Raka terbangun dengan napas tersengal.
Dada naik turun, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia terduduk di ranjang, memegangi kepalanya yang terasa berat. Pandangannya berputar, pikirannya berkabut.
Apakah tadi mimpi?
Ia menoleh ke sudut kamar. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada Laila. Tidak ada sosok yang berdiri menatapnya dengan air mata mengalir.
Tapi kenapa perasaannya masih sesak?
Ia meraih ponsel di samping bantalnya, buru-buru membuka pesan terakhir yang ia terima.
Kosong.
Tidak ada pesan dari Laila. Tidak ada panggilan.
Tapi ia ingat. Ia sangat ingat.
Suara Laila. Bisikan itu.
"Aku menunggumu, Raka."
Seketika, jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang tidak benar. Sesuatu yang menunggu untuk ia temukan.
Di sekolah, suasana terasa sama seperti biasa.
Teman-temannya sibuk bercanda, membicarakan hal-hal remeh yang seharusnya juga ia pikirkan. Tapi Raka tidak bisa fokus.
Ia duduk di bangku taman, tempat yang selalu ia dan Laila tempati dulu. Jemarinya menggenggam pensil, tapi pikirannya kosong.
Sampai seseorang duduk di sampingnya.
Raka menoleh. Dan untuk sesaat, napasnya tercekat.
Itu Laila.
Ia ingin melompat, ingin bertanya bagaimana mungkin tapi sesuatu menahannya.
Laila hanya duduk di sana, tersenyum seperti biasa. Senyum yang selalu membuat Raka merasa tenang, tapi kali ini terasa berbeda.
"Laila…" suaranya pelan, hampir tidak terdengar.
"Kamu nggak lupa aku, kan?" suara Laila begitu lembut, tapi ada kesedihan yang tersembunyi di dalamnya.
Raka ingin menyentuhnya, memastikan bahwa ini nyata. Tapi sesuatu dalam dirinya berbisik: jangan.
Laila menatap lurus ke depan, ke arah langit yang mulai mendung. "Dulu aku suka langit, kamu ingat?"
Raka mengangguk pelan. "Iya. Kamu bilang langit itu menyimpan sesuatu."
Laila tersenyum kecil. "Tapi aku nggak pernah cerita apa yang aku lihat di sana, kan?"
Raka menggeleng.
Laila menarik napas dalam, lalu berbisik,
"Aku selalu melihat bayangan. Sesuatu yang menunggu. Dan aku takut."
Raka menelan ludah. "Laila… apa yang kamu maksud?"
Laila menoleh padanya, matanya yang indah kini tampak berkabut.
"Aku lelah, Raka."
Raka merasakan sesak di dadanya. "Apa maksudmu? Kamu di sini, kan?"
Laila tersenyum, tapi air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Aku cuma ingin kamu ingat aku."
Raka menggenggam buku sketsanya erat.
"Aku nggak pernah lupa. Aku nggak akan pernah lupa!"
Laila menatapnya lama, lalu perlahan bangkit dari bangku.
"Jangan cari aku, Raka," katanya pelan. "Tapi jangan lupakan aku."
Dan sebelum Raka bisa meraih tangannya
Laila menghilang.
Hanya angin yang tersisa.
Malam itu, Raka duduk di mejanya, menatap buku sketsa yang terbuka.
Halaman terakhirnya kosong.
Tidak ada gambar. Tidak ada tulisan.
Ia menggenggam pensil dengan tangan gemetar. Perlahan, ia mulai menggambar. Setiap garis, setiap bayangan, adalah kepingan dari seseorang yang ia cintai.
Dan saat ia selesai, ia menatap sketsa itu.
Itu adalah Laila.
Dengan mata yang berbinar. Dengan senyum yang ia rindukan.
Tapi ada satu hal yang berbeda.
Di gambar itu, Laila sedang menatap ke atas. Ke arah langit.
Dan di sana, di antara awan kelabu, ada sesuatu yang samar.
Bayangan.
Seperti yang pernah Laila katakan.
Raka merasakan matanya memanas. Air mata jatuh tanpa bisa ia cegah.
"Laila…" bisiknya.
Ia menggenggam buku sketsanya erat, seperti berusaha menahan sesuatu yang tidak bisa ia miliki lagi.
Tapi di dalam hatinya, ia tahu.
Laila tidak benar-benar pergi.
Ia masih di sini.
Dalam setiap sketsa yang Raka buat.
