Rajawala mendarat di dasar Palung Tengah, dan Rangga melihat Sang Induk utuh untuk pertama kalinya.
Ia bukan apa yang Rangga bayangkan. Selama ini Rangga menggambarkannya sebagai monster — Kraken yang lebih besar, gigi yang lebih banyak, tentakel yang lebih panjang. Tapi yang ada di hadapannya bukan itu.
Sang Induk mengisi seluruh rongga di dasar lautan, sebesar pulau seperti yang dikatakan jenderal, tapi bentuknya tidak seperti makhluk hidup mana pun. Ia seperti organ — sebuah jantung raksasa yang berdenyut, dikelilingi serat-serat cahaya yang menjalar keluar ke segala arah, masuk ke dinding Palung, menembus batu, melebar ke seluruh lautan. Setiap denyut mengirim gelombang cahaya merah menjalar di sepanjang serat-serat itu, keluar dari rongga, naik menuju permukaan.
Dan Rangga mengerti. Lewat sinkronisasi, ia merasakannya: serat-serat cahaya itu adalah saraf. Setiap Leviathan di lautan terhubung ke jantung ini. Setiap Hiu, setiap Kraken, penjaga gerbang di atas — semuanya hanya jari-jari dari satu tubuh raksasa, dan inilah otaknya. Inilah jantungnya. Bukan komandan yang memerintah pasukan. Sebuah organisme tunggal yang membentang ke seluruh lautan, dan ini pusatnya.
"Bukan makhluk laut," gumam Rangga, mengingat kesimpulan Adit. "Kau benar, Adit. Ini bukan binatang. Ini... sesuatu yang ditanam. Sesuatu yang tumbuh dari Palung."
Suara di kepalanya datang lagi, lebih kuat sekarang, lebih dekat, karena ia berdiri di hadapan sumbernya.
*Kau lihat aku. Sedikit yang pernah melihatku. Tak satu pun yang hidup setelahnya.*
"Apa kau?" tanya Rangga. Bukan karena takut. Karena ia harus tahu. "Kau bukan dari laut ini. Manusia membukamu, kan? Eksperimen lama, sebelum perang. Mereka membuka Palung dan kau keluar."
*Manusia membuka pintu.* Denyut jantung raksasa itu melambat, seolah merenung. *Lalu manusia terkejut pada apa yang masuk. Aku tidak datang dari laut kalian. Aku datang dari kedalaman yang tidak punya nama. Dan ketika pintu terbuka, aku menanamkan diriku di tempat tergelap di dunia kalian, dan aku tumbuh. Lima belas tahun aku tumbuh. Mengirim jari-jariku ke darat. Mempelajari kalian. Memutuskan kapan harus benar-benar bangun.*
Serat-serat cahaya berdenyut lebih cepat, marah. *Dan sekarang seekor anak datang dengan mesin sekarat dan pikir ia bisa menghentikanku.*
"Bukan menghentikan," kata Rangga. Tangannya bergerak ke panel di dalam ruang kemudi, ke tempat di mana Adit dan dia telah memprogram aktivasi kunci. "Memutus. Aku tahu apa kau sekarang. Kau jantung. Kau yang mengikat semua gerombolan. Putuskan ikatan itu, dan jari-jarimu kehilangan komando. Mereka tercerai-berai. Manusia bisa bernapas lagi."
Cahaya merah di rongga itu berdenyut keras, untuk pertama kalinya bukan dengan kemarahan — tapi dengan sesuatu yang lebih dekat dengan kewaspadaan. Sang Induk merasakan ancaman itu nyata.
*Kau tahu apa yang dirancang di dalam mesinmu.* Bukan pertanyaan. *Prototipe terakhir. Aku merasakan kuncinya bahkan dari sini. Perancang kalian membuatnya untuk melawanku — tahu aku ada, bahkan sebelum aku bangun penuh. Cerdik. Tapi terlambat. Mesinmu sekarat, anak. Aku merasakan retakannya. Kau tidak punya cukup waktu.*
Rangga menatap jantung raksasa yang berdenyut itu, dan untuk sesaat keraguan menyentuhnya. Sang Induk benar. Inti Rajawala retak. Sinkronisasi yang dibutuhkan untuk memutar kunci — melewati seratus persen — mungkin akan menghabisi mesinnya sebelum kunci selesai bekerja. Dan kalau itu terjadi, ia mati di sini, di dasar Palung, sia-sia.
Lalu ia teringat boneka Sari yang terselip di panel, lengannya yang patah. Janji untuk ditepati.
Ia teringat Bayu, cahaya yang padam membuka jalannya.
Ia teringat Bara, berdiri di antara dua Kraken, menolak lari.
Rangga meletakkan tangannya di tuas aktivasi kunci. Garis merah di dada Rajawala berpijar terang, retakan di intinya menyala panas, dan jauh di atas, di garis pantai yang membara, lima Baja yang tersisa masih bertahan mati-matian membeli setiap detik yang ia butuhkan.
"Mungkin aku tidak punya cukup waktu," kata Rangga, suaranya tenang sekarang, sangat tenang. "Tapi aku punya cukup waktu untuk ini."
Ia mencengkeram tuas. Sinkronisasi mulai naik — delapan puluh tiga, delapan puluh lima, mendekati ambang yang menolak Bara, mendekati batas yang membunuh pilot.
Sang Induk, untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, mengaum dalam sesuatu yang menyerupai ketakutan, dan seluruh lautan bergetar.
Konfrontasi sebenarnya baru saja dimulai.