Binar menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, menarik bibirnya ke dalam. Wajahnya menunduk dalam-dalam. Bibirnya tampak bergumam mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak jelas. Dalam hitungan detik, warna merah muda dengan cepat merambat dari leher hingga menyebar penuh ke kedua pipinya. Matanya bergerak liar ke kiri dan ke kanan, tidak berani menyandarkan pandangan pada netra tajam dosen killer di depannya.
"Tawaran yang mana, Binar?" ulang Arya lagi. Suaranya dibuat sedatar mungkin, padahal ia harus bekerja keras menahan rasa geli saat melihat mahasiswinya itu tidak berani menyebutkan kalimat gila tersebut secara langsung.
"Me-menikah dengan Bapak..." cicit Binar pelan setelah hening mencekam selama beberapa menit.
Arya bersandar pada kursi kerjanya, menyilangkan tangan di d**a. "Oh... menikah?" gumamnya sambil mengukir seringai tipis yang sarat akan arti. "Bukannya kemarin kamu bilang saya ini dosen gila?"
Mendengar umpan itu, kepala Binar semakin menunduk. Arya bisa membayangkan ada ribuan baris umpatan yang saat ini sedang diproduksi oleh kepala kecil gadis itu, yang ditujukan khusus untuk dirinya. Namun, bibir Binar justru dipaksa untuk tersenyum canggung.
Gadis ini sungguh menarik, bisik Arya di dalam hatinya, sementara wajah luar dan tatapan matanya tetap dipasang dalam mode kaku dan menyebalkan.
"Maaf, Pak Arya... kemarin Bapak salah dengar," jawab Binar cepat, berusaha membela diri dengan alasan yang mengada-ada. "Saya tidak bilang Bapak dosen gila, tapi saya... saya cuma bilang keadaannya yang gila karena saya kaget."
Mendengar nada suara yang terengah-engah dan senyuman canggung yang dipaksakan itu, Arya merasakan gelombang kegemasan yang luar biasa. Ia ingin menggoda Binar lebih jauh dan melihat sejauh mana gadis itu bisa bertahan. Namun, melihat Binar yang sudah berada di ambang batas—dengan mata berkaca-kaca seolah bisa menangis detik itu juga—Arya memutuskan untuk menyudahi siksaan kecilnya.
Ia menghela napas pendek, lalu merapikan tumpukan kertas di meja kerjanya.
"Baiklah," kata Arya dengan nada suara yang kembali formal. "Besok pulang kuliah, tunggu saya di parkiran. Kita bicarakan masalah ini lebih detail di luar kampus."
Binar tertegun sejenak, memproses kata-kata itu di dalam kepalanya. Ketika kesadaran menyenggolnya bahwa tawaran itu benar-benar masih berlaku dan urusan skripsinya akan memiliki titik terang, matanya membelalak lebar.
"Baik, Pak! Terima kasih banyak!!" balas Binar setengah berteriak.
Rasa leganya meluap begitu saja. Tanpa sadar, ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam beberapa kali dengan senyuman lebar yang merekah indah di wajahnya yang tadinya pucat.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak!" pamit Binar terburu-buru.
Gadis itu membalikkan badan dan berlari keluar ruangan dengan langkah-langkah kecil yang cepat. Pintu ruangan kembali tertutup dengan dentuman halus.
Di dalam ruangan yang kembali hening, Arya bergeming di tempat duduknya. Tatapannya tertuju pada pintu kayu yang baru saja tertutup. Perlahan, perisai dingin di wajahnya runtuh. Sebuah senyuman tipis dan hangat terukir diam-diam di bibir tegasnya.
Melalui celah kaca jendela ruangannya yang mengarah ke area halaman kampus, Arya bisa melihat Binar berjalan keluar gedung. Gadis itu melompat-lompat kecil dengan riang, berlari membelah terik siang seolah-olah baru saja menerima kabar paling membahagiakan di seluruh dunia.
Arya menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum yang tak kunjung pudar. Tingkah kekanakan dan polos dari calon istri palsunya itu sukses menyuntikkan rasa hangat yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasakan.