Suasana di ruang dosen lantai dasar Fakultas Bisnis pagi itu terasa cukup padat. Aroma kopi instan yang diseduh di pojok ruangan beradu dengan bau kertas-kertas laporan ujian tengah semester yang menumpuk di atas meja. Di salah satu sudut ruangan, beberapa dosen tampak duduk bergerombol, memanfaatkan jeda waktu sebelum jam mengajar pertama dimulai untuk bertukar gosip hangat seputar dinamika kampus.
Rian duduk dengan postur tegap di kursi kerjanya, namun jemarinya terus-menerus mengetuk permukaan meja dengan ritme tidak sabaran. Rahangnya mengeras, dan matanya menyipit penuh kebencian setiap kali ia mengingat bagaimana Pak Arya—dosen baru yang angkuh itu—secara terang-terangan membela Binar dan merendahkan Aryadi depan umum di dekat gerbang kampus tadi pagi.
Kemarahannya bukan lagi sekadar rasa kesal biasa. Itu adalah amarah membara dari seorang pria yang rencana liciknya digagalkan secara telak. Semua usahanya untuk memojokkan Binar, membuat gadis itu terisolasi secara akademis, dan menjadikannya tak berdaya agar bisa diperalat semaunya, hancur berkeping-keping hanya karena campur tangan Arya.
"Kenapa kelihatan kesal banget begitu, Pak Rian? Gara-gara manusia kaku itu ya?" tanya Ibu Irma, salah satu dosen senior yang terkenal paling hobi memungut dan menyebar informasi hangat di lingkungan kampus. Wanita itu menyunggingkan senyum penuh arti sambil menyeruput cangkir teh manisnya.
Rian mendengus kasar, lalu memutar kursinya menghadap ke arah Irma. "Ih, Bu Irma memang paling memahami saya deh! Dia itu menyebalkan banget, sok suci, Bu! Membalikkan semua omongan saya sesuai dengan nilai-nilai akademik seolah-olah dia adalah dosen paling pintar di dunia ini. Pantasan saja dia dibenci oleh banyak mahasiswa, ternyata sikap aslinya memang menyebalkan setengah mati."
Mendengar keluhan berapi-api itu, Irma terkekeh geli. Namun, ia lantas merendahkan suaranya, melirik ke kanan dan ke kiri sebelum memberikan peringatan.
"Tapi hati-hati, Pak Rian. Sebaiknya jangan terlalu cari masalah sama Pak Arya. Kamu tahu sendiri kan, backing-an dia siapa di kampus ini?"
Rian mendengus sinis, melipat kedua tangannya di d**a. "Bestie-nya Wakil Dekan memang tidak boleh disentuh ya, Bu Irma. Jelas beda kelaslah sama kita yang cuma rakyat jelata, harus tunduk sama penguasa. Bahkan dia nggak sudi duduk di ruangan Dosen bersama kaya kita dan minta ruangan pribadi. Udah kaya orang penting aja."
"Abaikan saja, Pak Rian. Pak Arya memang orangnya pendiam, kaku, dan tidak suka bergaul dengan dosen lain. Tapi sejauh ini, kemampuan mengajarnya sangat baik dan terstruktur. Jadi, pihak dekanat juga tidak bisa melakukan apa-apa meskipun sikapnya menyebalkan parah," sahut Bu Selvi, dosen wanita paruh baya yang duduk di meja pojok ruangan, ikut serta dalam percakapan pagi itu.
Rian menarik napas panjang, sengaja memasang ekspresi wajah terluka selayaknya korban penindasan yang dizalimi. Ia menunduk sedih, menggelengkan kepalanya perlahan.
"Iya, Bu Selvi. Saya ini sebenarnya sudah berusaha sabar dan mencoba berbuat baik, meskipun kesal banget. Padahal kan saya cuma mau akrab saja sesama dosen muda. Eh, dia malah menolak mentah-mentah dan tidak mau diakrabin sama saya. Ya sudah, kedepannya saya tidak akan pernah menyapa dia lagi."
