Tiga ratus kilometer dari Palung Tengah, langit di atas garis pantai timur berwarna jingga karena api, bukan matahari.
Komandan Laras Wijaya berdiri di dalam ruang kemudi Bajanya — unit tua bernama Cakra, biru baja dengan tameng bundar di lengan kiri — dan menatap apa yang dulu bernama harapan kini berubah menjadi neraka. Gerombolan Leviathan yang sempat berhenti, yang sempat membuat seluruh garis pertahanan bersorak selama tiga detik ajaib, kembali bergerak. Dan mereka bergerak dengan kemarahan yang belum pernah Laras lihat.
"Mereka mengamuk!" suara seorang pilot pecah di saluran skuadron. "Mereka tidak menyerang kita — mereka mau lewat kita! Mereka semua menuju Pusat!"
Laras paham seketika. Sang Induk telah merebut kembali kendali, dan perintahnya berubah. Tidak lagi membabat garis pantai. Sekarang gerombolan diperintahkan menerobos, mengabaikan Baja, menyeberangi garis menuju benteng terakhir umat manusia — menuju pengungsi, menuju Sari, menuju Pak Surya dan Bu Inten dan seratus ribu jiwa yang berlindung di balik tiga lapis dinding.
Sang Induk tahu Rajawala ada di Palung. Dan ia memutuskan: jika ia akan kalah, ia akan menghancurkan segalanya yang Rangga coba lindungi terlebih dulu.
"Dengar aku!" Laras membentak ke saluran. Lima Baja tersisa di garis pantai, tersebar di sepanjang pesisir yang membara. "Kita tidak menahan garis lagi. Garis sudah jatuh. Kita jadi bendungan. Kita berdiri di antara mereka dan jalan menuju Pusat, dan kita tidak bergeser. Apa pun yang terjadi."
"Itu bunuh diri, Komandan."
"Lalu kita mati sambil berdiri." Suara Laras tidak goyah. "Rangga sedang membeli kita kemenangan di bawah sana. Tugas kita cuma satu: pastikan masih ada sesuatu untuk diselamatkan saat ia berhasil."
Ia mendorong Cakra maju. Perisai bundar di lengan kirinya terangkat. Sebuah Kelas Kraken — tentakelnya seukuran menara — menghantamnya, dan Laras menahannya dengan seluruh tubuh mesin, kakinya mengukir parit di pasir. Di sinkronisasinya ia merasakan setiap benturan sebagai memar yang menjalar di tulangnya sendiri.
"Bara," gumamnya, terlalu pelan untuk didengar siapa pun. Ia tidak pernah berdoa, tapi entah kenapa nama itu yang keluar. "Adikmu sedang melakukan hal yang sama persis seperti yang kau lakukan. Dan aku tidak akan membiarkannya mati sendirian seperti kau."
Sebuah Kelas Hiu melompat melewati Cakra, hampir lolos ke arah pedalaman. Laras berputar, mencengkeram ekornya, membantingnya kembali ke dalam gerombolan. Di sebelahnya, Baja merah bernama Curiga — dikemudikan oleh veteran tua bertangan satu — mengubur tinjunya ke kepala seekor Kraken hingga cangkangnya retak.
"Komandan," kata pilot Curiga, suaranya tenang seperti orang yang sudah lama berdamai dengan kematian. "Berapa lama kita harus bertahan?"
Laras menatap saluran komunikasi ke Palung. Diam. Statik. Rangga masih hidup di sana — sinkronisasinya masih terbaca di monitor Adit — tapi tidak ada yang tahu berapa lama lagi.
"Sampai bocah itu pulang," kata Laras. "Bertahan sampai bocah itu pulang."
Di belakang garis, di balik dinding pertama Pusat, Laras tahu Adit sedang berlari di antara konsol-konsol, membaca angka sinkronisasi Rangga yang melampaui segala batas yang pernah dicatat manusia. Dan jauh di balik dinding terdalam, ratusan ribu jiwa berdesakan dalam terowongan pengungsian, tidak tahu bahwa empat — kini lima — mesin baja adalah satu-satunya hal yang berdiri di antara mereka dan kepunahan. Di antara mereka ada gadis kecil yang memeluk boneka robot, menunggu seseorang yang berjanji akan pulang.
"Untuk mereka," gumam Laras pada dirinya sendiri. Lalu, ke saluran: "Untuk mereka semua. Tidak ada yang mundur."
Lalu gelombang berikutnya menghantam, dan garis pantai timur benar-benar membara.