Dalam setiap kenangan yang ia simpan.
Dalam setiap hembusan angin yang membisikkan namanya.
Dan dalam keheningan malam itu, untuk pertama kalinya, Raka tersenyum di antara air matanya. Karena ia tahu, Laila masih menatapnya. Dari langit yang dulu ia cintai.
Hujan turun malam itu.
Raka berdiri di depan jendela kamarnya, menatap titik-titik air yang jatuh tanpa henti. Suara hujan biasanya membuatnya tenang, tapi kali ini hanya meninggalkan kehampaan.
Buku sketsa terbuka di mejanya. Gambar terakhirnya masih sama Laila menatap langit, dengan bayangan samar di atasnya.
Raka menyentuh gambar itu perlahan, seolah bisa merasakan kehadiran Laila. Tapi yang tersisa hanya kertas dingin.
Jangan cari aku, Raka. Tapi jangan lupakan aku.
Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.
Tapi bagaimana mungkin ia melupakan seseorang yang telah menjadi bagian dari dunianya?
Bagaimana mungkin ia bisa mengabaikan perasaan yang masih mengikatnya erat?
Keesokan paginya, di sekolah, suasana terasa aneh.
Semua orang berbisik-bisik, tapi tidak ada yang mau berbicara langsung kepadanya. Raka hanya duduk di bangkunya, merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Hingga akhirnya, Dito teman sekelasnyamendekat dengan wajah tegang.
“Raka… lo udah dengar beritanya?” tanyanya pelan.
Raka mengernyit. “Berita apa?”
Dito terdiam sesaat sebelum menghela napas panjang.
“Soal Laila.”
Jantung Raka berdetak lebih cepat. “Kenapa dengan Laila?”
Dito menatapnya dengan ragu, sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata yang membuat dunia Raka runtuh dalam sekejap.
“Dia… dia ditemukan di kamarnya tadi pagi.”
Suara Dito bergetar.
“Laila… udah nggak ada, Rak.”
Dunia terasa berhenti.
Suara di sekitar Raka menghilang. Nafasnya tercekat. Tubuhnya mendadak dingin.
Tidak. Ini tidak mungkin.
Laila masih menemuinya kemarin.
Laila masih berbicara padanya.
Laila… masih ada.
Tapi wajah Dito yang penuh kesedihan mengatakan sebaliknya.
Laila sudah pergi.
Untuk selamanya.
Pemakaman Laila dihadiri banyak orang.
Teman-temannya menangis, keluarganya berdiri dalam diam. Tapi Raka tidak bisa merasakan apa-apa.
Ia hanya berdiri di sana, menatap gundukan tanah yang masih basah.
Tangannya mengepal. Buku sketsa ada di genggamannya.
Mereka bilang Laila memilih pergi sendiri. Bahwa ia telah lama menyimpan kesedihan yang tidak diketahui siapa pun.
Tapi bagaimana mungkin?
Laila selalu tertawa. Laila selalu ceria.
Atau mungkin… semua itu hanya topeng?
Raka merasakan air matanya jatuh untuk pertama kalinya.
Kenapa ia tidak pernah melihat kesedihan di balik senyum Laila?
Kenapa ia tidak pernah bertanya lebih jauh?
Kenapa ia tidak pernah mencoba menahannya lebih lama?
Malam itu, Raka kembali ke kamarnya, menutup pintu, lalu merosot ke lantai.
Tangannya gemetar saat membuka buku sketsa.
Ia menatap gambar terakhirnya.
Laila.
Menatap langit dengan bayangan yang mengintai di atasnya.
Dan saat itu, ia mengerti.
Laila sudah lama melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Dan ia sudah lama berada di ambang jurang yang tak terlihat.
Tapi tidak ada yang menyadarinya. Tidak ada yang mencoba menahannya.
Termasuk Raka.
Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
Ia ingin berteriak. Ingin menyalahkan dunia.
Tapi apa gunanya?
Laila sudah pergi.
Yang tersisa hanya kenangan.
Dan langit kelabu yang kini terasa lebih kosong dari sebelumnya.
Malam itu, Raka tidak bisa tidur.
Matanya terus menatap langit-langit kamarnya, kosong. Pikirannya melayang ke semua momen bersama Laila tawa kecilnya, tatapan matanya, suara lembutnya saat berbicara.
Tapi semua itu kini hanya bayangan. Kenangan yang terasa begitu dekat, tapi tak bisa lagi ia sentuh.
Tangannya meraih buku sketsa yang tergeletak di lantai. Jari-jarinya gemetar saat membukanya.
Di sana, Laila masih ada.
Setiap halaman dipenuhi sketsa dirinya senyumnya, tatapannya, bahkan caranya menunduk saat berpikir.
Raka menahan napas saat melihat sketsa terakhir.
Gambar yang ia buat sehari sebelum Laila pergi.
Laila, menatap langit dengan mata kosong.
Dan saat itu, Raka menyadari sesuatu.
Mata itu… memang selalu menyimpan kesedihan.
Tapi kenapa baru sekarang ia bisa melihatnya?
Kenapa ia begitu bodoh?
Esok paginya, Raka pergi ke rumah Laila.
Di sana, suasana masih dipenuhi duka. Orang-orang datang dan pergi, wajah mereka penuh kesedihan.
Ibunda Laila duduk diam di sofa, matanya bengkak karena menangis terlalu lama.
Raka mendekat perlahan. “Tante…”
Wanita itu menoleh, lalu tersenyum kecil senyum yang dipaksakan. “Raka…” suaranya parau. Raka menelan ludah. “Boleh… aku lihat kamar Laila?”
Sang ibu menatapnya sesaat, lalu mengangguk pelan.
Kamar Laila masih sama.
Wangi parfum lembutnya masih tertinggal di udara. Buku-bukunya masih tertata rapi di meja. Bahkan, jaket yang sering ia pakai masih tergantung di kursi.
Seolah-olah ia hanya pergi sebentar dan akan kembali kapan saja.
Tapi tidak.
Dia tidak akan kembali.
Mata Raka tertuju pada meja belajar. Ada sesuatu di sana.
Sepucuk surat.
Tangan Raka gemetar saat mengambilnya. Kertas itu ringan, tapi terasa begitu berat di tangannya.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mulai membaca.
Untuk seseorang yang aku cintai, tapi mungkin tak bisa kumiliki…
Raka…
Aku tahu kamu pasti akan membenci aku setelah ini. Aku tahu kamu pasti akan bertanya-tanya kenapa. Tapi percayalah, aku sendiri pun tidak tahu jawabannya.
Aku hanya… lelah.
Aku lelah berpura-pura bahagia. Aku lelah memakai topeng ini setiap hari.
Semua orang melihatku tersenyum, tertawa, bercanda. Tapi tidak ada yang pernah benar-benar melihatku.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah aku baik-baik saja.
Sampai kamu datang.
Kamu berbeda, Raka.
Kamu tidak hanya melihat senyumku, tapi juga kesedihanku. Kamu tidak hanya mendengar tawaku, tapi juga keheninganku.
Aku ingin sekali bertahan untukmu. Aku ingin sekali mempercayai bahwa dunia ini masih bisa memberiku alasan untuk tetap tinggal.
Tapi luka di dalam hatiku sudah terlalu dalam.
Aku takut, Rak. Aku takut suatu hari kamu akan melihat diriku yang sebenarnya dan menyadari bahwa aku bukanlah gadis yang kamu pikirkan.
Aku takut kamu akan pergi, seperti yang lain.
Jadi, sebelum itu terjadi… aku memilih untuk pergi lebih dulu.
Jangan menangis untukku, Raka. Jangan menyalahkan dirimu.
Aku hanya ingin kamu tahu satu hal.
Aku mencintaimu.
Tapi aku tidak bisa bertahan hanya dengan cinta.
Maafkan aku.
Laila.
Surat itu terlepas dari tangan Raka.
Ia tidak bisa bernapas.
Matanya panas, dadanya sesak.
Sebuah tangisan tertahan di tenggorokannya, tapi tidak bisa keluar.
Laila mencintainya.
Tapi Laila juga telah memilih untuk pergi.
Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Hatinya hancur berkeping-keping.
Ia ingin berteriak.
Ia ingin mengulang waktu.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Laila sudah pergi.
Dan tidak ada yang bisa mengubahnya.
Raka masih duduk di lantai kamar Laila.
Surat itu tergeletak di sampingnya, kertasnya bergetar karena jemarinya masih gemetar. Dadanya masih terasa sesak.
Ia ingin percaya bahwa ini semua hanya mimpi buruk. Bahwa ketika ia bangun nanti, Laila akan tetap di sini, tersenyum seperti biasa. Tapi udara di kamar ini terlalu sunyi.
Laila tidak akan kembali.
