Yang pertama berubah adalah suhu air.
Rangga merasakannya lewat pelat Rajawala — gelombang panas yang naik dari dasar Palung, seolah pegunungan daging di depannya mulai mendidih dari dalam. Urat-urat cahaya yang tadi berkedip kacau perlahan menemukan iramanya kembali. Satu per satu. Dari ribuan menjadi ratusan menjadi puluhan jalur yang menyala mantap.
"Tidak," bisik Rangga. "Tidak, tidak, tidak."
"Apa yang terjadi?" Adit.
"Ia beradaptasi." Rangga menelan ludah. "Kunci masih mengirim kodenya, tapi ia... ia menulis ulang dirinya. Lebih cepat dari yang bisa kunci kacaukan."
Di atas, di garis pantai, ia merasakannya juga — gerombolan Leviathan yang sempat berhenti mulai bergerak lagi. Tersentak. Menemukan arah. Kepala mereka berputar serempak menghadap daratan, seperti seribu kompas yang ditarik magnet yang sama.
"Mereka bergerak lagi!" Laras, dari permukaan, suaranya tertelan suara railgun dan logam yang remuk. "Lebih ganas dari sebelumnya — Rangga, apa yang kau lakukan pada mereka?!"
"Bukan aku," kata Rangga. "Dia."
Mata raksasa Sang Induk kini menatapnya penuh. Dan Rangga merasakan kesadaran itu menggapainya — bukan lewat air, bukan lewat baja, melainkan lewat sinkronisasi, lewat jalur saraf yang menghubungkannya dengan inti Rajawala. Seolah Sang Induk tahu persis di mana letak pikiran Rangga dan memutuskan untuk masuk.
Sakitnya tidak seperti luka mesin. Luka mesin terasa di tubuh. Ini terasa di dalam dirinya.
Tiba-tiba Rangga tidak lagi di Palung. Ia di Tanjung. Ia tujuh belas tahun dan menatap layar radar tempat sinyal Garuda hilang. Bara sekarat dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Adegan itu diulang, diulang, diputar di belakang matanya — kakaknya jatuh ke laut, ledakan putih, sinyal yang padam — dan suara tanpa kata berbisik di benaknya:
Kau tidak bisa menyelamatkan siapa pun. Kau tidak pernah bisa. Seperti dia tidak bisa menyelamatkanmu.
"Keluar dari kepalaku," geram Rangga.
Angka sinkronisasi di tepi pandangannya jatuh. Sembilan puluh dua. Delapan puluh. Tujuh puluh tiga. Setiap kenangan yang Sang Induk paksa masuk mengikis koneksinya dengan Rajawala. Rangga merasa dirinya mulai terlempar keluar dari mesin — dan di kedalaman ini, terlempar keluar berarti mati ditekan air dalam sedetik.
"Rangga!" Adit berteriak. "Sinkronisasimu anjlok! Apa yang terjadi—"
"Dia menyerang lewat sinkronisasi." Rangga menggertakkan gigi. Enam puluh delapan. Enam puluh lima. "Dia mengirim... rasa sakit lama. Kenangan. Dia mau aku menyerah."
Dan untuk satu detik yang mengerikan, Rangga hampir menyerah.
Karena Sang Induk benar. Ia tidak menyelamatkan Bara. Ia tidak menyelamatkan benteng yang ditarik mundur. Berapa banyak nama yang sudah hilang sejak ia masuk ke mesin ini? Sembilan Baja menjadi lima. Pilot demi pilot, gugur agar ia bisa berada di sini, di dasar laut, gagal.
Lima puluh delapan persen.
Lima puluh lima.
Di permukaan, lewat radio, ia mendengar Laras berteriak memberi perintah, suaranya serak karena melawan kematian demi membeli waktu untuknya. Demi waktu yang sedang Rangga sia-siakan dengan tenggelam dalam kepalanya sendiri.
Lima puluh dua persen.
"Tidak," kata Rangga, dan kali ini suaranya berbeda. "Kau salah soal satu hal."
Mata raksasa itu berkedip.
"Bara tidak gagal menyelamatkanku." Rangga membuka matanya. Di dalam ruang kemudi gelap, lampu inti merah Rajawala berdenyut, mantap, seperti jantung yang menolak berhenti. "Dia menyelamatkanku. Aku di sini karena dia. Setiap orang yang gugur — mereka tidak gagal. Mereka memberiku ini."
Lima puluh dua persen. Lalu berhenti turun.
Lalu naik.