kencangnya membelah lorong perpustakaan dengan umpatan kasar yang samar-samar keluar dari bibirnya.
Di tempatnya berdiri, Arya tidak marah. Sudut bibirnya justru terangkat tipis. Laki-laki itu terkekeh pelan melihat reaksi Binar—berpikir eskpresi Binar saat memakinya sangat menggemaskan.
Sepeninggalkan Binar, Gibran yang sejak tadi ada di lorong sebelah akhirnya keluar dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan gila sahabatnya. "Dia pasti ketakutan kalau cara lo memintanya menikah kaya orang b******k gitu, Ga." ucap Gibran sambil menjatuhkan diri di kursi yang ada disana.
"Gue juga nggak berpikir dia bakalan setuju." balas Reigha sambil terkekeh. Tapi Reigha tidak tahu bahwa tiga hari kemudian, Binar akan benar-benar mendatanginya ke ruang Dosen dan menyetujui syarat gilanya.