"Binar itu memang terkenal pemalas dan suka seenaknya sendiri, Pak Arya," ucap Rian dengan nada meremehkan dan raut wajah yang memancarkan rasa kemenangan yang picik. "Makanya dari dulu tidak ada satu pun dosen di fakultas ini yang bersedia jadi dosen pembimbingnya. Pak Arya kan masih baru di kampus ini, makanya tidak tahu apa-apa soal kelakuan dia. Seharusnya sebelum menerima dia jadi mahasiswa bimbingan, Pak Arya tanya-tanya dulu sama saya."
Rian tersenyum merendahkan ke arah Binar, seolah-olah ia baru saja berhasil menelanjangi keburukan Binar di depan umum.
Dimas yang menyaksikan sahabatnya dihina secara terang-terangan merasa sangat kesal. Wajahnya memerah dan ia sudah berdiri tegak, hendak maju membela Binar. Namun, sebelum Dimas sempat membuka mulutnya, Binar dengan cepat mengulurkan tangan, menahan lengan Dimas dan menggelengkan kepala pelan.
Binar menatap lurus ke arah Arya. Anehnya, alih-alih merasa takut atau tertekan oleh ucapan pedas Rian, ada sebuah kepercayaan asing yang mendadak mekar di dalam d**a Binar. Entah mengapa, hati kecilnya percaya penuh bahwa laki-laki galak yang kini berstatus sebagai suaminya itu tidak akan membiarkan dirinya dihina, dan akan membentenginya dari ucapan jahat Rian.
Suasana di depan warung bubur ayam di dekat gerbang kampus itu seketika berubah tegang. Angin pagi yang berembus terasa membeku. Beberapa mahasiswa yang kebetulan melintas sengaja memelankan langkah kaki mereka, berbisik-bisik saat melihat dua dosen muda paling berpengaruh di fakultas bisnis tengah berdiri berhadapan dengan Binar.
Merasa rangkulan tangan Rian mendarat di bahunya, Arya melirik lengan kemeja Rian dengan sudut mata yang dingin. Rasa jijik dan tidak suka terpancar jelas dari raut wajah sang Bad Professor.
Tanpa mengucapkan sebaris kata pun, Arya mengangkat tangannya dan menepis lengan Rian dari bahunya secara kasar. Gerakan itu begitu lugas dan bertenaga hingga membuat tubuh Rian sedikit terdorong ke samping.
Rian tersentak kaget. Senyum kemenangan di wajahnya seketika luntur, berganti dengan rasa terkejut. "P-Pak Arya?"
Arya membetulkan letak kemeja di bahunya dengan gerakan lambat dan penuh wibawa. Pandangan matanya yang tajam bak pisau bedah mengunci lurus wajah Rian.
"Saya menyarankan Anda untuk menjaga jarak dan sopan santun, Pak Rian," ucap Arya dengan nada suara yang sangat rendah, berat, dan dipenuhi oleh intimidasi yang pekat. "Tangan Anda tidak seharusnya berada di bahu saya."
Wajah Rian berubah agak memerah karena malu dieksekusi di depan mahasiswa. Namun, dosen licik itu dengan cepat menguasai dirinya kembali. Ia terkekeh sumbang, mencoba mencairkan suasana.
"Ah, maaf kalau Pak Arya merasa tidak nyaman. Saya cuma mau mengingatkan sesama kawan dosen saja," tutur Rian, masih bersikeras berusaha menanamkan racun fitnahnya. "Binar ini mahasiswi yang penuh manipulasi. Dia sering memanfaatkan kebaikan dosen. Kalau Pak Arya terlalu bersikap baik padanya, nanti dia malah melunjak dan mencoreng nama baik Bapak sebagai dosen baru."
Binar mengepalkan tangannya di samping tubuh. Dadanya bergemuruh. Kata-kata Rian selalu saja berhasil menyulut emosinya. Namun, Binar tetap diam, menanti respon dari pria tegap di hadapannya.
Arya menghela napas pelan—sebuah helaan napas yang sarat akan rasa bosan. Laki-laki itu kemudian melangkah satu tindak maju, berdiri tepat di antara Rian dan Binar. Tinggi badan Arya yang menjulang secara otomatis membuat Rian harus sedikit mendongakkan kepala untuk menatapnya.
