Aroma biji kopi yang di sangrai tipis berpadu dengan alunan musik jazz ber-genre santai mengisi sudut kafe yang terletak cukup jauh dari kawasan kampus. Pilihan tempat ini murni keputusan Arya. Ia sengaja memilih kedai kopi di pinggiran kota untuk meminimalkan risiko bertemu dengan mahasiswa atau dosen lain yang mengenal mereka.
Di balik meja kayu persegi yang berada di sudut remang, Binar duduk kaku dengan kedua tangan meremas tali tas kainnya. Di hadapannya, Pak Arya tampak begitu tenang. Dosen killer itu telah melepas kacamata berbingkai tipisnya, mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap dengan lengan tergulung rapi. Penampilan santai Arya justru membuat aura matang dan tampannya makin terpancar kuat, menyulitkan Binar untuk menjaga fokusnya.
Seorang pelayan baru saja meletakkan dua cangkir kopi—iced americano tanpa gula untuk Arya dan iced caramel macchiato untuk Binar.
"Minum dulu," ucap Arya datar, membuka pembicaraan setelah pelayan berlalu. "Keringat di dahimu itu bikin kamu kelihatan seperti buronan yang mau diinterogasi."
Binar refleks menyapu dahinya dengan punggung tangan, pipinya merona merah. Dengan gugup, ia menyeruput minuman manisnya sebelum memberanikan diri menatap mata kelam Arya.
"Terima kasih, Pak. Jadi... bagaimana detail yang mau Bapak bicarakan?" tanya Binar dengan nada diusahakan seprofesional mungkin.
Arya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu, menatap Binar lurus-lurus. Kesan santai dari pakaiannya menguap seketika, berganti dengan fokus tajam ala seorang pembisnis yang siap mengeksekusi kesepakatan besar.
"Pernikahan yang akan kita jalani adalah pernikahan kontrak berdurasi satu tahun," ujar Arya memulai penjelasan dengan suara berat yang teratur. "Ada empat syarat mutlak yang saya buat. Dengarkan baik-baik dan jangan ada yang dipotong."
Binar mengangguk cepat, menyimak setiap kata yang keluar dari bibir tegas sang dosen.
"Pertama, kerahasiaan," tegas Arya sambil mengacungkan satu jarinya. "Pernikahan ini tidak boleh diketahui oleh siapa pun di kampus—baik mahasiswa, staf, maupun dosen lain, termasuk Rian. Di luar rumah dan di area publik, hubungan kita murni dosen dan mahasiswi. Kamu juga dilarang mengorek atau menyebarkan identitas pribadi saya."
"Paham, Pak. Saya juga tidak mau teman-teman kampus tahu," sahut Binar jujur.
"Kedua, kepatuhan," lanjut Arya. "Setelah kita resmi menikah, kamu akan pindah dan tinggal di rumah saya. Kamu wajib menuruti seluruh peraturan rumah tangga yang akan saya buat nanti. Saya tidak suka rumah yang berantakan dan orang yang tidak disiplin."
Binar menelan ludah. Bayangan tinggal bersama sang Bad Professor di bawah satu atap mulai terasa seperti ujian hidup yang sesungguhnya.
"Ketiga, batasan hubungan," Arya menatap mata Binar lebih dalam, memberi tekanan khusus pada poin ini. "Pernikahan ini berlangsung selama tiga ratus enam puluh lima hari tanpa ada kontak fisik maupun keterikatan perasaan. Jangan berharap hubungan suami-istri selayaknya pernikahan normal. Kita berdua bertransaksi, bukan sedang berpacaran."
Sensasi hangat mendadak menyengat wajah Binar. "S-saya juga tidak ada niat untuk seperti itu kok, Pak!" sanggah Binar cepat dengan suara yang sedikit meninggi karena malu.
Sudut bibir Arya terangkat tipis, terhibur oleh reaksi cepat mahasiswinya, tetapi ia segera menguasai diri.
"Bagus kalau kamu paham," sambung Arya tenang. "Poin keempat, kompensasi. Sebagai imbalan atas kesediaanmu menandatangani kontrak ini, saya akan memenuhi beberapa hal."
Arya mengambil sebuah pulpen dan secarik kertas kecil dari sakunya, lalu menuliskan beberapa poin singkat sebelum menggesernya ke arah Binar.
