Raka menatap layar ponselnya lama. Pesan dari Laila masih ada di sana, seolah menantang pikirannya untuk mencari jawaban.
"Kalau besok aku nggak datang ke sekolah, jangan cari aku, ya."
Kata-kata itu terasa aneh. Ada sesuatu di baliknya yang membuat Raka gelisah.
Ia mencoba membalas pesan itu lagi.
Raka: Laila? Kamu kenapa?
Tapi tidak ada respons. Titik-titik pengetikan pun tidak muncul.
Raka menghela napas, lalu menutup ponselnya. Tapi pikirannya tetap dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk.
Esok Harinya di Sekolah
Pagi itu, Raka berjalan memasuki halaman sekolah dengan perasaan tak menentu. Ia langsung mengarahkan pandangannya ke taman, tempat biasa ia dan Laila bertemu.
Kosong.
Kelas dimulai seperti biasa, tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran Laila. Tidak di taman, tidak di kelas, tidak di kantin.
Raka mulai resah. Ia bertanya pada beberapa teman Laila, tapi mereka hanya menggeleng.
“Kayaknya dia nggak masuk hari ini,” kata seorang teman sekelasnya.
Raka duduk di bangkunya dengan gelisah. Ia mencoba fokus ke pelajaran, tapi pikirannya terus melayang ke pesan Laila tadi malam.
Saat istirahat, Raka mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Laila lagi.
Nada sambung terdengar… tapi tidak diangkat.
Dua kali. Tiga kali. Tetap tidak ada jawaban.
Perasaan tidak enak semakin kuat.
Akhirnya, tanpa pikir panjang, Raka mengambil tasnya dan keluar dari kelas. Ia harus mencari tahu sendiri
Di Depan Rumah Laila.
Raka berdiri di luar pagar rumah Laila. Rumah besar itu tampak sunyi. Tidak ada suara atau tanda-tanda kehidupan.
Ia ragu sejenak, lalu memberanikan diri menekan bel.
Satu kali. Dua kali.
Pintu tetap tertutup.
Namun, saat ia hendak berbalik, terdengar suara dari dalam. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan seorang wanita paruh baya wajahnya tampak lelah, matanya sembab seolah habis menangis.
“Ada perlu apa?” tanyanya pelan.
Raka menelan ludah. “Saya… teman Laila.”
Wanita itu menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. “Maaf, Nak. Laila tidak bisa ditemui sekarang.”
Jantung Raka berdetak lebih cepat. “Kenapa, Tante? Dia baik-baik saja?”
Wanita itu menunduk, suaranya bergetar. “Laila… sedang sakit. Dia tidak bisa ke sekolah untuk sementara waktu.”
“Sakit?” Raka mengernyit. “Sakit apa?”
Namun, sebelum ia bisa mendapat jawaban, suara lain terdengar dari dalam rumah.
“Siapa itu, Bu?”
Suara pria. Dalam dan tegas.
Wanita itu buru-buru menutup pintu lebih rapat. “Maaf, Nak. Laila belum bisa menerima tamu. Tolong… jangan datang lagi untuk sementara waktu.”
Pintu tertutup.
Raka berdiri terpaku di depan rumah itu.
Ada yang tidak beres.
Bukan hanya karena Laila tidak masuk sekolah, tapi juga karena ekspresi ibunya. Mata yang sembab, suara yang bergetar.
Dan suara pria tadi… siapa?
Raka mengepalkan tangannya.
Ia tidak bisa mengabaikan perasaan ini.
Apapun yang terjadi, ia harus tahu.
Ia harus menemukan Laila.
Laila yang Hilang
Raka berdiri lama di depan rumah itu. Kata-kata ibu Laila masih terngiang di kepalanya.
"Laila sedang sakit… Tolong, jangan datang lagi untuk sementara waktu."
Tapi itu bukan jawaban yang ia inginkan. Itu bukan jawaban yang bisa membuatnya tenang.
Saat ia berbalik untuk pergi, sesuatu di jendela lantai dua membuatnya berhenti. Bayangan seseorang.
Laila.
Hanya sekejap, tapi Raka yakin itu dia.
Mata mereka bertemu sebentar, lalu Laila mundur ke dalam, menghilang di balik tirai putih yang tertutup rapat.
Kenapa dia tidak bicara? Kenapa dia tidak mencoba memberi tahu apa yang terjadi?
Raka mengepalkan tangannya. Ada sesuatu yang tidak benar.
Malam Itu.
Raka tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya, pikirannya masih penuh dengan bayangan Laila di jendela tadi siang.
Ia mengambil ponselnya.
Raka: Laila… aku di sini kalau kamu butuh sesuatu.
Dikirim. Tapi tetap tidak ada balasan.
