Dua minggu berlalu dalam ketenangan yang relatif. Setelah seluruh utang keluarga Binar lunas dan sewa kamar kosnya di dekat kampus resmi berakhir, Binar akhirnya mengemas seluruh barang pribadinya.
Mobil SUV hitam milik Arya berhenti di pelataran sebuah rumah bergaya modern-minimalis di kawasan perumahan yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kampus. Rumah itu cukup luas, dikelilingi pagar tinggi dengan kebun mawar merah yang terawat sangat asri di halaman belakang—sisi lain dari sang dosen killer yang tidak pernah terbayangkan oleh Binar sebelumnya.
"Kamar kamu di lantai dua, sebelah kiri," ujar Arya seraya menurunkan koper Binar dari bagasi mobil. Pria itu mengenakan kemeja polos warna hitam dengan lengan digulung longgar. "Kamar saya di sebelah kanan. Aturan pertama di rumah ini: hargai privasi masing-masing."
Binar mengangguk cepat. "Paham, Pak."
"Satu lagi," potong Arya sambil menatap Binar lurus-lurus dari balik kacamatanya. "Mulai hari ini, bimbingan skripsi tidak akan pernah dilakukan di kampus atau di kafe lagi. Bisnis properti saya sudah mulai berjalan dan waktu saya makin padat. Semua bimbingan dilakukan di rumah untuk menghemat waktu."
"Baik, Pak Arya."
"Dan di rumah," tambah Arya pendek, "panggil saya Mas Arya. Jangan bikin tetangga curiga."
Pipi Binar merona tipis sebelum ia buru-buru mengangguk dan membawa kopernya naik ke lantai atas.
Malam harinya, pukul delapan malam, Binar keluar dari kamarnya dengan perasaan canggung. Ia mengenakan gaun tidur bahan katun warna krem berpotongan longgar bertuliskan 'Cute' dengan gambar beruang kecil di bagian d**a. Rambut panjangnya yang biasa diikat rapi di kampus kini terurai bebas, basah sehabis keramas. Wajahnya polos tanpa polesan make-up sedikit pun.
Di ruang tengah lantai satu yang hangat, Arya sudah duduk di atas sofa empuk berlapis kulit. Sebuah laptop terbuka di hadapannya bersama tumpukan draf bab tiga skripsi Binar.
Namun, penampilan Arya di rumah sukses membuat Binar menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir.
Dosen yang biasa tampil kaku dengan kemeja rapi yang dikancingkan hingga leher itu kini hanya mengenakan kaus polos rumahan berwarna abu-abu tipis dan celana kain santai. Kaus tipis itu menjiplak dengan sangat jelas lekuk d**a bidang, bahu lebar, dan d**a ototnya yang atletis. Wajahnya yang tanpa kacamata tampak jauh lebih muda, tampan, dan matang—nyaris setara dengan jajaran aktor atau selebriti papan atas.
Ya Tuhan... batin Binar histeris. Gimana caranya aku fokus revisi statistik kalau dosen pembimbingku penampilannya kayak begini?!
"Kenapa berdiri di situ? Sini," panggil Arya tanpa mendongak dari layar laptopnya. Suaranya terdengar lebih berat dan ramah di suasana rumah yang hening.
Binar menelan ludah, lalu berjalan pelan dan duduk di ujung sofa yang sama, menjaga jarak sejauh mungkin dari Arya. Ia membuka laptopnya dan mengeluarkan catatan.
"Revisi bab tiga kamu secara garis besar sudah bagus," ujar Arya seraya menggeser lembaran draf skripsi ke arah Binar. "Analisis metodenya sudah tepat. Tapi bagian pembahasan indikator variabel X ini masih terlalu dangkal. Kamu harus tambahkan referensi jurnal lima tahun terakhir."
Binar mencoba fokus. "A-artinya saya harus tambah dua paragraf lagi di sub-bab B ya, Pak... eh, Mas?"
Arya mendongak. Pandangannya beradu dengan mata bulat Binar.
Untuk sepersekian detik, Reigha—pria di balik nama Arya—harus menahan napasnya. Di kampus, Binar adalah mahasiswi yang selalu tampil tegang, bertahan dari intimidasi dan fitnah Rian. Namun di rumah, di bawah pendar lampu pijar yang hangat, Binar kelihatan begitu polos, bersih, dan menggemaskan. Rambut basahnya yang beraroma sampo stroberi segar dan baju tidur bergambarnya membuat naluri pria dewasa dalam diri Reigha bergejolak hebat.
