Sudah hampir lima belas menit Ratna mondar-mandir mirip setrikaan gosok. Bibirnya mendumel tidak karuan, merutuki nasib setelah kejadian beberapa saat lalu. Malunya nyaris sampai ke ubun-ubun. Ratna mengacak rambut frustrasi. Ia menggebrak kotak kardus di samping tempat tidur dengan kakinya. Alhasil, gadis itu merintih ngilu. Baru juga sembuh, masa mau sakit lagi? Batinnya memelas.
"Kenapa nggak coba diterima aja?" Joy duduk santai di kasurnya. Ia baru kembali dari kamar mandi. Membersihkan tangan dengan tisu basah di atas meja, lalu mengeringkannya dengan tisu biasa.
"Apanya? Maksudmu apa, Joy?! Jangan bikin aku makin kesel deh! Sejak kapan kamu jadi berpihak ke Ravi?! Aku ini teman sekamarmu tau! Harusnya kamu berpihak padaku!" omel Ratna menggebu-gebu. Kakinya terangkat ke atas, dud