Setiap sentimeter hembusan angin pagi yang menerobos masuk melalui celah korden kamar lantai dua terasa dingin, namun suhu tubuh Binar justru berbanding terbalik. Pipi gadis itu terasa membara, merah padam seperti udang rebus yang baru saja diangkat dari penggorengan.
Sejak insiden kecelakaan memalukan di atas karpet lantai ruang tengah semalam—ketika ia tersandung, melayang, dan secara tidak sopan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir lembut milik sang dosen pembimbing sekaligus suami kontraknya—Binar tidak berani menampakkan batang hidungnya sedikit pun. Ia mengurung diri di balik pintu kamar yang terkunci rapat. Semalam suntuk Binar tidak mampu memejamkan mata walau hanya sekejap. Bayangan rasa hangat yang menjalar di bibirnya, aroma maskulin wangi kayu cendana bercampur citrus yang menyerbu indra penciumannya, hingga tatapan mata kelam Pak Arya yang mengunci pandangannya saat tubuh mereka bertumpukan, terus-menerus berputar tanpa henti di dalam kepalanya.
"Argh! Bodoh! Bodoh banget sih kamu, Binar!" Binar meremas rambutnya yang kusut, meringis meratapi nasibnya di depan cermin.
Bagaimana mungkin ia bisa bersikap biasa saja setelah tanpa sengaja mencium dosen paling galak se-universitas? Dosen yang jangankan dicium, disapa di koridor kampus saja sudah sanggup membuat lutut para mahasiswa bergetar ketakutan!
Dengan gerakan super pelan, seolah-olah ia adalah seorang agen rahasia yang tengah menyusup ke sarang musuh, Binar memutar kunci pintunya. Klek. Ia membuka pintu hanya selebar dua jari, mengintip ke arah koridor lantai atas yang hening. Hidungnya menghirup udara luar, memastikan tidak ada tanda-tanda keberadaan pria atletis itu di sekitarnya. Setelah dirasa aman, Binar hendak melangkah keluar untuk berangkat kuliah.
Namun, baru saja satu kakinya terangkat untuk keluar pintu, sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan sangat familier menggelegar dari arah area ruang makan di lantai bawah.
"Mau sampai kapan berdiri di balik pintu? Rok kamu keluar dan kelihatan dari bawah sejak tadi, Binar! Turun sekarang dan sarapan!"
Jleg!
Tubuh Binar membeku seketika. Jantungnya serasa merosot sampai ke telapak kaki. Binar menunduk secara refleks, dan benar saja—ujung rok kain warna cokelat mudanya yang terjepit di sela bawah pintu kamar ternyata menjulur keluar, menjadi bukti otentik yang membongkar aksi sembunyi-sembunyinya.
Binar memukul-mukul udara di depannya dengan kepalan tangan, memasang wajah merengut paling jengkel. Dasar mata elang! Kenapa sih pandangan laki-laki itu selalu saja teliti di saat-saat yang paling tidak tepat?! maki Binar dalam hati. Aksi mengumpetnya yang memalukan baru saja ketahuan secara konyol oleh sang Bad Professor.
"Ba-baik, Mas..." sahur Binar dengan suara sedikit terbata.
Dengan kepala tertunduk dalam dan langkah yang diatur sedemikian rupa—mengendap-endap persis seperti seekor kucing liar yang takut ketahuan mencuri ikan asin—Binar menuruni satu per satu anak tangga. Posisinya yang sangat canggung dan wajahnya yang memerah padam secara tidak sengaja tertangkap oleh mata Arya.
Di ujung meja makan, Arya yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas bergeming. Laki-laki itu harus mengerahkan seluruh kekuatan batinnya, mati-matian menahan sudut bibirnya agar tidak tertarik membentuk senyuman. Wajah dan tingkah polos mahasiswinya itu terlihat sangat menggemaskan dan lucu. Namun, demi mempertahankan reputasinya sebagai pria matang dan dosen dingin berwibawa, Arya buru-buru memasang kembali topeng wajah datarnya yang kaku.
"Duduk," perintah Arya singkat, menunjuk kursi kayu di hadapannya dengan dagu.
Binar melangkah makin pelan mendekati meja makan. Namun, begitu matanya menangkap penampilan Arya pagi ini, napas Binar mendadak tercekat di tenggorokan. Ia menelan ludahnya kasar.
Arya tidak mengenakan kemeja rapi berkerah seperti biasa. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu hanya mengenakan kaus polos rumahan berwarna abu-abu tua yang sedikit ketat di bagian d**a dan lengan. Kaus itu membingkai dengan sangat sempurna bentuk tubuhnya yang tinggi tegap dan atletis. Dan yang paling berbahaya, ingatan Binar secara otomatis memutar kembali adegan semalam—saat kaus pria itu tersingkap dan memperlihatkan deretan perut kotak-kotak yang terukir sempurna.