Seperti itulah cara Rian membangun citra di kalangan dosen. Dengan memasang topeng ramah, bersikap seolah-olah menjadi pihak yang disakiti, dan menyebar cerita miring dengan kehalusan lidahnya, Rian berhasil mengumpulkan banyak pengikut setia di kampus. Ia adalah penyebar gosip paling ulung yang pernah ada di seantero universitas.
Binar adalah korban pertama dari kejahatan mulut manisnya. Karena Rian adalah orang yang pertama kali menyebarkan fitnah keji tentang Binar di awal semester lalu, nama baik gadis itu hancur tanpa sisa, dan tidak ada satu pun dosen di kampus yang mau percaya atau berdiri di pihak Binar. Semua orang termakan oleh kebohongan Rian.
Itulah sebabnya, meskipun Pak Arya terkadang menyebalkan, terlalu banyak mengatur, dan bersikap galak setengah mati, Binar di dalam lubuk hatinya yang paling dalam tetap merasa bahwa diatur oleh suaminya itu jauh lebih baik daripada dibiarkan sendirian menghadapi kejamnya hujatan dunia kampus yang tidak berdasar.
Sementara itu, di dalam ruang pribadi Arya yang tenang dan ber-AC dingin, suasana berada di kutub yang jauh berbeda.
Binar duduk di kursi tamu berhadapan langsung dengan meja kerja Arya. Setelah sesi bimbingan kilat hampir selesai, Arya kembali membuka topik serius untuk memastikan keselamatan psikologis dan akademis istri kontraknya itu.
"Selain jangan terlalu dekat dengan Dimas, sebaiknya kamu juga mulai menghindari pria bernama Rian itu," suara Arya mengalun berat, dingin, namun menyiratkan perlindungan yang mutlak. "Dia punya niat tidak baik sama kamu, Binar."
Binar yang sedang merapikan lembaran kertas revisinya mendongak. Ia mendengus pelan, lalu mengangguk mantap tanpa ragu.
"Bapak tenang saja! Kalau masalah Pak Rian, tanpa disuruh pun saya pasti akan menghindar sejauh-jauhnya. Bahkan, kalau seandainya nanti saya papasan sama dia di jalan sempit yang pinggirannya adalah jurang atau danau... saya lebih memilih melompat nyemplung ke danau daripada harus menyapa dia dan berjalan di jalur yang sama!" ungkap Binar dengan nada menggebu-gebu, gestur tangannya bergerak hiperaktif menggambarkan betapa ia sangat jijik pada dosen c***l tersebut.
Mendengar penuturan dramatis itu, sebuah senyuman geli yang sangat tipis terbit di sudut bibir Arya. Namun, pria itu dengan sigap menguasai diri. Begitu ia menangkap mata Binar mulai beralih menatap wajahnya, Arya langsung menarik kembali senyumannya dan memasang kembali topeng datar serta dingin yang biasa ia miliki.
Arya menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, menatap Binar dengan sorot mata yang diliputi rasa ingin tahu yang besar.
"Sebenarnya... masalah kamu sama dia itu apa sih, Bin? Kenapa dia sepertinya terobsesi sekali menjatuhkan nama kamu di kampus?" tanya Arya penasaran, menyelidiki akar masalah yang sebenarnya belum pernah didengarnya secara detail.
Binar terdiam sejenak. Bayangan kejadian masa lalu kembali berkelebat di kepalanya, membuat raut wajahnya berubah keruh dan jijik.
"Sebenarnya, Pak... awal mulanya itu, waktu saya masih semester lima, saya tidak sengaja memergoki dia masuk ke dalam toilet wanita bersama seorang mahasiswi," cerita Binar dengan suara bergetar menahan geram. "Semua kesialan dalam hidup saya di kampus ini berasal dari hari itu."
Arya mengerutkan keningnya, mendengarkan dengan saksama.
"Setelah saya pergoki, dia mulai panik dan mengancam saya agar tidak membocorkan rahasianya. Sejak hari itu, tatapannya ke saya selalu sinis dan penuh teror," lanjut Binar. "Tapi, entah bagaimana caranya, tiba-tiba dia punya kenalan yang kebetulan sepupu jauh saya—si Rudi itu. Dan sejak dia ketemu sama saya di rumah Rudi, semua ancaman dan tatapan sinisnya berubah jadi rayuan menjijikkan. Dia mulai sering datang membawakan saya bunga, cokelat, dan sok perhatian."
"Kamu terima pemberiannya?" tanya Arya cepat, ada nada ketus yang terselip di balik kalimatnya.
"Ya enggak lah, Pak!" jawab Binar dengan nada tinggi, menatap Arya seolah-olah dosennya itu baru saja menanyakan pertanyaan paling bodoh di dunia. "Melihat wajahnya saja saya sudah merasa mual dan jijik, apalagi menerima barang dari dia!"
"Terus?" panggil Arya, menuntut kelanjutan cerita.
"Ya pokoknya dia makin menyebalkan! Puncaknya waktu dia mulai mendatangi rumah saya, mencoba memanfaatkan situasi keuangan keluarga saya yang sedang terlilit utang demi bisa menikahi saya dengan cara licik," keluh Binar, jemarinya meremas ujung roknya erat-erat. "Untung saja ayah saya masih waras, tidak gila seperti kakak saya, Bian. Kalau saja ayah saya ikut tergiur tipu muslihatnya, mungkin saya sudah lebih dulu jadi istri laki-laki b***t itu."
Mendengar penyebutan nama kakak iparnya, Arya mengangkat sebelah alisnya. "Bian kelihatannya baik kok, Binar. Waktu kami mengurus administrasi pernikahan dan berkunjung ke rumah, dia kelihatan ramah dan kooperatif sama saya."
Mendengar pembelaan Arya untuk kakaknya, wajah Binar langsung berubah kesal luar biasa. Bibirnya mengerucut sebal.
"Mana ada kakak yang baik punya hobinya mengumpulkan daftar nama duda kaya raya yang sedang mencari istri, semata-mata demi menjual adiknya sendiri?!" sungut Binar dengan mata melotot tajam. "Dia itu gila pak, otaknya jelas sudah tidak waras. Jadi sebaiknya bapak jauh-jauh dari Bian kalau bapak tidak mau ketularan gila."
Melihat ekspresi wajah Binar yang merengut sebal dengan pipi menggembung karena kesal, Arya tidak lagi mampu menahan pertahanannya. Laki-laki yang terkenal dingin dan kaku itu akhirnya meledakkan tawa—sebuah tawa lepas yang renyah dan terdengar sangat maskulin di dalam ruangan tertutup tersebut.
Binar tertegun di tempat duduknya. Ia mematung menatap pria di hadapannya.
Di mata Binar, tawa lepas sang Bad Professor yang jarang sekali terekspos itu mendadak menjelma menjadi pemandangan yang luar biasa memukau. Kacamata berbingkai tipis Arya sedikit melorot, garis rahangnya yang tegas melunak, dan mata kelamnya memancarkan binar kebahagiaan yang tulus.
Bisa gawat! jerit Binar histeris di dalam kepalanya sendiri. Ternyata Pak Arya kalau sedang tertawa begini... dia ganteng banget! Aduh, tolong, Binar! Jangan sampai kamu ganti nama jadi Binal gara-gara mengikuti otak kotormu dan menggoda pak Arya. Pokoknya kamu harus bertahan Binar! Pak Arya haram! Ingat itu Binar!! dia haran karena kalau kamu sampai menggodanya, lima ratus jutamu akan hilang."
Binar buru-buru menundukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk mengusir pikiran-pikiran nakal yang mendadak menyerbu otaknya. Wajahnya merona merah padam, membuat Arya yang tadinya tertawa kini berhenti perlahan, menatap mahasiswinya dengan senyuman tipis yang masih menghiasi bibirnya.
"Kenapa diam? Kamu sedang merapal doa m***m lagi di kepala kamu, Binar?" goda Arya dengan suara baritonnya yang lembut.
"N-nggak ya, Pak!" kilah Binar salah tingkah, buru-buru berdiri dari kursinya. "Kalau begitu, saya permisi mau ke kelas dulu! Jadwal kuliah sebentar lagi mulai!"
Tanpa menunggu jawaban Arya, Binar menyambar tasnya dan berlari kecil keluar dari ruangan, meninggalkan sang Bad Professor yang menggelengkan kepala pelan sembari tersenyum geli menatap kepergian istri kontraknya yang menggemaskan itu.