Malam terakhir sebelum operasi turun perlahan di atas Pusat. Tiga lapis dinding berdiri diam di bawah langit tanpa bintang. Tidak ada sirine. Untuk satu malam, dunia berpura-pura tenang.
Rangga tidak pergi tidur. Ia menyelinap ke sayap pengungsi, lorong-lorong sempit penuh tikar dan keluarga yang berdesakan, ke tempat orang-orang dari Tanjung dikumpulkan.
Pak Surya masih terjaga, duduk di bangku rendah, memperbaiki radio tua dengan tangan yang sudah keriput. Ia mendongak saat melihat Rangga, dan tidak perlu kata-kata untuk tahu apa arti kedatangan tengah malam ini.
"Jadi besok," kata Pak Surya. Bukan pertanyaan.
Rangga duduk di sampingnya. "Lusa. Tapi aku ingin pamit sekarang. Selagi semuanya masih tenang."
Pak Surya meletakkan radio. Tangannya, tangan yang membesarkan Rangga dan Bara setelah orang tua mereka tewas, gemetar sedikit. "Aku sudah kehilangan Bara. Aku menatap layar radar dan melihat titiknya hilang. Aku tidak tahu apakah aku bisa menatap layar itu lagi untukmu."
"Aku akan kembali," kata Rangga.
"Bara juga bilang begitu." Suara Pak Surya pecah. "Sebelum tiap pertarungan, ia selalu bilang akan pulang untuk makan malam. Dan suatu malam ia tidak pulang."
Rangga menggenggam tangan tua itu. "Aku tahu. Tapi kali ini berbeda, Pak. Adit merancang jalur eject. Aku tidak pergi untuk mati. Aku pergi untuk menyelesaikan apa yang Bara mulai — dan untuk pulang."
Pak Surya menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk. Ia tidak percaya sepenuhnya — mata tua itu sudah terlalu sering ditipu harapan — tapi ia memilih untuk menggenggam kalimat itu seperti orang yang tenggelam menggenggam papan.
Rangga lalu mencari Bu Inten. Wanita itu masih di dapur darurat meski tengah malam, menyisihkan sesuatu di rantang kecil. Saat melihat Rangga, ia langsung menyodorkannya.
"Porsi ekstra," kata Bu Inten, suaranya berusaha keras terdengar biasa. "Seperti dulu. Makan, kau terlalu kurus untuk seseorang yang menggerakkan mesin empat puluh meter."
Rangga menerimanya dan makan di sana, di hadapannya, karena ia tahu itulah yang Bu Inten butuhkan — melihatnya makan, masih hidup, masih bocah yang sama. Bu Inten menatapnya makan dan matanya basah, tapi ia tidak menangis. Tidak di depan Rangga.
Terakhir, Rangga mencari Sari.
Gadis kecil itu tidur meringkuk di tikar, boneka robot di dadanya — boneka yang dulu sering Rangga perbaiki, yang kini kehilangan satu lengan lagi. Rangga berlutut di sampingnya. Ia tidak ingin membangunkannya. Tapi Sari membuka mata.
"Kak Rangga," gumamnya, setengah tidur. "Kakak mau pergi lagi, ya?"
"Iya, Sayang."
Sari duduk. Ia menyodorkan bonekanya. "Bawa ini. Biar Kakak ditemani. Biar Kakak ingat harus pulang." Lalu, dengan logika sederhana anak delapan tahun: "Tapi nanti dikembalikan. Karena lengannya masih rusak dan cuma Kak Rangga yang bisa benerin."
Rangga menerima boneka itu. Tenggorokannya terasa sesak. Boneka ini sudah ia perbaiki entah berapa kali sejak Sari masih lebih kecil — mengganti baut lengan, menyolder kembali kepala yang lepas, mengganti mata kancing yang hilang. Setiap perbaikan adalah janji kecil yang selalu ia tepati. "Aku janji," katanya. "Aku kembalikan, dan aku perbaiki lengannya. Janji."
"Janji montir?" tanya Sari, masih setengah tidur. Itu istilah mereka berdua — janji yang tidak boleh diingkari, karena montir selalu menepati apa yang ia bilang akan ia perbaiki.
"Janji montir," kata Rangga.
Sari mengangguk puas dan kembali berbaring, percaya penuh seperti hanya anak-anak bisa percaya.
Rangga keluar ke koridor dengan boneka di tangan. Di luar jendela tebal, lautan jauh berkilau hitam di bawah bulan. Di suatu tempat di sana, Sang Induk menunggu. Di suatu tempat, bayangan pengorbanan Bara masih menggantung — kakak yang berjanji pulang untuk makan malam dan tidak pernah pulang.
Rangga menggenggam boneka itu erat-erat.
"Aku tidak akan mengulangi kesalahanmu, Kak," bisiknya ke malam. "Aku akan melindungi mereka. Tapi aku juga akan pulang. Aku harus. Aku punya janji untuk ditepati — janji yang tidak sempat kau tepati."
Lalu ia berbalik menuju hanggar, di mana Rajawala menunggu dalam gelap, dan badai yang akan datang menunggu di balik cakrawala.