Lautan bukan air. Lautan adalah daging.
Begitulah yang Rangga lihat saat Rajawala mencapai garis pantai dan menatap ke cakrawala. Permukaan laut bergerak bukan karena ombak — ia bergerak karena ribuan tubuh Leviathan berenang di bawahnya, punggung-punggung berduri memecah permukaan, mata-mata merah bara berkilau di antara buih. Seluruh lautan, sejauh mata memandang, hidup dan bergerak menuju daratan.
"Ya Tuhan," gumam salah satu pilot di jaringan.
"Jangan berhenti," potong Laras tajam. "Lihat ke depan. Bukan ke jumlah. Ke jalanmu sendiri. Unit penahan, ke utara — tarik mereka. Rajawala, koridor selatan terbuka begitu mereka berbalik."
Lima Baja membelok ke utara, menyalakan suar, menembakkan railgun ke gerombolan untuk menarik amukan ke arah mereka. Dan berhasil — mata-mata merah berputar, gelombang Leviathan berbelok mengikuti provokasi, mengikuti suara dan cahaya dan ancaman. Lautan di selatan, untuk sesaat, menipis.
"Sekarang, Rangga!" seru Adit. "Koridornya terbuka. Tidak akan lama!"
Rajawala melompat ke laut.
Air dingin menelan empat puluh meter logam. Rangga merasakannya lewat sinkronisasi — tekanan, dingin, gelap. Rajawala tidak dirancang untuk berenang, tapi ia dirancang untuk kekuatan murni, dan Rangga menggunakan kaki raksasa itu untuk mendorong dasar laut, melompat-lompat di air dangkal seperti pelari menembus lumpur, bergerak ke selatan secepat yang logam tua itu bisa.
Tapi koridor tidak pernah benar-benar kosong.
Bayangan-bayangan memisahkan diri dari gerombolan — Kelas Hiu, cepat dan ganas, mengendus penyusup. Tiga ekor. Lalu lima. Mereka tidak ikut berbalik ke utara. Mereka mencium Rajawala dan datang.
"Kontak, sisi kanan!" Adit berteriak.
Hiu pertama melesat dari kabut air, rahang terbuka. Rangga tidak punya pedang seperti Garuda, tidak punya senjata bawaan apa pun. Ia punya tangan logam dan tubuh empat puluh meter. Ia menangkap rahang Hiu itu dengan kedua tangan Rajawala dan merobeknya terbuka dengan kekuatan murni, darah hitam mengepul di air seperti tinta.
Sakit menjalar lewat sinkronisasi — gigi Hiu sempat menggores lengan Rajawala sebelum mati. Rangga menelan rasa sakit itu. "Aku tidak apa-apa. Terus."
Hiu kedua dan ketiga datang bersamaan. Rangga teringat pelajaran montir yang dulu menyelamatkannya di Tanjung — paksa mereka datang satu per satu, gunakan medan. Ia memutar Rajawala ke balik formasi batu karang bawah laut, celah sempit yang hanya bisa dilewati satu Leviathan sekaligus. Mereka harus mengantre untuk membunuhnya. Dan satu per satu, ia menghabisi mereka di mulut celah itu.
Hiu keempat lebih pintar. Ia tidak menyerang langsung — ia menggigit kaki Rajawala dan menariknya, mencoba menjatuhkan keseimbangan, menahan agar gerombolan utama bisa menyusul. Sinkronisasi Rangga menukik ke enam puluh persen saat cakar Hiu merobek pelat betis mesin.
"Sinkronisasi turun!" Adit panik. "Rangga, fokus, jangan biarkan turun di bawah empat puluh!"
Rangga mencengkeram rasa sakit, menerimanya seperti Danur ajarkan — biarkan lewat, jangan tahan. Ia menarik kaki Rajawala bebas, mengangkat Hiu itu dengan kedua tangan, dan menghantamkannya ke karang sampai berhenti bergerak. Sinkronisasi naik kembali ke delapan puluh.
Hiu kelima ragu. Lalu mundur, kembali ke gerombolan. Bahkan monster tahu kapan satu mangsa terlalu mahal.
Rangga berdiri di dasar laut yang dangkal, napas terengah di dalam tubuh logam, dikelilingi bangkai Leviathan yang melayang di sekelilingnya. Darah hitam menggelapkan air. Lewat sinkronisasi, ia merasakan setiap goresan di tubuh Rajawala seperti memar di kulitnya sendiri — betis yang terkoyak, lengan yang tergores, dan jauh di dalam, denyut tipis dari inti yang retak, mengingatkannya bahwa setiap pertarungan adalah waktu yang dipinjam. Ia memaksa dirinya bernapas pelan, seperti Danur ajarkan, dan rasa sakit itu mereda menjadi latar yang bisa ia tanggung.
"Aku lewat," katanya serak. "Koridor selatan bersih. Sementara."
"Bagus." Suara Laras, tegang, dari jauh. "Unit penahan sudah terlibat penuh di utara. Kami akan menahan selama mungkin. Jangan berhenti, Rangga. Setiap detik yang kau buang, salah satu dari kami membayarnya."
Rangga menatap ke selatan, ke kedalaman yang semakin gelap, ke arah Palung. Pengorbanan sudah dimulai. Di utara, lima Baja sedang membayar dengan luka dan mungkin nyawa agar ia bisa lewat.
Ia tidak boleh menyia-nyiakannya.
Rajawala bangkit dari dasar laut dan berderap ke selatan, menembus lautan yang hidup, menuju lubang gelap yang menunggu di tengah dunia.