Reigha berdehem pelan untuk menguasai dirinya, mencoba mengingat kembali syarat nomor tiga dalam kontrak mereka: tidak boleh ada kontak fisik maupun perasaan.
"Iya, tambah di sub-bab B," kata Arya dengan nada suara yang dibuat sedatar mungkin, walau tenggorokannya mendadak terasa kering. "Coba periksa lagi rumus uji validitas di laptopmu."
Binar mengangguk, lalu menunduk menatap layar laptopnya. Namun, suhu udara di ruang tengah seolah mendadak naik beberapa derajat.
Satu jam berlalu dalam hening yang penuh tekanan emosional tak kasat mata. Binar yang mulai mengantuk berulang kali mengusap matanya, membuat gerakan-gerakan kecil yang menggemaskan saat kebingungan mengartikan rumus risetnya. Arya yang memperhatikannya dari samping harus mengepalkan tangan di bawah meja demi menahan diri agar tidak mengusap kepala mahasiswinya itu.
Hingga kemudian, bencana kecil itu terjadi.
Arya yang merasa sedikit gerah meregangkan tubuhnya di sofa. Tanpa sadar, ia menyingkap sedikit bagian bawah kaus abu-abunya untuk menyapu keringat di lehernya. Gerakan itu secara tidak sengaja memamerkan pahatan perut kotak-kotaknya yang kencang dan sempurna.
Binar yang baru saja berdiri hendak mengambil cangkir teh di meja mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak sempurna melihat pemandangan tak terduga itu.
Deg!
Sensasi panas membakar wajah Binar. Terkejut dan hilang fokus secara drastis, kaki Binar tersandung ujung karpet bulu di bawah meja!
"Aww!" Binar memekik saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan limbung ke depan.
"Binar!"
Melihat Binar akan jatuh tersungkur ke lantai keras, refleks Arya bekerja secepat kilat. Ia langsung mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Binar. Namun, karena dorongan gravitasi yang kuat dan posisi duduk Arya yang tak seimbang, tubuh tegap Arya justru ikut tertarik ke bawah!
BRUK!
Keduanya jatuh bersamaan ke atas karpet tebal di lantai.
Suasana mendadak hening total. Waktu seolah berhenti berputar.
Binar menahan napas dengan mata terbelalak lebar. Posisinya kini menindih d**a bidang Arya, kedua tangannya mencengkeram bahu tegap sang dosen. Dan yang paling mengerikan... karena jarak yang terlalu dekat saat jatuh, bibir manis Binar menempel sempurna di atas bibir tebal Arya.
Sensasi lembut, hangat, dan kejut listrik yang dahsyat menjalar melintasi aliran darah mereka dalam hitungan detik. Aroma maskulin Arya berbaur sempurna dengan wangi stroberi dari tubuh Binar.
Mata kelam Arya beradu langsung dengan mata bulat Binar yang panik. Jantung keduanya bergedup sangat kencang—bergemuruh liar bak pukulan genderang perang yang tak terkendali.
Dua detik yang terasa seperti satu keabadian itu akhirnya terputus.
Dengan wajah memerah padam hingga ke telinga, Arya segera menyadarkan diri dan mendorong tubuhnya berdiri tegak. Sementara Binar, yang panik setengah mati dan merasa jantungnya hampir melompat keluar dari d**a, langsung menyambar laptopnya secara asal!
"M-maaf! Maafkan saya, Mas Arya!" jerit Binar dengan suara melengking penuh kepanikan.
Tanpa menunggu balasan Arya, Binar memutar tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya menaiki anak tangga menuju lantai dua. Suara pintu kamarnya yang dibanting rapat dan dikunci dari dalam bergema keras di seluruh penjuru rumah.
Di ruang tengah, Arya berdiri mematung di samping sofa. Satu tangannya perlahan terangkat, menyentuh bibirnya sendiri yang masih menyisakan jejak kehangatan dan wangi stroberi.
Laki-laki itu bersandar pada dinding, memejamkan mata rapat-rapat seraya memegang dadanya yang bergetar hebat di balik kaus tipisnya.
Malam itu, di bawah atap rumah yang sama, Arya dan Binar sama-sama menyadari satu hal yang mengerikan: aturan perjanjian kontrak mereka telah retak. Mereka berdua kini berada tepat di atas garis batas yang sangat tipis... antara bimbingan skripsi, godaan, dan perasaan yang mulai melanggar batas.
"Sialan! Dasar tukang kabur!" Arya mengumpati Binar dengan sangat pelan, tapi bibirnya tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis.