Klek.
Pintu kayu jati ruang pribadi Arya tertutup rapat dan terkunci otomatis. Suasana bising dari lalu lalang mahasiswa di koridor luar seketika lenyap, berganti dengan keheningan ruangan berpendingin udara yang sarat akan aroma kopi dan kertas-kertas laporan.
Arya melepas jas kasualnya, menyampirkannya di sandaran kursi kerja, membuat kaus kasualnya terlihat sangat seksi di tubuh atletisnya. Laki-laki itu berjalan menuju meja kerjanya, namun alih-alih langsung duduk, ia membalikkan badan dan bersandar pada tepi meja, menatap Binar yang berdiri canggung di tengah ruangan.
"Siapa mahasiswa tadi?" tanya Arya dingin tanpa basa-basi.
Binar yang baru saja mau mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas mendadak terhenti. Ia mendongak bingung. "Maksud Bapak... Dimas?"
"Ya. Mahasiswa yang tadi pagi sarapan bersama kamu di tepi jalan."
"Oh, itu Dimas, Pak. Dia teman seangkatan saya, sahabat dekat saya dari semester awal," jawab Binar polos.
Arya memicingkan matanya. "Sahabat dekat?"
"Iya, Pak. Dimas itu orangnya baik banget. Dulu pas saya lagi susah-susahnya dan dijauhi sama temen-temen kelas gara-gara gosip Pak Rian, cuma Dimas yang mau berteman dan bantu saya," jabar Binar jujur, mengingat kembali kebaikan sahabatnya itu.
Bukannya merasa tersentuh, rahang Arya justru tampak makin mengeras mendengarkan pujian Binar untuk pria lain. Rasa tidak suka yang besar menggelayut erat di dadanya.
"Baik banget?" ulang Arya dengan nada penuh sarkasme. "Sejak kapan batas kebaikan seorang 'sahabat' itu sampai bisa makan dari piring yang sama dan minum dari gelas yang sama?"
Binar berkedip kebingungan. "Maksud Pak Arya... kerupuk sama teh hangat tadi?"
"Kamu itu perempuan, Binar. Dan kamu sudah menikah," tegur Arya dengan suara rendah yang menuntut kepatuhan penuh. "Makan satu piring dan meminum teh dari gelas yang sama dengan pria lain yang bukan mahram kamu itu sangat tidak sopan dan tidak higienis. Apa kamu tidak punya kesadaran soal batas pergaulan?"
Binar melotot kaget. Astaga... jadi laki-laki ini memantau dari tadi pas aku lagi makan kerupuk sama minum teh punya Dimas?!
Wajah Binar mendadak merona merah. Rasa malu bercampur keheranan menyelimuti pikirannya. "Tapi kan saya cuma mencuri kerupuknya sedikit, Pak! Dan tehnya juga saya cuma minta satu teguk gara-gara haus banget habis naik angkot!"
"Satu teguk atau seribu teguk, prinsipnya sama saja," potong Arya tegas, tidak mau dibantah. "Mulai hari ini, saya melarang kamu berhubungan terlalu dekat dengan mahasiswa bernama Dimas itu di luar urusan perkuliahan formal."
"Loh? Kok gitu sih, Pak?!" protes Binar tidak terima. "Dimas itu sahabat saya! Dalam perjanjian kontrak kita kan tidak ada aturan kalau saya tidak boleh berteman!"
Arya melangkah mendekati Binar. Langkah kakinya yang tenang namun penuh intimidasi membuat Binar secara refleks mundur hingga bagian belakang paha bawahnya membentur tepi meja tamu di tengah ruangan.
Arya menghentikan langkahnya tepat di hadapan Binar. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mengunci pandangan mata Binar dengan netra kelamnya yang dalam.
"Memang tidak ada di dalam kertas perjanjian," bisik Arya dengan suara berat yang sanggup membuat bulu kuduk Binar berdiri. "Tapi ada aturan kedua di dalam kontrak kita: kamu wajib menuruti seluruh perintah dan aturan rumah tangga yang saya buat. Dan sebagai suami kamu—meski hanya di atas kertas—saya berhak melarang kamu melakukan hal-hal yang tidak bersikap pantas di depan publik."
Napas Binar tertahan di tenggorokan. Jarak di antara mereka kini begitu dekat. Binar dapat menghirup kembali wangi maskulin khas Arya yang sangat ia hafal. Bayangan insiden semalam saat bibir mereka saling bersentuhan secara otomatis terlintas kembali di benaknya, membuat jantungnya berdegup tak karuan.
"P-Pak Arya... ini kan di kampus..." bisik Binar dengan suara mencicit, mencoba mengingatkan situasi.
Arya bergeming selama beberapa detik, menatap bibir manis Binar yang sedikit terbuka sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke mata gadis itu. Laki-laki itu sadar ia baru saja bertindak di luar kendali karena terbakar cemburu.
Arya berdehem pelan, mengundurkan langkahnya dua tindak ke belakang untuk memberi jarak aman.
"Keluarkan draf bab dua kamu," perintah Arya seraya kembali ke meja kerjanya dengan raut wajah yang mendadak kembali kaku, seolah-olah pertengkaran kecil tadi tidak pernah terjadi. "Kita punya waktu dua puluh menit sebelum kelas kamu dimulai. Jangan buang-buang waktu saya."
Binar mengelus dadanya yang masih berdebar kencang. Ia menghela napas panjang, mencoba menetralkan degupan jantungnya yang gila.
"Baik, Pak..." sahur Binar pasrah.
Meskipun hatinya masih sedikit jengkel karena dilarang terlalu akrab dengan Dimas, di sudut hati kecil Binar yang paling dalam, ada sebuah perasaan meletup-letup yang tidak dia pahami. Rasa posesif dan cemburu yang ditunjukkan oleh sang Bad Professor secara tidak langsung membuktikan bahwa kehadiran Binar di dalam hidup pria itu bukan lagi sekadar pajangan di atas kertas perjanjian kontrak. Tapi Binar yang bodoh soal cinta berpikir, Arya hanyalah dosen galak yang suka mengatur dan membuat Binar terjebak dalam aturan tidak masuk akal dalam perjanjian pra nikah yang mereka buat. Karena itu alih-alih mengagumi sifat posesif Arya, kepala Binar saat ini justru dipenuhi sumpah serapah.
Sementara itu, di ruangan dosen yang berada di lantai dasar, Rian duduk di balik meja kerjanya dengan amarah yang membakar hebat. Tangannya meremas kertas LKM di atas meja hingga remuk tak berbentuk.
Kekalahan dan penghinaan yang diterimanya dari Arya di depan gerbang kampus tadi pagi benar-benar menghancurkan harga dirinya sebagai dosen muda berprestasi yang selama ini disegani.
"b*****t kamu, Arya!" maki Rian dengan suara tertahan. "Sok pahlawan! Sok paling mengerti akademis!"
Rian melemparkan remasan kertas itu ke dalam tong sampah dengan kasar. Pikiran liciknya mulai berputar liar. Ada banyak sekali kejanggalan dalam rangkaian peristiwa belakangan ini yang membuat naluri kecurigaannya makin membara. "Tunggu saja Arya! Kamu akan menyesal karena sudah membuatku marah pagi ini."