Binar duduk termangu di tepi ranjang kosnya yang sempit. Tatapannya kosong menerawang ke arah dinding kamar bertembok cat putih kusam yang dihiasi beberapa lembar kertas jadwal kuliah. Sudah berjam-jam berlalu sejak insiden menegangkan di lantai tiga perpustakaan kampus tadi sore, tetapi detak jantung Binar masih belum sepenuhnya kembali normal. Hawa dingin dari pendingin ruangan yang berdesung pelan sama sekali tidak mampu mendinginkan kepalanya yang terasa mendidih.
Persyaratan dari Pak Arya—dosen paling kaku dan ditakuti se-universitas—terus berputar-putar di dalam benaknya bak rekaman rusak.
Menikahlah dengan saya. Jadilah istri kontrak saya.
Gila. Pria itu benar-benar gila. Siapa yang menawarkan pernikahan sebagai pembayaran untuk bimbingan skripsi? Rasanya sama sekali tidak masuk akal. Namun, sekeras apa pun Binar mencoba menepis tawaran tersebut sebagai gurauan tak berbobot, logika kecil di sudut kepalanya mulai berbisik pelan.
Dibandingkan dengan kelakuan Rian—dosen muda penuh pesona palsu yang secara terang-terangan menghancurkan reputasinya di kampus hanya karena penolakan cinta—sikap blak-blakan Arya terasa jauh lebih manusiawi. Arya tidak bermain di balik layar, tidak menyebarkan gosip murah, dan tidak menggunakan trik-trik kotor. Laki-laki itu meletakkan kartunya di atas meja secara transparan, meski kartu yang ditunjukkannya sangat ekstrem.
Sebenarnya, jika Binar mau jujur pada dirinya sendiri, reaksi melarikan dirinya tadi sore bukan semata-mata karena marah. Ia hanya terlalu terkejut, merasa sangat malu, dan ditimpa rasa takut yang membumbung tinggi. Berada di jarak sedekat itu dengan Arya—menghirup aroma kayu cendana dan citrus yang begitu maskulin dari tubuh sang dosen—membuat pertahanan dirinya luluh lantak dalam hitungan detik. Karena itulah ia memilih kabur tunggang-langgang seperti buronan.
Dring!
Dering notifikasi dari telepon genggamnya yang tergeletak di atas meja belajar memecah keheningan. Binar menghela napas panjang, mengulur tangan untuk menggapai benda persegi tersebut. Nama yang tertera di layar seketika membuat keningnya berkerut dalam.
Kak Bian.
Laki-laki yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar itu adalah kakak kandungnya sekaligus musuh bebuyutannya sejak kecil. Tidak pernah ada hari tanpa percekcokan jika mereka berada di bawah satu atap yang sama. Dengan malas, Binar menggeser layar untuk membaca pesan yang masuk.
Kak Bian: (Terlampir dokumen PDF)
"Terlampir daftar nama duda kaya yang membutuhkan istri. Maharnya lumayan, tapi menurut Kakak yang terakhir yang paling lumayan karena jumlahnya cukup untuk melunasi seluruh utang keluarga kita. Gimana Binar? Kamu suka yang mana?"
Mata Binar membelalak membaca barisan kalimat tersebut. Napasnya naik turun menahan amarah yang mendadak membakar dadanya. Tanpa berpikir panjang, ia mengumpat nyaring lalu membanting ponselnya ke atas kasur busa di sampingnya.
"Kakak sialan!" umpat Binar dengan suara tertahan.
Sensasi panas membakar matanya. Di saat kepalanya hampir pecah memikirkan skripsi dan nasib kuliahnya, sang kakak justru menambah beban dengan bertindak seolah-olah Binar adalah barang dagangan yang bisa dilelang kepada penawar tertinggi. Dengan tangan gemetar karena emosi yang menggebu-gebu, Binar mengambil kembali ponselnya dan mengetikkan balasan dengan hentakan jemari yang kasar.
Binar: "Keadaanku sedang sulit begini, kamu malah mau menjualku pada duda kaya. Dasar b******k! Membusuk saja sana kamu di neraka!"
Hanya butuh beberapa detik sampai balasan dari Bian kembali masuk. Tidak ada rasa bersalah sama sekali dari pesan tersebut.
Kak Bian: "🤣🤣🤣"
Kak Bian: "Kalau nggak mau duda, ya sudah menikah saja dengan Pak Rian. Dia Dosen dan masih muda. Meskipun agak ngondek dikit, tapi tampangnya lumayan."
Tetesan air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh menetes di atas layar ponsel. Binar meremas ujung piamanya. d**a terasa begitu sesak hingga ia kesulitan bernapas secara teratur.
Binar: "Dia itu gila, Kak! Dia mempersulit aku di kampus. Dia menyebar gosip ke semua dosen sampai aku kesulitan dapat bimbingan skripsi. Dia pasti nggak mau aku lulus kuliah biar bisa dia manfaatkan sesuka hati. Aku mending mati dibanding harus nikah sama si iblis Rian!"
