Langkah kaki Aura berketuk tegas di atas lantai keramik koridor lantai dua gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Pagi masih terbilang muda, tetapi aura persaingan dan aroma kertas dokumen yang khas sudah menyelimuti udara.
Aura sengaja memilih jam ini, saat lorong-lorong kampus belum terlalu padat, tetapi cukup terang untuk membuat penampilannya disadari oleh siapa pun yang berpapasan dengannya.
Hari ini, Aura tidak berpakaian seperti mahasiswi yang hendak menghadiri kuliah seminar biasa.
Ia mengenakan atasan knit berwarna krem pucat berpotongan asimetris yang sedikit mengekspos tulang selangkanya. Dipadukan dengan celana kain high-waist bergaris tajam yang mempertegas pinggang ramping dan kakinya yang jenjang.
Rambut hitamnya dibiarkan jatuh bergelombang di atas bahu, menyebarkan aroma parfum vanilla dan woodsy yang mahal setiap kali ia bergerak.
Sebuah sandiwara kecil untuk sebuah Porsche 911 Speedster.
Aura berhenti di depan pintu kayu jati berpelat kuningan bertuliskan nama Dr. Dante Moretti, M.Sc. Ia menarik napas dalam-dalam, memoleskan senyum percaya diri yang biasa ia gunakan untuk menaklukkan lawan bicaranya, lalu mengetuk pintu tiga kali.
"Masuk."
Suara di dalam ruangan terdengar berat, dalam, dan tanpa jeda hesitated sedikit pun.
Aura mendorong pintu kayu itu perlahan.
Udara dingin dari sistem pendingin ruangan langsung menyambutnya. Membawa campuran aroma kopi hitam tanpa gula, kertas korporat tua, dan sentuhan parfum maskulin yang samar tetapi tegas.
Ruang kerja Dante sangat tertata, teratur hingga pada titik yang hampir terkesan steril. Tidak ada kertas yang mencengkeram sudut meja secara berantakan; semuanya tersusun presisi.
Di balik meja kayu mahoni besar itu, Dante Moretti duduk dengan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga separuh lengan bawahnya. Menampilkan garis lengan yang kokoh dan jam tangan komersial biasa yang melingkar di pergelangan tangannya.
Kacamata berbingkai tipis menengger di pangkal hidungnya. Tangannya sedang memegang pena fountain, menuliskan sesuatu pada draf berkas di depannya.
Dante tidak langsung mendongak saat Aura melangkah masuk.
"Selamat pagi, Pak Dante."
Suara Aura mengalun lembut, sedikit rendah, sengaja mengambil nada bicara yang intim dan santai.
Dante menyelesaikan goresan penanya di atas kertas, melepas kacamatanya dengan satu tangan, lalu meletakkannya di atas meja. Baru setelah itu mata cokelat gelapnya terangkat, menatap Aura secara langsung.
Tatapan itu tidak ramah, tidak juga sinis. Itu adalah tatapan menilai yang begitu tajam, dingin, dan lugas. Seolah sanggup menembus setiap lapis alasan yang Aura bawa ke dalam ruangan ini.
"Miss Sampurna," sebut Dante.
Suaranya terdengar profesional tanpa riak emosi.
"Ada perlu apa? Saya tidak ingat punya jadwal bimbingan akademik denganmu pagi ini."
Aura tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati meja kerja Dante, sengaja membiarkan ketukan heels-nya menggema pelan di dalam ruangan yang hening.
Bukannya duduk di kursi mahasiswa yang telah disediakan di depan meja,
Aura justru berjalan memutar sedikit ke arah sisi meja tempat Dante duduk.
Aura bersandar tipis di tepi kayu meja, menyilangkan kakinya, dan menatap Dante dari jarak yang tidak lagi pantas untuk ukuran hubungan dosen dan mahasiswi.
"Memang tidak ada jadwal, Pak."
Aura memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam iris mata Dante yang gelap.
"Tapi saya merasa draf analisis kasus Hukum Bisnis Internasional yang Bapak berikan minggu lalu ... terlalu rumit kalau cuma dibahas di dalam kelas yang penuh orang."
Aura membungkukkan tubuhnya sedikit, berpura-pura hendak menunjukkan catatan di dalam layar tablet yang ia pegang.
Gerakan itu membuat potongan baju asimetrisnya semakin rendah, menyorot leher dan tulang selangkanya secara terang-terangan di bawah sorotan lampu ruangan.
Aroma parfum manisnya mendadak menginvasi seluruh ruang bernapas Dante.
