Aroma kertas tua, jilitan kulit, dan debu halus menyelimuti lantai dua perpustakaan kampus.
Di lorong nomor tujuh, lorong paling sepi yang memuat buku-buku literatur Hukum Bisnis Internasional dan Arbitrase, suasana begitu hening.
Hanya ada deru pendingin ruangan yang berhembus konstan, menciptakan hawa dingin yang kontras dengan gejolak di d**a Aura Sampurna.
Aura berdiri berpura-pura sedang mencari buku di rak setinggi dua meter. Namun, matanya tidak fokus pada judul-judul berhuruf emas di punggung buku.
Fokusnya tertuju pada sosok pria yang berdiri beberapa meter di sampingnya.
Dante Moretti.
Hari ini pria itu mengenakan kemeja katun berwarna biru pucat yang pas di badannya, menonjolkan bahunya yang lebar dan dadanya yang bidang.
Kacamata berbingkai tipis menengger rapi di pangkal hidungnya. Pandangannya tampak terpatri pada sebuah buku tebal berkulit gelap di tangannya.
Begitu tenang.
Begitu tak tersentuh.
Seolah insiden banting pintu di ruang kerjanya kemarin hanyalah angin lalu yang tidak meninggalkan bekas sama sekali.
Hal itu membuat rasa gemas dan gengsi di d**a Aura kian terbakar.
Aura merapikan posisi cangkir paper cup berisi cappuccino hangat di tangan kirinya.
Strategi hari ini harus berhasil.
Aura butuh kontak fisik yang tidak bisa ditolak oleh dosen berwajah batu ini. Sebuah alasan yang terkesan tak sengaja, tetapi cukup intim untuk merobohkan dinding profesionalisme Dante.
Dengan gerakan yang diperhitungkan, Aura melangkah mundur dua tapak, berlagak matanya terpaku pada rak paling atas, sebelum menyenggol siku Dante secara presisi.
"Oh—!"
Splat.
Cairan kopi manis hangat itu terpercik sempurna, menumpah sebagian besarnya ke bagian depan kemeja biru terang Dante.
Noda cokelat pekat meresap cepat ke serat kainnya, menempelkan bahan basah itu langsung ke permukaan d**a tegap sang dosen.
"Astaga! Pak Dante, maafkan saya!"
Suara Aura mengalun dramatis, sarat akan kepanikan palsu yang dirancang begitu halus.
Tanpa menunggu pria itu merespons, Aura melempar paper cup kosongnya ke dalam tempat sampah terdekat dan mengulurkan kedua tangannya.
Aura merapatkan tubuhnya, membiarkan jemari beroles kuku warna pastel miliknya mendarat tepat di d**a Dante.
Aura menekan telapak tangannya ke kain kemeja basah itu, berpura-pura mengusap noda kopi tersebut. Padahal ia sedang membelai kontur d**a tegap dan keras di balik kemeja tipis itu.
Dada Dante terasa hangat, padat, dan berotot di balik jemari Aura.
Rasa berani yang tiba-tiba berdesir di pembuluh darah membuat Aura makin berani. Ia menengadahkan kepalanya, menatap lurus pada bibir tipis Dante sebelum mengunci tatapan matanya.
"Maaf banget, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja," bisik Aura halus.
Napas beraroma vanilla menyapu leher Dante. Tangan Aura terus mengusap kain basah di d**a pria itu, memutar perlahan, membiarkan ujung jemarinya menekan lembut bagian tengah dadanya.
"Kemeja Bapak basah kuyup. Biar saya bantu bersihkan."
Aura siap menikmati reaksi canggung atau batuk gugup dari Dante. Namun, apa yang terjadi berikutnya justru membalikkan seluruh dunianya.
Dante tidak bergeming. Pria itu bahkan tidak menghentikan napasnya.
Dengan gerakan yang amat tenang, Dante menutup buku tebal di tangannya hingga menimbulkan suara thud pelan yang menggema di lorong sepi itu.
Pria itu menaruh bukunya di rak terdekat tanpa mengalihkan pandangan dari Aura. Mata cokelat gelap di balik lensa kacamatanya berkilat, bukan oleh rasa risih, melainkan oleh d******i murni yang mematikan.
Sebelum Aura sempat menarik tangannya, Dante mengambil satu langkah maju. Bukan sekadar langkah biasa.
Dante menyenggol pinggul Aura dengan pinggul kokohnya secara tegas, mendorong tubuh ramping gadis itu hingga punggungnya membentur rapi kayu keras rak buku di belakangnya.
Brak!
Aura menahan napas. Sebelum ia sempat memprotes, Dante memajukan seluruh tubuhnya, menutupi Aura sepenuhnya dari pandangan koridor luar.
Kedua tangan Dante terangkat dan mendarat di sisi kiri dan kanan kepala Aura, mengurung gadis itu dalam celah sempit di antara tubuhnya dan rak buku.
