Kegelapan Palung Tengah bukan sekadar tidak adanya cahaya. Ia punya berat. Rangga merasakannya menekan pelat baja Rajawala dari segala sisi, menekan dadanya sendiri, karena di kedalaman ini ia dan mesin sudah hampir tidak bisa dibedakan lagi.
Di depannya, Sang Induk mengisi seluruh dunia.
Bukan satu monster. Itu kesan pertama yang salah. Dari dekat, tubuhnya seperti pegunungan daging yang bernapas, dengan ribuan urat cahaya yang berdenyut menjalar ke segala arah, hilang ke dalam gelap. Setiap denyut, Rangga tahu sekarang, adalah perintah. Setiap perintah berjalan keluar dari Palung menuju ribuan Leviathan yang sedang membakar dunia di atas sana.
"Adit," kata Rangga lewat radio. Suaranya parau. "Aku melihat jantungnya."
Statik. Lalu suara Adit, jauh, terhimpit kedalaman. "Kau di posisi? Sinkronisasi?"
Rangga melirik angka yang berkedip di tepi pandangannya. "Sembilan puluh dua persen."
"Itu lebih dari cukup untuk kunci. Dengar baik-baik. Kunci bukan senjata. Ia tidak akan membunuh apa pun. Ia akan mengirim data perancang — kode lama yang Rajawala simpan sejak awal — langsung ke jaringan kendali Sang Induk. Anggap saja kita berteriak dalam bahasa yang dipakai monster itu untuk memerintah anak buahnya. Untuk beberapa detik, mungkin lebih, perintahnya akan kacau."
Rangga menatap pegunungan daging itu. Satu mata sebesar gerbang Pusat membuka perlahan, menatapnya, tidak dengan kemarahan, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih dingin: perhatian.
Ia ingat suara yang ia dengar berhari-hari lalu lewat sinkronisasi ekstrem. Bukan suara. Kesadaran. Satu pikiran yang membentang ke seluruh laut. Sekarang pikiran itu sedang melihatnya kembali.
"Rangga." Itu Laras, dari permukaan, dari garis pantai yang sudah mulai membara. "Apa pun yang kau lakukan, lakukan sekarang. Kami tidak bisa menahan lebih lama."
Rangga menutup matanya di dalam ruang kemudi. Ia teringat Sari menyodorkan boneka robotnya. Ia teringat Pak Surya yang tidak pernah mengizinkannya menjadi pilot, lalu memeluknya saat ia tetap menjadi pilot. Ia teringat suara kakaknya di radio beberapa minggu sebelum dunia berakhir: Maaf, aku tidak bisa pulang untuk makan malam.
"Aku akan pulang," bisik Rangga, entah pada siapa. "Aku akan pulang untuk makan malam."
Lalu ia memutar kunci.
Di dalam kesadaran sinkronisasinya, ia merasakan inti Rajawala terbuka seperti pintu yang sudah lima belas tahun terkunci. Sesuatu mengalir keluar darinya — bukan tembakan, bukan ledakan, melainkan gelombang yang halus dan menusuk, sebuah deretan kode yang dirancang oleh tangan yang menghilang bertahun-tahun lalu. Gelombang itu menyentuh urat-urat cahaya Sang Induk.
Untuk satu detik, tidak terjadi apa-apa.
Lalu seluruh Palung menjerit.
Bukan dengan suara. Dengan cahaya. Urat-urat itu berkedip liar, padam, menyala, padam lagi. Mata raksasa di depan Rangga membeliak. Ribuan kilometer di atasnya, Rangga merasakannya lewat sinkronisasi — gerombolan Leviathan yang sedang menyerbu garis pantai mendadak berhenti. Kehilangan arah. Saling bertabrakan. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, mereka tidak tahu harus ke mana.
"Berhasil," suara Laras pecah di radio, hampir menangis. "Astaga, Rangga, mereka berhenti. Mereka semua berhenti—"
"Adit." Rangga menahan napas. "Berapa lama kunci ini bertahan?"
Hening sebentar. Lalu Adit menjawab, dan dalam suaranya ada sesuatu yang membuat darah Rangga membeku.
"Aku tidak tahu," kata Adit. "Tidak ada yang pernah memutarnya sebelum kau."
Di depan Rangga, di antara cahaya yang berkedip kacau, mata raksasa Sang Induk berhenti membeliak.
Lalu menyipit.