Fajar operasi datang kelabu dan dingin. Enam Baja berdiri berjajar di landasan luar Pusat, raksasa-raksasa logam terakhir umat manusia, uap pendingin mengepul dari sendi-sendi mereka seperti napas naga yang menahan diri.
Rangga berdiri di bawah Rajawala, helm di tangan. Di sampingnya Danur memeriksa Baja-nya sendiri, dan empat pilot lain melakukan ritual terakhir mereka — sentuhan ke logam, doa singkat, tatapan ke cakrawala timur tempat lautan menunggu.
Laras berjalan menyusuri barisan. Suaranya menggema lewat pengeras suara, tapi ia berbicara seperti pada teman, bukan pada pasukan.
"Kalian tahu kondisinya. Kalian tahu peluangnya. Aku tidak akan menghina kalian dengan pidato heroik." Ia berhenti. "Aku cuma akan bilang ini. Di balik dinding-dinding itu ada orang-orang yang tidak pernah tahu nama kalian. Anak-anak yang tidak pernah lihat laut yang tenang. Orang tua yang sudah lima belas tahun tidur dengan sirine. Hari ini kita memberi mereka kemungkinan. Itu saja. Bukan jaminan. Kemungkinan. Dan kemungkinan adalah hal yang sudah lama tidak kita miliki."
Para pilot diam. Lalu Danur, yang dulu paling pahit, mengangkat tinjunya ke udara. Satu per satu yang lain mengikuti.
Laras menghampiri Rangga terakhir. Ia menurunkan suaranya agar hanya mereka berdua yang dengar. "Pembagiannya sederhana. Lima dari kami menahan gerombolan di garis pantai, menarik mereka ke utara, membuka koridor selatan. Kau menyelinap lewat koridor itu, menyeberangi lautan, turun ke Palung. Kami akan menahan selama mungkin."
"Selama mungkin," ulang Rangga. Ia tahu apa arti kalimat itu. Selama mungkin berarti sampai mereka tidak bisa lagi.
"Adit ada di pos komando, terhubung ke sinkronisasimu sepanjang misi. Ia akan memandu jalur eject saat waktunya tiba." Laras meletakkan tangannya di pundak Rangga. "Dengarkan dia. Apa pun yang terjadi. Kalau Adit bilang kau punya tiga detik untuk eject, kau eject. Tidak ada kepahlawanan. Tidak ada mengikuti Bara sampai mati. Kau memutar kunci, lalu kau pulang. Mengerti?"
"Mengerti, Komandan."
Laras menatapnya sedetik lebih lama, lalu mengangguk dan berbalik menuju Baja-nya sendiri.
Danur berhenti sejenak di depan Rangga sebelum naik ke Baja-nya sendiri. Ia tidak banyak bicara — bukan tipe yang pandai berpamitan. Ia hanya menepuk dada Rangga dua kali dengan punggung tangannya.
"Ingat napasnya," kata Danur. "Saat sakit datang di kedalaman, kau akan lupa semua latihan kecuali napas. Maka jangan lupa napas."
"Tidak akan."
"Dan, Rangga." Danur menatapnya. "Kakakmu akan bangga. Aku bilang ini sebagai orang yang dulu membencinya. Bara akan bangga."
Rangga tidak bisa menjawab. Ia hanya mengangguk, dan Danur berbalik, dan itu sudah cukup.
Rangga memanjat ke ruang kemudi Rajawala. Kursi menutup di sekelilingnya. Jarum sinkronisasi turun ke tengkuknya dengan rasa sakit yang sudah ia kenal — tajam, lalu menjalar, lalu menjadi sesuatu yang lebih dalam dari sakit. Kesadaran Rangga mengalir keluar dari tubuhnya yang kecil dan mengisi raksasa logam itu.
Sinkronisasi naik. Lima puluh. Enam puluh. Tujuh puluh. Delapan puluh persen — ambang yang biasa.
Dan Rangga merasakan sakit baru. Bukan dari luka. Dari retakan di inti, denyut tipis yang berkata mesin ini sedang mati. Ia mengabaikannya. Ia harus.
Boneka robot Sari terselip di sela panel, lengannya yang patah menggantung. Rangga menatapnya sekejap. Janji untuk ditepati.
"Adit, kau dengar aku?"
"Jelas dan keras, Rangga." Suara Adit di telinga, terlalu muda untuk beban sebesar ini. "Sinkronisasi stabil di delapan satu persen. Inti dalam batas aman — untuk sekarang. Aku awasi setiap angka."
Rangga menggerakkan jari Rajawala. Empat puluh meter logam menggenggam. Garis merah di dada mesin berpijar — terang, lalu sedikit goyah, lalu terang lagi.
Di depan, garis pantai terbentang. Di balik garis itu, lautan. Dan jauh di tengah lautan, lubang gelap menunggu.
"Semua unit," suara Laras menggema di seluruh jaringan, "Operasi Palung dimulai. Bergerak."
Enam Baja melangkah maju serentak, tanah bergetar di bawah kaki-kaki raksasa mereka, menuju lautan dan menuju takdir yang sudah lima belas tahun menunggu untuk ditantang.
Rangga menarik napas dalam tubuh logamnya. "Kita berangkat, Rajawala," bisiknya. "Sekali ini. Lakukan dengan benar."
Mesin sekarat itu berderap menuju laut.