Hawa panas memancar dari tubuh Dante. Kain kemejanya yang basah oleh kopi hangat kini menempel erat di d**a Aura, menembus baju tipis yang dikenakan gadis itu.
Noda kopi yang semula dipasang sebagai perangkap, kini justru memindahkan rasa hangat dan kebasahan itu langsung ke kulit Aura sendiri.
"Kamu suka mengusap d**a saya, Miss Sampurna?"
Dante bergumam. Suaranya rendah, dalam, dan bergema tepat di depan wajah Aura.
Aura merasa tenggorokannya mendadak mengering. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam d**a, mengancam untuk melompat keluar.
Dominasi fisik yang dipancarkan Dante di lorong sepi ini beratus-ratus kali lebih tajam daripada di ruang kerja kemarin.
"Saya ... saya cuma mau bantu membersihkan noda kemeja Pak Dante,"
Aura berusaha menyusun keberanian di tengah lututnya yang mendadak terasa lemas.
Dante menyunggingkan senyum tipis. Sebuah senyuman dingin yang terkesan sangat berbahaya.
Dante menurunkan pandangannya dari mata Aura, menatap bibir bawah gadis itu yang gemetar tipis, lalu menyusuri leher jenjang dan tulang selangka Aura yang terekspos.
Dante membungkukkan tubuhnya lebih rendah lagi. Kacamata berbingkai tipisnya hampir menyentuh pipi Aura.
Embuhan napas Dante yang panas dan beraroma maskulin menembus kulit leher Aura, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri seketika.
"Sandiwara murahan yang kekanak-kanakan," bisik Dante tepat di lipatan leher Aura.
Jemari tangannya yang besar tidak lagi hanya bersandar di rak.
Ibu jari Dante bergerak turun, membelai rahang Aura secara perlahan tetapi pasti, menekan bagian bawah telinga gadis itu hingga Aura terpaksa mendongak.
Sentuhan kulit kasar ibu jari Dante membakar syaraf Aura. Ada ketegangan sensual yang begitu pekat membakar udara di antara mereka.
Sebuah gesekan berbahaya antara godaan gengsi Aura dan dendam kesumat yang tersimpan rapi di d**a Dante.
"Kamu ingin tahu bagaimana rasanya memegang kendali atas saya, kan?"
Dante berbisik lagi. Suaranya merayap intim, terasa seperti beludru basah yang mengelus ambang kesadaran Aura. Pria itu menekan pinggulnya sedikit lebih rapat ke tubuh Aura, memperjelas perbedaan ukuran tubuh dan kekuatan fisik di antara mereka.
Aura mencengkeram tepi kemeja Dante di bagian pinggang, entah untuk memotong jarak atau berusaha mendorong pria itu menjauh.
Otaknya berteriak untuk lari, tetapi tubuhnya membeku, terhipnosis oleh aura predator yang selama ini disembunyikan sang dosen di balik kacamata dan kemeja rapinya.
"Tatap mata saya, Aura," perintah Dante rendah, tegas, dan tak bantah.
Aura membuka matanya, menatap lurus ke dalam iris cokelat gelap yang terbakar oleh intrik tersembunyi itu.
Dante mendekatkan bibirnya ke telinga Aura, begitu dekat hingga bibirnya menyentuh daun telinga gadis itu secara tak sengaja saat ia berbicara.
Gesekan halus itu menyengat seluruh tubuh Aura hingga jemari kakinya mencengkeram bagian dalam sepatu heels-nya.
"Lain kali kalau kamu mau menyentuh d**a saya lagi ...."
Suara Dante berubah menjadi bisikan liar yang sengaja ditahan, sarat akan ancaman sensual yang tidak tersaring sama sekali.
"... pastikan kamu siap melepaskan seluruh pakaianmu. Karena begitu tanganmu menyentuh kulit saya di luar ruangan kampus, saya tidak akan membiarkanmu pulang dengan pakaian yang masih utuh."
Dante memiringkan kepalanya, membiarkan hidungnya mengusap garis leher Aura sejenak. Dia menghirup aroma parfum vanilla gadis itu dengan dalam dan intens, sebelum perlahan menarik tubuhnya kembali.
Dante merapikan letak kacamatanya dengan gerakan tenang yang teratur, seolah baru saja menyelesaikan sesi diskusi akademis yang biasa.
Senyum tipisnya telah menghilang, berganti kembali dengan topeng dosen dingin tanpa emosi.
Aura berdiri terpaku, bersandar layu di rak buku dengan napas terengah-engah dan wajah memerah padam.
Jantungnya berdegup gila-gilaan, dan area pergelangan kaki serta paha bagian dalamnya terasa gemetar secara involunter.
Dante melirik kemejanya yang bernoda kopi pekat, lalu menatap Aura lurus-lurus untuk terakhir kalinya.
"Permisi, Miss Sampurna. Saya harus mengganti kemeja saya."
Dante berbalik dan melangkah pergi dengan santai, meninggalkan Aura sendirian di lorong sepi yang mendadak terasa begitu panas dan sesak.