"Saya akan melunasi seluruh utang keluargamu yang bernilai ratusan juta itu secara tunai," kata Arya. Binar melotot tak percaya. "Lalu, saya menjamin bimbingan skripsimu berjalan lancar hingga kamu lulus tepat waktu dengan nilai memuaskan. Selama masa pernikahan, kamu akan menerima uang jajan bulanan yang lebih dari cukup. Dan di akhir masa kontrak satu tahun..." Arya menggantung kalimatnya sejenak. "...kamu akan menerima uang kompensasi sebesar lima ratus juta rupiah."
Binar menghentikan napasnya seketika. Mata bulatnya membelalak sempurna menatap angka dengan deretan nol yang sangat banyak tertera di kertas. Lima ratus juta? Ditambah pelunasan utang keluarga dan jaminan kelulusan? Ini bukan lagi sekoci penyelamat, melainkan kapal pesiar mewah yang datang menyenggol hidupnya!
"Pak... Bapak serius?" bisik Binar dengan suara gemetar. "Angka ini terlalu besar..."
"Bagi saya, angka ini sepadan dengan apa yang saya butuhkan," jawab Arya dingin, tanpa beban sedikit pun.
Binar mengerutkan keningnya, rasa penasarannya tak bisa ditahan lagi. "Kenapa Bapak sampai membutuhkan pernikahan kontrak ini? Maksud saya... dengan imbalan sebesar ini, kenapa harus saya?"
Arya sudah menduga pertanyaan itu akan keluar. Ia telah menyiapkan jawaban yang tersusun rapi untuk menutupi identitas aslinya sebagai Reigha Setyo Aji.
"Saya sedang memulai investasi dan ekspansi bisnis properti di wilayah Yogyakarta," jabar Arya dengan ekspresi meyakinkan. "Menurut regulasi dan hukum kepemilikan aset daerah tertentu yang sedang saya urus, proses administrasi dan perizinan lahan akan jauh lebih cepat serta menguntungkan jika saya memiliki status pernikahan sah dengan warga lokal asli Jogja."
Arya menyesap kopi hitamnya sebelum melanjutkan, "Kamu memenuhi seluruh kriteria: warga lokal, butuh bantuan akademik, sedang terdesak masalah finansial, dan yang paling penting... kamu tidak punya daya untuk memeras saya di kemudian hari." ucap Arya kemudian menyeringai ingin menggoda. "Ah satu lagi, kamu tidak terlihat pintar sehingga presetase saya di manfaatkan dan di khianati akan kecil." tambah Arya lagi membuat Binar merasa jengkel, tapi wajahnya seperti dipaksakan tersenyum.
Meski terdengar agak ketus dan menyebalkan, logika di balik penjelasan Arya masuk akal bagi Binar yang awam dengan dunia bisnis properti. Arya membutuhkan status hukum dan kepastian, sementara dirinya membutuhkan kebebasan dan masa depan.
"Bagaimana, Binar?" tanya Arya, melipat kedua tangannya di atas meja. "Keluargamu akan bebas dari jerat utang, kakakmu tidak bisa menjualmu ke duda kaya, kamu terbebas dari Rian, skripsimu di-ACC, dan kamu punya modal tabungan besar untuk hidup mandiri setelah lulus. Apakah penawaran saya cukup adil?"
Binar memandangi lembaran kertas di meja, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah tegas Arya. Pria di hadapannya memang dingin dan galak, tetapi tawaran ini adalah satu-satunya jalan keluar paling terhormat dari neraka yang sedang mengepungnya.
Binar menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu mengangguk mantap.
"Saya setuju, Pak Arya. Saya terima syarat pernikahan kontrak ini."
Untuk kedua kalinya sejak mereka bertemu, Binar melihat senyum tipis—senyum puas yang sangat menawan—terukir di bibir sang Bad Professor.
"Pilihan yang cerdas," gumam Arya pelan. "Besok saya akan bertemu dengan orang tuamu."
Mendengar semua ucapan Arya yang seolah sangat tahu dengan apa yang sedang di hadapi oleh Binar, gadis itu menduga dosen galaknya itu sudah menyelidiki Binar secara pribadi. Arya bahkan sampai tahu kalau Bian berniat menjual Binar ke duda Kaya. Hal ini justru membuat Binar lebih lega, karena Dosen killernya itu berarti lebih paham tentang keadaan yang sedang dihadapi Binar dan keluarganya.