Mata Raka terpaku pada laci meja belajar yang sedikit terbuka. Entah kenapa, ada sesuatu yang mendorongnya untuk membuka laci itu.
Dengan tangan gemetar, ia menarik laci tersebut.
Di dalamnya, ada sebuah buku harian.
Raka menatapnya lama.
Apakah ini benar? Apakah ia pantas membaca ini?
Tapi hati kecilnya berkata bahwa di dalam buku itu, ada sesuatu yang harus ia ketahui.
Perlahan, ia membuka halaman pertama.
1 Februari
Hari ini aku tersenyum lagi di sekolah. Semua orang bilang aku ceria, menyenangkan, dan penuh energi. Mereka tidak tahu bahwa aku ingin menangis.
Mereka tidak tahu bahwa setiap malam aku bertanya-tanya… apakah besok aku masih ingin bangun?
Tapi aku tetap tertawa. Karena jika aku berhenti, mereka akan bertanya. Dan aku tidak mau menjawab.
10 Maret
Aku bertemu Raka di taman sekolah hari ini. Dia selalu sendirian. Aku penasaran, kenapa?
Aku ingin berbicara dengannya, tapi aku takut.
Aku takut dia bisa melihat sesuatu dalam diriku yang tidak bisa dilihat orang lain.
15 Maret
Aku akhirnya berbicara dengannya. Dia baik. Tenang. Berbeda.
Matanya… melihatku dengan cara yang tidak pernah dilakukan orang lain.
Aku takut, tapi aku juga merasa lega.
2 April
Aku semakin dekat dengan Raka.
Dia tidak tahu, tapi setiap kali dia menggambar, aku memperhatikannya. Aku suka caranya menggoreskan pensil di atas kertas. Setiap garis yang ia buat terasa nyata, seperti perasaanku padanya.
Aku tidak boleh jatuh cinta. Tapi aku sudah jatuh.
17 April
Hari ini ayah pulang dalam keadaan mabuk lagi. Ia membanting gelas ke dinding, berteriak-teriak seperti biasa. Ibuku hanya diam, menahan tangis.
Aku bersembunyi di kamar, menutup telinga.
Aku tidak tahan. Aku ingin pergi. Aku ingin lari.
Tapi aku tidak tahu ke mana.
25 April
Ayah semakin kasar. Ia bukan hanya berteriak. Kadang, tangannya melayang.
Aku ingin memberitahu seseorang. Tapi siapa?
Ibuku pun tak bisa melindungi dirinya sendiri, bagaimana ia bisa melindungiku?
Aku ingin Raka tahu.
Tapi aku takut… jika ia tahu, ia akan melihatku dengan cara yang berbeda.
Dan aku tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang membuatku merasa hidup.
10 Mei
Hari ini aku hampir menangis di hadapan Raka.
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang melihatku lebih dari sekadar gadis yang selalu tertawa.
Aku ingin bercerita. Aku ingin menumpahkan semuanya.
Tapi aku tidak bisa.
Jadi aku tersenyum, seperti biasa.
14 Mei
Aku tidak tahan lagi.
Malam ini, aku akan pergi.
Bukan karena aku tidak mencintai Raka.
Tapi karena aku mencintainya terlalu dalam.
Aku tidak ingin menjadi beban baginya. Aku tidak ingin suatu hari nanti ia melihatku dan merasa iba.
Aku ingin dia mengingatku sebagai Laila yang ia kenal.
Bukan Laila yang rusak.
Bukan Laila yang hancur.
Aku mencintainya. Tapi aku harus pergi.
Buku harian itu terjatuh dari tangan Raka.
Tangisnya akhirnya pecah.
Laila selama ini menyimpan begitu banyak luka. Tapi tidak ada yang melihatnya. Tidak ada yang mendengar teriakannya yang sunyi.
Dan sekarang, semua itu telah terlambat.
Raka ingin marah.
Pada ayah Laila. Pada dunia. Pada dirinya sendiri.
Tapi semua kemarahan itu hanya berubah menjadi kehampaan yang menyesakkan d**a.
Ia duduk di lantai, terisak pelan.
Di antara air matanya, ia membisikkan sebuah janji.
“Aku akan menemukan cara untuk membalas semuanya, Laila. Aku tidak akan membiarkanmu hanya menjadi kenangan yang terlupakan.”
Tapi bagaimana caranya?
Bagaimana cara membalaskan dendam pada dunia yang tidak peduli ?