Ya Tuhan... ketat banget kausnya. Itu perut kenapa bentuknya masih berbayang jelas begitu sih dari balik kain? batin Binar histeris.
Pikiran-pikiran aneh tiba-tiba berkejaran di dalam kepala kecilnya. Binar mulai membayangkan hal-hal yang tidak senonoh. Kira-kira... sekeras apa ya perut kotak-kotak itu kalau diraba langsung pakai tangan? Apa rasanya kayak batu kali, atau kayak—
ASTAGA BINAR!
Binar mendadak menggelengkan kepalanya secara brutal hingga rambut panjangnya terkibas ke kiri dan ke kanan. Kesadaran menghantamnya keras-keras bahwa pikirannya baru saja terkontaminasi oleh hal-hal yang sangat m***m!
Wajah Binar kini membara jauh lebih hebat dari sebelumnya. Dengan gerakan panik, ia buru-buru menarik kursi dan duduk. Kepalanya menunduk sangat dalam hingga dagunya hampir menempel di d**a. Kedua jemarinya di bawah meja saling memilin kencang. Bibirnya mulai komat-kamit, mengucapkan doa pertobatan tanpa suara dengan sangat cepat.
Duh Gusti Allah, ampuni Binar... Binar khilaf. Bersihkan otak Binar dari pikiran-pikiran tidak sopan pada Dosen Pembimbing sendiri. Usir semua bayangan perut kotak-kotak Pak Arya dari kepala Binar. Aamiin, Aamiin ya Rabbal Alamin...
Arya yang memperhatikan tingkah aneh mahasiswinya dari balik piring nasi goreng mengerutkan kening. Dilihatnya Binar yang menunduk dalam, bibirnya bergerak-gerak cepat seperti sedang merapalkan mantra sihir.
"Kamu lagi baca mantra ya, Binar? Mau pelet saya?" ucap Arya dengan nada datar, namun kalimatnya terdengar begitu kurang ajar di telinga Binar.
DEG!
Ucapan tanpa perasaan itu seketika membuat kepala Binar menegak lurus. Matanya membelalak lebar, menatap Arya dengan tatapan tidak terima yang sangat jelas. Rasa malu yang tadinya membumbung tinggi kini berganti menjadi kekesalan yang membakar d**a. Seperti biasa, segala macam umpatan, caci maki, dan sumpah serapah yang sedang diproduksi oleh otak kecilnya tergambar secara sangat transparan di raut wajahnya, meskipun bibirnya dipaksa untuk membentuk sebuah senyuman.
"Ma-mana mungkin! Saya sedang baca doa, Pak!" balas Binar seraya memaksakan senyum paling manis yang sanggup ia pamerkan, walau matanya melotot tajam.
Bagaimanapun juga, Binar harus sadar diri. Laki-laki menyebalkan yang duduk di hadapannya ini adalah donatur utama dalam hidupnya saat ini. Pria inilah yang melunasi utang ratusan juta keluarganya, menjamin nilai skripsinya, dan memberi kompensasi ratusan juta di akhir kontrak. Karena alasan finansial yang sangat krusial itulah, Binar bertekad akan terus bersikap manis, menelan kembali seluruh kata-kata kasar yang sudah terkumpul di ujung lidahnya.
"Doa apa? Doa makan setahuku tidak sepanjang dan secepat itu," balas Arya lagi dengan santai. Laki-laki itu tampaknya masih belum memiliki niatan sedikit pun untuk menghentikan aksinya menggoda sang istri kontrak.
Binar memutar otaknya secepat kilat, mencari alasan paling masuk akal demi menyelamatkan harga dirinya.
"Saya... saya berdoa semoga Bapak makin kaya, banyak uangnya, makin sukses kariernya, makin baik sama saya, dan bisnis properti Bapak sukses terus!" ucap Binar mengarang bebas dengan nada berapi-api. Raut wajahnya memancarkan kepasrahan dan kepalsuan yang sangat kentara.
Arya yang baru saja mau menyuapkan sendok berisi nasi goreng ke dalam mulutnya terhenti di udara. Ia menatap Binar lurus-lurus.
"Semua doa kamu berhubungan dengan uang ya?" balas Arya pendek sebelum memasukkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya pelan.
"Soalnya saya suka uang, Pak," sahut Binar jujur tanpa ragu sedikit pun.
UHUK!
Arya nyaris tersedak nasi gorengnya sendiri mendengar jawaban jujur Binar yang dia ucapkan dengan wajahnya yang polos. Laki-laki itu mulai berpikir, kehadiran Binar di dalam hidupnya membuat hari-hari pelariannya menjadi lebih berwarna. Rumahnya juga menjadi lebih hangat, dan hatinya juga... lebih hangat dan seolah hidup kembali, setelah sempat mati karena trauma akan fitnah kejam di masa lalu.