Ia menggenggam ponselnya erat, berharap sesuatu akan terjadi, berharap Laila akan menjawab.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
Laila: Jangan cari aku, Raka…
Jantungnya berdegup kencang. Ia segera membalas
Raka: Kenapa? Apa yang terjadi? Aku bisa bantu.
Beberapa menit berlalu tanpa jawaban.
Kemudian, satu pesan masuk.
Laila: Kalau aku pergi, kamu bakal ingat aku nggak?
Dada Raka mencelos.
Raka: Kamu mau ke mana?
Lama tidak ada jawaban. Hingga akhirnya, satu pesan terakhir masuk.
Laila: Maaf…
Setelah itu, sunyi.
Raka menatap layar ponselnya, merasa ada sesuatu yang hancur di dalam dirinya.
Keesokan Harinya
Laila tetap tidak masuk sekolah. Tidak ada kabar, tidak ada yang tahu keberadaannya.
Raka mencoba kembali ke rumahnya setelah sekolah, tapi kali ini, rumah itu kosong.
Pagar terkunci. Jendela tertutup. Tidak ada suara, tidak ada kehidupan.
Laila menghilang.
Beberapa Hari Kemudian
Hari-hari berlalu, tapi Laila tidak pernah kembali.
Raka duduk di taman sekolah, menatap buku sketsanya yang terbuka di pangkuannya. Gambar terakhir yang ia buat adalah wajah Laila.
Ia mengingat setiap detailnya senyum tipis yang selalu ia sukai, sorot mata yang menyimpan banyak cerita.
Tapi kini, yang tersisa hanya kenangan.
Angin berhembus pelan, menerbangkan satu lembar kertas dari dalam bukunya.
Ia meraihnya sebelum jatuh ke tanah.
Saat melihatnya lebih dekat, ia tertegun.
Itu bukan sketsa miliknya.
Itu adalah selembar kertas dengan tulisan tangan yang halus.
Sebuah surat.
Dari Laila.
Untuk Raka,
Maaf kalau aku pergi tanpa bilang apa-apa. Aku ingin cerita banyak hal, tapi aku takut kalau aku bilang, kamu bakal melihat aku dengan cara yang berbeda.
Kamu pernah bilang, mata itu bukan cuma tentang bentuk, tapi tentang apa yang ada di dalamnya. Dan aku tahu… kamu sudah melihat sesuatu di mataku. Sesuatu yang aku coba sembunyikan.
Aku sakit, Raka. Bukan sakit biasa. Sudah lama aku tahu, tapi aku selalu berpura-pura tidak apa-apa. Aku tertawa, aku bermain, aku hidup seperti tidak ada yang salah.
Tapi sekarang, tubuhku mulai lelah. Aku tidak bisa berpura-pura lagi.
Aku ingin tetap di sini. Aku ingin terus belajar menggambar sama kamu, tertawa sama kamu, melihat kamu diam-diam saat kamu sibuk dengan sketsa kamu.
Tapi aku nggak bisa.
Aku harus pergi, Raka.
Aku nggak tahu apakah kita bisa ketemu lagi, tapi kalau suatu hari nanti kamu lihat langit yang cerah setelah hujan… ingat aku, ya?
Karena aku selalu suka langit seperti itu.
Sama seperti aku selalu suka kamu.
Laila.
Air mata jatuh ke atas kertas itu. Raka tidak tahu kapan ia mulai menangis, tapi ia tidak peduli.
Ia menggenggam surat itu erat, dadanya sesak.
Laila telah pergi.
Dan kali ini, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menghentikannya.
Beberapa Tahun Kemudian
Langit senja di taman itu berwarna oranye lembut. Angin bertiup pelan, membawa aroma hujan yang baru saja reda.
Seorang pria duduk di bangku taman, buku sketsa terbuka di pangkuannya. Ia menggambar dengan tenang, setiap goresan pensilnya seolah menyimpan kenangan.
Di halamannya, ada satu sketsa.
Seorang gadis dengan rambut panjang, mata berbinar, dan senyum yang lembut.
Raka menatapnya lama, lalu menutup buku sketsanya. Ia mendongak ke langit, melihat cahaya matahari terakhir yang muncul di balik awan.
"Kalau suatu hari nanti kamu lihat langit yang cerah setelah hujan… ingat aku, ya?"
Raka tersenyum kecil, meski air matanya masih terasa di sudut matanya.
“Aku ingat, Laila,” bisiknya. “Aku selalu ingat.”
Dan di langit senja itu, seolah ada seseorang yang tersenyum bersamanya.
Senja itu, Raka masih duduk di bangku taman, menatap buku sketsanya yang tertutup di pangkuannya.
Angin membawa aroma tanah basah, sisa hujan yang baru saja reda. Langit berwarna jingga samar, seolah menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia pahami.