"Pak Rian," panggil Arya datar.
"Ya, Pak Arya?"
"Tugas seorang dosen adalah mendidik, membimbing, dan menilai mahasiswa berdasarkan kapasitas akademis serta objektifitas ilmiah mereka di atas kertas," tutur Arya dengan kalimat yang tertata sangat rapi namun menohok ulu hati. "Saya sudah memeriksa draf proposal dan kerangka berpikir yang disusun oleh Binar. Metodologi penelitiannya terstruktur, variabelnya jelas, dan idenya sangat berbobot."
Arya jeda sejenak, menatap Rian dengan tatapan meremehkan yang sangat kentara.
"Jika dosen-dosen lain—atau mungkin Anda sendiri—gagal melihat potensi akademis seorang mahasiswa hanya karena terpengaruh oleh asumsi pribadi yang tidak berdasar, maka menurut saya, masalah utamanya ada pada kompetensi dosen itu sendiri, bukan pada mahasiswanya."
SKAKMAT!
Kalimat tajam meluncur mulus dari bibir Arya bagaikan tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Rian. Ekspresi Arya sangat dingin seolah dia bisa menghancurkan lawan bicaranya hanya dengan sorot matanya yang tajam. Sikap itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa dia dijuluki Bad Professor. Galak, kejam, tidak kenal kompromi dan siap menghakimi siapapun secara langsung jika dinilai salah. Seperti yang dia lakukan pada Rian sekarang.
Dimas yang berdiri di belakang Binar hampir saja melepaskan sorakan gembira jika saja ia tidak sadar sedang berada di depan dua dosen. Sementara Binar mendadak merasa dadanya dipenuhi oleh perasaan hangat yang luar biasa. Matanya berbinar-binar menatap punggung lebar Arya. Pria itu baru saja membelanya secara terbuka di depan umum dengan argumen akademis yang sangat elegan dan tak terbantahkan!
Wajah Rian kini berubah merah padam, bercampur antara amarah yang memuncak dan rasa malu yang luar biasa. Bibirnya gemetar, hendak membalas, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan karena tidak mampu menyanggah argumen logis dari sang Bad Professor.
"Kamu," Arya berbalik menghadap Binar, menatap istrinya dengan tatapan kaku yang biasa. "Ikut ke ruangan saya sekarang. Bawa draf bab dua kamu. Kita bahas revisinya sebelum kelas kamu dimulai."
"B-baik, Pak Arya!" jawab Binar dengan penuh semangat, suaranya terdengar begitu renyah dan ceria.
Tanpa memedulikan Rian yang masih berdiri mematung dalam kekalahan penuh kemurkaan, Arya memutar tubuhnya dan melangkah lebar menuju gedung fakultas. Binar segera berbalik menatap Dimas, menepuk bahu sahabatnya itu cepat.
"Dim, gue ke ruangan Pak Arya dulu ya! Makasih kerupuk sama tehnya!" bisik Binar riang.
"I-iya, Bin... ti-hati ya," balas Dimas masih terpukau oleh kejadian barusan.
Dengan langkah-langkah kecil yang cepat dan riang, Binar menyusul langkah lebar Arya dari belakang. Di sepanjang koridor gedung kuliah yang mulai ramai, Binar berjalan mengekor di belakang suami kontraknya itu.
Mata Binar menatap lekat pada punggung tegap Arya yang terbalut kemeja rapi. Rasa geli, hangat, dan kagum bercampur aduk di dalam dadanya. Laki-laki di depannya ini memang sangat galak, dingin, menyebalkan, dan suka menggodanya di rumah. Namun, ketika ada orang lain yang mencoba menjatuhkan atau menghina Binar, suami kontraknya itu akan berdiri paling depan sebagai benteng pelindung yang tak tergoyahkan. Jaminan lima ratus juta dan lunasnya hutang-hutang keluarga adalah bayaran yang pantas dia dapatkan karena dimanfaatkan oleh Arya untuk menikah. Tapi mendapatkan perlindungan sang Bad Professor tidak ada dalam perjanjian. Karena itu Binar merasa Arya adalah laki-laki yang masuk akal dan cukup baik. Karena itu dia akan sedikit mengurangi sumpah serapah di kepalanya jika laki-laki itu mulai menyebalkan lagi di masa depan.