Dante tidak bergeming. Ia tidak mundur, tidak mengalihkan pandangannya ke d**a Aura, dan tidak juga menunjukkan gestur risih. Pria itu tetap bersandar santai di posisi duduknya, menatap Aura dengan ketenangan yang intimidatif.
"Bagian mana yang tidak kamu pahami?" tanya Dante pendek.
"Semuanya," bisik Aura. Suaranya sengaja diturunkan setengah nada.
"Terutama soal bagaimana sebuah pihak bisa mengambil alih kendali atas pihak lain tanpa disadari. Saya merasa butuh ... bimbingan yang jauh lebih personal."
Aura mengulurkan tangannya untuk meletakkan tablet di atas meja kerja Dante.
Saat menjangkau permukaan kayu, jemari Aura yang berpoles kuku rapi secara 'tidak sengaja' mengusap pergelangan tangan Dante.
Kulitnya yang halus dan dingin bersentuhan langsung dengan kulit hangat dan urat-urat menonjol di tangan pria itu.
Sebuah getaran halus meletup di udara. Aura menahan napasnya, menunggu reaksi impulsif dari Dante. Mungkin canggung, batuk kecil, atau setidaknya tatapan mata yang sedikit salah fokus seperti kebanyakan pria seusianya yang pernah Aura goda.
Namun Dante tidak melakukan semua itu.
Justru secara perlahan, Dante menegakkan posisi duduknya. Tangannya yang ditumpangi jemari Aura tidak ditarik kembali.
Dante justru mengembalikan sentuhan tersebut dengan membalikkan pergelangan tangannya, membuat jemari panjangnya yang hangat dan berkapalan halus di bagian telapak memegang pergelangan tangan Aura secara mantap.
Cengkeraman itu tidak menyakitkan, tetapi cukup kuat untuk menahan Aura di tempatnya.
"Kamu terlalu percaya diri dengan permainanmu, Aura," gumam Dante.
Suaranya begitu rendah dan dalam, bergema tepat di d**a Aura.
Aura merasakan jantungnya berdetak cepat secara mendadak. Senyum percaya diri di bibirnya sempat goyah selama sepersekian detik.
"Maksud Pak Dante apa?"
Dante menarik lengan Aura perlahan, tidak kasar tetapi tak terelakkan. Dan itu membuat Aura terpaksa memajukan tubuhnya semakin mendekat hingga wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter.
Aura bisa merasakan embusan napas hangat Dante yang teratur menyapu pipinya. Aroma cedarwood dan kopi pekat dari pria itu mendadak terasa begitu memabukkan dan menyerap seluruh konsentrasinya.
Mata cokelat gelap Dante mengunci tatapan Aura tanpa celah. Tidak ada lagi dinginnya dosen akademis di sana. Yang tersisa hanyalah intensitas pria dewasa yang sedang membaca seluruh strategi di kepala lawannya.
"Pakaian yang dikondisikan. Parfum yang terlalu kuat untuk jam delapan pagi. Dan sentuhan jari yang sengaja ditahan,"
Dante menyebutkan setiap aksinya dengan nada tenang yang sangat berwibawa.
"Kamu tidak datang ke sini untuk belajar Hukum Bisnis. Kamu datang untuk menguji sejauh mana kamu bisa memegang kendali atas diri saya."
Tenggorokan Aura mendadak terasa kering. Intimidasi fisik yang dipancarkan Dante begitu nyata, meruntuhkan d******i yang semula ingin ia bangun.
Aura mencoba menaikkan dagunya, berusaha keras mempertahankan wibawa sebagai seorang anak konglomerat yang tak pernah ditolak.
"Kalau memang begitu..." bisik Aura dengan nada menantang yang tertahan, "apa Pak Dante merasa terganggu?"
Dante menatap bibir Aura yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap matanya. Senyum tipis yang sarat akan d******i dan ancaman tersirat perlahan terukir di sudut bibir pria itu.
Dante memajukan wajahnya sedikit lagi, mendekatkan bibirnya ke telinga Aura hingga hembusan suaranya yang berat membuat bulu kuduk gadis itu berdiri seketika.
"Saya tidak pernah terganggu oleh hal-hal kecil, Miss Sampurna."
Dante berbisik rendah. Jemarinya di pergelangan tangan Aura bergerak perlahan, mengusap nadi gadis itu yang sedang berdenyut kencang.
"Tapi kalau kamu berniat bermain api di ruangan ini ...."
Dante menggantung kalimatnya, membiarkan keheningan yang sarat tensi sensual memenuhi udara di antara mereka. Ia memiringkan kepalanya, menatap lurus ke dalam mata Aura yang kini mulai dipenuhi keraguan.
"Pastikan kamu tahu cara memadamkannya sebelum diri kamu sendiri yang terbakar."