Tapi ia tidak ingin memahami apa pun lagi.
Sebab, semakin ia mencoba, semakin sakit rasanya.
Surat dari Laila ada di sakunya, lusuh dan terlipat karena terlalu sering ia baca. Setiap kalimat di dalamnya telah tertanam dalam ingatannya, tapi ia tetap membacanya berulang-ulang.
Karena itu satu-satunya yang tersisa.
"Laila sakit…"
Kata-kata itu masih menghantui pikirannya, seperti gema yang tidak mau hilang.
Tapi kenapa harus pergi? Kenapa tidak memberitahunya lebih awal?
Kenapa Laila memilih pergi begitu saja, meninggalkannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab?
Lalu, suatu malam, semuanya berubah.
Malam itu…
Raka terbangun karena suara berisik dari jendela kamarnya. Hatinya berdegup kencang. Ia menoleh, melihat bayangan samar di balik kaca jendela.
Seseorang berdiri di luar sana.
Jantungnya hampir berhenti.
Perlahan, ia turun dari ranjang dan mendekat. Tangannya gemetar saat menarik tirai. Dan saat ia melihatnya Dadanya mencelos.
Laila.
Berdiri di luar jendelanya, rambut panjangnya sedikit berantakan, wajahnya pucat, dan matanya—mata itu masih seperti yang ia ingat, tapi ada sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang dingin.
Raka terdiam.
"Laila…" suaranya serak, hampir tidak terdengar.
Gadis itu menatapnya, senyum tipis muncul di wajahnya. Tapi bukan senyum yang biasanya ia lihat.
Bukan senyum yang cerah seperti matahari setelah hujan.
Tapi senyum yang hampa.
Lalu, sebelum Raka bisa mengatakan apa pun lagi.
Laila menghilang.
Seperti angin yang lewat begitu saja.
Raka mundur selangkah, dadanya naik turun dengan napas yang tertahan. Ia mengucek matanya, memastikan ia tidak sedang bermimpi.
Tapi saat ia menoleh kembali ke jendela
Di kaca, ada jejak samar.
Seperti bekas telapak tangan.
Dan lebih mengerikan lagi
Di mejanya, buku sketsa yang tadi tertutup kini terbuka.
Halaman terakhirnya kosong, kecuali satu kalimat yang tertulis dengan goresan pensil yang samar.
"Kamu masih ingat aku, kan?"
Raka menatapnya, tubuhnya kaku.
Tangannya gemetar saat menyentuh tulisan itu, merasakan dinginnya malam yang perlahan merayap ke dalam tubuhnya.
Laila…
Dia di sini.
Atau…
Dia tidak pernah benar-benar pergi.
Raka masih terpaku di tempatnya. Jantungnya berdetak cepat, napasnya tersengal. Matanya menatap tulisan samar di buku sketsanya :
"Kamu masih ingat aku, kan?"
Tangannya perlahan menyentuh tulisan itu. Pensilnya masih di sana, seperti baru saja digunakan. Tapi… siapa yang menulisnya?
Ia memejamkan mata, mencoba berpikir jernih. Tidak mungkin. Ini pasti hanya permainan pikirannya.
Namun, saat ia mengangkat wajahnya lagi, jendela kamar yang tadinya tertutup rapat kini sedikit terbuka. Angin malam berembus masuk, membawa aroma yang sangat ia kenal.
Aroma Laila.
Esok harinya…
Matahari baru saja muncul ketika Raka kembali ke taman sekolah. Ia duduk di bangku yang biasa mereka tempati, mencoba mengembalikan semua kenangan yang pernah ada di sana.
Tapi tempat itu terasa berbeda.
Dingin.
Sepi.
Ia menunduk, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ada sesuatu yang terasa salah, tapi ia tidak tahu apa.
Sampai seseorang memanggil namanya.
“Raka…”
Ia tersentak, menoleh cepat.
Dan di sana, berdiri di depan bangku, Laila tersenyum ke arahnya.
Raka terdiam. Tubuhnya membeku.
Dia tidak mungkin ada di sini.
Dia sudah pergi.
Namun, Laila berdiri di sana, dengan rambut panjangnya tergerai, mengenakan seragam yang sama seperti yang selalu ia pakai. Tatapannya lembut, tapi ada sesuatu yang berbeda dalam matanya.
Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Raka ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
Laila melangkah mendekat, lalu tanpa ragu, ia duduk di sampingnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Raka bisa merasakan hangat tubuhnya.
"Kamu kenapa?" tanya Laila pelan.
Raka menelan ludah. "Aku… Aku pikir…"
Laila tersenyum tipis. "Aku masih di sini, Raka."
Raka ingin percaya. Ingin sekali.
Tapi sesuatu dalam dirinya berkata bahwa ini bukan kenyataan.
