"Sialan!"
Aura mengumpat rendah saat melangkah keluar dari ruangan itu. Tanpa memedulikan etika atau citra putri konglomerat yang biasanya ia jaga ketat.
Aura memutar tubuhnya dan membanting pintu kayu jati berpelat kuningan itu sampai terdengar dentuman keras yang bergema di sepanjang koridor.
BAM!
Beberapa mahasiswa yang sedang melintas di koridor lantai dua mendadak menghentikan langkah dan menoleh kaget.
Aura tidak peduli. Ia menghentakkan kakinya dengan gusar, membuat ketukan heels-nya berbunyi nyaring di atas lantai keramik saat ia berjalan cepat meninggalkan area Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
"Pria arogan sok suci!"
Aura mencengkeram tablet di dadanya erat-erat. Wajahnya terasa panas, bukan hanya karena emosi, tetapi juga karena rasa malu dan intimidasi tak terduga yang baru saja ia terima.
Dante Moretti tidak hanya menolak godaannya. Pria itu memojokkannya, membaca rencananya dengan telanjang, dan memperlakukannya seolah ia hanyalah anak kecil yang sedang belajar bermain api.
Napas Aura memburu saat ia bersandar pada dinding koridor dekat tangga. Jantungnya masih berdegup kencang secara tidak beraturan.
Ketegangan fisik di dalam ruangan tadi masih menyisa di permukaan kulitnya, terutama di pergelangan tangan tempat jemari Dante sempat menahannya dengan d******i yang dingin.
Aura membenci kenyataan bahwa untuk pertama kalinya dalam hidup, ada pria yang sanggup membuat pertahanannya runtuh seketika.
"Kita lihat saja nanti, Pak Moretti."
Aura berbisik tajam pada udara kosong, menatap pintu ruangan tempat dosen itu berada dengan pandangan menyala-nyala.
"Kunci Porsche itu bakal kembali ke tanganku, dan saat hari itu tiba, aku yang bakal bikin kamu berlutut."
Langkah kaki Aura yang berketuk tegas dari tumit heels-nya serta dentuman keras pintu yang dibanting perlahan menghilang di sepanjang koridor luar.
Parfum manis beraroma vanilla dan woodsy yang sempat menguasai ruangan itu kini perlahan menguap, tergantikan kembali oleh aroma murni kayu jati, kertas dokumen, dan sisa kopi hitam yang mendingin.
***
Sementara itu.
Dante masih bergeming di kursinya. Suasana hening mendadak menyerap seluruh sudut ruangan kerja yang steril itu.
Dante melirik pergelangan tangannya sendiri, tempat di mana jemari Aura sempat tertahan beberapa saat lalu.
Nadi gadis itu berdenyut begitu cepat, menyuarakan kepanikan terselubung yang berusaha disembunyikan di balik topeng kepercayaan diri seorang putri konglomerat.
Dante menyunggingkan senyum tipis. Senyum yang tidak menyimpan kehangatan sedikit pun, melainkan dingin dan penuh kalkulasi.
"Gadis yang menyedihkan," gumam Dante rendah pada ruangan yang kosong.
Dante menegakkan tubuhnya, melepas kacamata berbingkai tipis yang melingkar di wajahnya, lalu meletakkannya di atas meja.
Dengan gerakan yang sangat teratur, Dante menjangkau saku dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah kunci kecil berukiran unik bernuansa perunggu kusam.
Dante membungkuk sedikit ke bawah meja kayu mahoninya. Ia memasukkan kunci tersebut ke dalam lubang rahasia yang terselip rapi di antara panel kayu bagian dalam. Lalu memutarnya dua kali hingga suara klik mekanis yang sangat halus terdengar.
Panel samping meja bergeser pelan, menampilkan sebuah brankas besi rahasia bertipe digital-mechanical yang terintegrasi langsung dengan struktur meja kerja tersebut.
Dante memasukkan enam digit angka secara presisi.
Pintu brankas terdorong terbuka.
Tidak ada batangan emas atau tumpukan uang tunai di dalamnya.
Dante mengulurkan tangannya yang panjang, mengambil sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang sudah agak mengelupas di bagian sudut-sudutnya.
Map itu berdebu halus, menyimpan kenangan pahit yang telah ia kunci rapat-rapat selama belasan tahun.
Dante membukanya di atas meja.
Di lembar paling atas, terhampar sebuah foto berukuran sedang dengan warna yang sudah agak memudar.
Foto bertahun 2010 itu menampilkan sebuah keluarga kecil di depan pelabuhan.
Seorang pria Italia paruh baya tersenyum bangga dengan merangkul seorang anak laki-laki berusia belasan tahun yang memiliki garis wajah persis seperti Dante.
Di samping mereka, berdiri seorang wanita Indonesia yang anggun yang tersenyum lembut.
Keluarga Moretti.
Namun di bawah foto tersebut, tersimpan lembaran-lembaran fakta yang menghancurkan senyuman di dalam foto itu sampai tak berbekas.
Dante menarik keluar sebuah sertifikat kepemilikan bernomor seri lama yang kertasnya sudah menguning.
Di pojok kanan atas dokumen legal itu, tertera stempel embossing tebal bertinta emas yang sangat mencolok.
Sebuah lambang megah berwujud mahkota dan garis geometris modern.
Logo Sampurna Group.
Sertifikat pengalihan aset secara paksa.
Dokumen manipulasi kepemilikan yang dirancang secara licik oleh keluarga Sampurna untuk merebut seluruh jalur pelayaran dan armada milik Moretti Shipping.
Menyudutkan ayah Dante ke dalam tuduhan penipuan publik hingga mengakhiri hidupnya dalam kemiskinan dan ketidakadilan.
Jemari Dante mencengkeram tepi sertifikat tersebut hingga kertas tebal itu meremuk pelan di bawah tekanannya.
Mata cokelat gelapnya yang semula dingin kini membara oleh emosi yang tertahan bertahap.
Dendam yang Dante pupuk saban hari di balik kemeja rapi dan gelar akademisnya.
Aura Sampurna pikir gadis itu sedang memainkannya. Gadis itu pikir godaan murahan dan taruhan Porsche di rooftop semalam adalah idenya sendiri bersama Chloe.
Aura tidak pernah tahu bahwa seluruh skenario itu sudah digariskan.
Dante yang membiayai pergerakan Chloe dari belakang.
Dante yang mengarahkan target itu pada dirinya sendiri.
Dan Dante yang menyusun jalan agar putri tunggal keluarga Sampurna masuk sendiri ke dalam jaring yang telah ia rentangkan.
Dante mengusap permukaan foto ayahnya dengan ujung ibu jarinya yang berkapalan halus.
"Satu langkah lagi."
Dante berbisikn dengan suara sekeras bisikan angin malam, tetapi sarat akan janji kehancuran.
"Aku akan mengambil kembali semua yang pernah mereka curi dari kita."
Dante memasukkan kembali map kulit itu ke dalam brankas, menutup pintunya hingga terkunci rapat, dan memutar kunci perunggunya kembali.
Dante mengenakan kacamatanya, mengambil pena fountain, dan kembali menatap layar laptopnya seolah tidak pernah terjadi apa pun.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, keluarga Sampurna yang akan membayar harganya sampai habis.