Jemarinya menyapu air mata yang mengalir di pipi. Sejujurnya, Binar sudah sangat muak dengan perlakuan Rian dan tekanan yang menghimpitnya dari segala sisi. Namun, ia tidak pernah berani mengadu pada ibu atau ayahnya. Ia tahu betul kondisi orang tuanya sedang berada di titik terendah karena terjerat utang yang menumpuk. Menambah beban pikiran mereka dengan masalah kampusnya hanya akan membuat keadaan makin memburuk.
Layar ponselnya kembali redup. Tidak ada balasan ledekan atau pemaksaan lagi dari Bian. Indikator pesan hanya menunjukkan status read.
Binar tersenyum getir. Ia menyandarkan kepala pada lututnya yang dilipat ke d**a. Dalam diam, di kamar kosnya yang sepi, gadis itu menangis sesenggukan. Ia merasa sendirian, terpojok, dan tidak memiliki ruang untuk melarikan diri. Kakaknya yang ia harapkan bisa menjadi pelindung terlihat tidak peduli padanya.
Malam itu berlanjut dengan gulita yang panjang. Dan selama tiga hari berikutnya, Binar mengurung diri dalam pertimbangan paling berat sepanjang hidupnya. Ia menimbang setiap risiko, menghitung setiap konsekuensi, hingga akhirnya sebuah keputusan paling berani terbentuk di dalam kepalanya.
Ia akan menerima syarat gila dari Pak Arya.
Setidaknya, jika ia bisa lulus kuliah tepat waktu dengan bantuan Arya, ia memiliki alasan kuat untuk menolak perjodohan keluarganya dengan Rian. Perjanjian kontrak itu—seberapa pun anehnya—adalah satu-satunya tiket kebebasan yang ia miliki saat ini.
***
Siang ini, cuaca Yogyakarta terasa sangat membakar. Terik matahari menembus kanopi pohon-pohon kampus, menciptakan suhu udara yang menyengat. Namun, dingin di telapak tangan Binar tidak berkurang sedikit pun saat langkah kakinya membawanya menyusuri lorong gedung fakultas menuju pintu ruang pribadi Pak Arya.
Pintu kayu jati berukuran besar itu berdiri kokoh di ujung koridor, tampak begitu tegap dan intimidatif. Seolah-olah material kayu tebal itu dirancang khusus untuk memancarkan peringatan bahwa penghuni di dalamnya adalah sosok yang tidak mudah untuk didekati atau diganggu.
Binar menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. Ia menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh liar. Setelah mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, ia mengangkat tangan dan mengetuk pintu besar itu tiga kali.
"Masuk," terdengar suara bariton dari dalam.
Binar memutar gagang pintu perlahan lalu mendorongnya. Di dalam ruangan berpendingin udara yang rapi dan beraroma kopi pekat itu, Arya sedang duduk di balik meja kerjanya. Laki-laki itu sedang memegang pena merah, memeriksa tumpukan tugas mahasiswa.
Saat mendengar pintu terbuka, Arya mengangkat wajahnya. Alis tebalnya terangkat satu ketika mendapati gadis lugu yang tiga hari lalu memakinya sebagai dosen gila kini berdiri dengan tubuh kaku dan wajah tegang di ambang pintu.
"Pa-pak Arya... apakah saya bo-boleh masuk?" tanya Binar terbata-bata, suaranya terdengar mencicit.
Arya mengangguk pelan dengan ekspresi wajah yang tetap datar tanpa emosi. "Masuk."
Padahal, di balik topeng ketenangannya yang sempurna, ada sedikit getaran rasa tertarik yang terbit di dalam hati Arya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sang pengunjung tak diundang akan benar-benar kembali setelah insiden melarikan diri yang dramatis kemarin.
"Tutup kembali pintunya!" perintah Arya dengan nada tegas, mempertahankan aura dinginnya yang selalu berhasil membuat mahasiswa gemetar. "Ada apa kamu datang ke sini?"
Binar memutar tubuh, menutup pintu rapat-rapat, lalu kembali berbalik menghadap Arya. Ia berdiri sangat kaku di tengah ruangan. Dahi mulusnya mulai dipenuhi bintik-bintik keringat dingin, sementara jari-jemarinya meremas kain celana bahan yang dikenakannya secara berulang-ulang.
Arya memperhatikan setiap detail gerakan itu dari balik kacamatanya. Ia dapat melihat dengan sangat jelas betapa Binar sedang diserang rasa gugup dan takut yang luar biasa. Dan sejujurnya, Arya merasa sangat terkejut. Gadis yang tiga hari lalu lari tunggang-langgang sambil mengatainya gila itu, kini berdiri di ruangannya untuk menyerahkan diri pada syarat yang sama.
"I-itu, Pak... a-apakah tawaran Bapak sebelumnya masih berlaku?" ucap Binar pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara pendingin ruangan.
"Tawaran yang mana?" tanya Arya singkat. Tiba-tiba saja timbul dorongan di dalam dirinya untuk sedikit menggoda gadis di hadapannya.