Laila mendekatkan wajahnya. Raka bisa merasakan napas hangat gadis itu di kulitnya.
"Lihat aku," bisiknya.
Perlahan, Raka mengangkat wajahnya.
Dan saat matanya bertemu dengan mata Laila, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Seperti tenggelam dalam lautan tanpa dasar.
Seperti terseret ke dalam sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Laila tersenyum, jemarinya menyentuh pipi Raka dengan lembut. Sentuhan itu nyata. Hangat.
Tapi ada yang salah.
Sangat salah.
Tepat saat Raka ingin menarik diri, angin berembus kencang. Daun-daun kering beterbangan di sekitar mereka.
Lalu, dalam sekejap
Laila menghilang.
Raka terengah, tangannya masih menggantung di udara, seolah mencoba menggenggam sesuatu yang sudah pergi.
Hanya ada satu hal yang tersisa.
Aroma Laila yang masih terasa di kulitnya.
Dan bisikan terakhirnya yang bergema di telinga Raka.
"Jangan lupakan aku…"
Malam itu, Raka terjaga.
Kamar tidurnya terasa sunyi, tapi hatinya bergejolak. Di tangannya, buku sketsa itu masih terbuka, dengan tulisan yang ditinggalkan Laila di halaman terakhir:
"Kamu masih ingat aku, kan?"
Pikirannya terus memutar kembali kejadian di taman tadi. Laila berdiri di hadapannya, tersenyum, berbicara dengannya, menyentuhnya. Itu terasa nyata. Tapi… bagaimana mungkin?
Laila sudah pergi.
Bukan hanya pergi. Dia… sudah tidak ada.
Raka memejamkan matanya, berusaha mengusir pikiran itu. Tapi semakin ia mencoba, semakin kuat kenangan itu kembali.
Lalu, ponselnya bergetar di atas meja.
Ia tersentak, lalu buru-buru meraihnya. Ada satu pesan masuk.
Laila: "Raka, kamu masih ingat aku?"
Dadanya berdebar kencang. Tangannya gemetar saat memegang ponsel itu. Ini tidak mungkin. Tidak mungkin.
Tapi pesannya ada di sana. Nyata.
Ia menelan ludah, lalu dengan ragu, ia mengetik balasan.
Raka: "Laila… ini kamu?"
Beberapa detik berlalu. Tidak ada jawaban. Layar ponselnya hanya menampilkan pesan yang ia kirim barusan.
Tapi kemudian, tiba-tiba
Laila: "Aku kangen kamu."
Jari-jari Raka membeku di atas layar.
Ada sesuatu yang salah.
Laila sudah pergi.
Ia melihat sendiri saat Laila meninggalkan sekolah untuk menjalani pengobatan. Ia ingat hari terakhir mereka bertemu, bagaimana Laila tersenyum meski tubuhnya tampak lebih lemah dari sebelumnya.
Tapi sekarang…
Kenapa ia merasa seolah Laila tidak pernah benar-benar pergi?
Kenapa… ia merasa seperti Laila masih di sini?
Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Kali ini, bukan pesan.
Panggilan masuk.
Laila meneleponnya.
Raka merasakan keringat dingin di tengkuknya. Ia menatap layar ponsel itu lama, takut untuk mengangkatnya.
Tapi sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk menjawab.
Dengan tangan gemetar, ia menggeser layar dan membawa ponsel ke telinganya.
"Halo…?" suaranya nyaris berbisik.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas pelan di seberang sana.
"Laila…?" Raka mencoba lagi.
Lalu, suara itu terdengar.
Pelan.
Bergetar.
"Aku kedinginan, Raka…"
Dada Raka mencelos.
Suaranya. Itu benar-benar suara Laila.
Tapi terdengar begitu jauh.
Seperti datang dari tempat yang tidak seharusnya.
Raka membuka mulutnya, ingin bertanya sesuatu. Tapi sebelum ia bisa berbicara
Panggilan itu terputus.
Dan di saat yang sama, lampu kamarnya tiba-tiba berkedip.
Hawa dingin merayap ke seluruh tubuhnya.
Lalu, di sudut kamar, ia melihatnya.
Laila.
Berdiri di sana.
Menatapnya.
Tapi kali ini, wajahnya bukan seperti yang Raka ingat.
Matanya kosong.
Dan air mata mengalir perlahan di pipinya.
"Laila…?" suara Raka nyaris tak terdengar.
Laila tidak menjawab.
Ia hanya berdiri di sana, dalam keheningan.
Tapi kemudian, sesuatu yang tidak pernah Raka duga terjadi.
Laila tersenyum.
Dan dengan suara bergetar, ia berbisik
"Aku menunggumu, Raka."
Lalu semuanya menjadi gelap.
***