"Tidak." Suara Adit pecah di radio. "Rangga, dengar aku. Melampaui seratus persen berarti kau dan mesin tidak lagi punya batas. Tidak ada lagi 'kau' dan 'Rajawala'. Tubuhmu akan menanggung setiap kerusakan mesin sebagai kerusakan tubuh nyata. Itu yang membunuh manusia di angka itu. Itu sebabnya proyek dibatalkan."
"Aku tahu," kata Rangga.
"Bara berhenti di sembilan puluh delapan persen karena dia tahu langkah berikutnya membunuhnya. Itu bukan kelemahan, itu—"
"Itu sebabnya dia ditolak." Rangga menyelesaikan dengan tenang. "Bukan karena dia takut mati. Karena dia mencari kemenangan, dan kemenangan punya batas. Aku tidak mencari kemenangan, Adit. Aku cuma mau mereka hidup."
Hening di radio.
"Tidak ada batas untuk itu," kata Rangga.
Lalu ia mendorong.
Rasanya seperti melangkah keluar dari tubuhnya sendiri. Pada delapan puluh delapan persen, Rangga masih merasakan kursi di bawahnya, jarum di tengkuknya, batas tempat dagingnya berakhir dan baja dimulai. Pada sembilan puluh lima, batas itu menipis. Pada sembilan puluh sembilan, ia hilang.
Seratus persen.
Rangga membuka mata, dan ia bukan lagi seorang anak di dalam mesin. Ia adalah Rajawala. Lengannya adalah lengan baja sepanjang dua puluh meter. Jantungnya berdenyut dengan irama inti reaktor merah. Air dingin Palung mengalir di sela jari-jarinya seolah kulitnya sendiri. Untuk pertama kalinya sejak ia menjadi pilot, ia tidak merasakan mesin — ia adalah mesin.
Dan ia melihat Sang Induk dengan jelas. Bukan sebagai pegunungan daging yang mustahil. Sebagai struktur. Sebagai jaringan. Ribuan jalur cahaya yang menjadi titik lemah jika kau cukup dekat dengan kesadaran mereka untuk membacanya.
Seratus dua persen.
Rasa sakit datang. Adit benar — setiap goresan di pelat Rajawala kini terasa seperti pisau di kulit Rangga sendiri. Tekanan Palung yang menggencet baja menggencet tulang rusuknya. Ia mengeluarkan darah dari hidung di dalam ruang kemudi, dan ia tahu ini baru permulaan dari harga yang harus dibayar.
Tapi ia juga punya kekuatan yang tak pernah dimiliki pilot mana pun.
Rangga menggerakkan Rajawala maju — bukan dengan tuas, bukan dengan perintah, melainkan dengan keinginan, secepat ia menggerakkan tangannya sendiri. Mesin gunmetal kelabu itu melesat menembus air gelap, garis merah pudar di tubuhnya berpijar terang untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, menyala seperti urat yang akhirnya dialiri darah.
Ia menukik ke arah jaringan cahaya Sang Induk.
Mata raksasa itu melebar. Tentakel-tentakel sebesar kapal bangkit dari kegelapan untuk menghadangnya. Tapi Rangga tidak lagi bergerak seperti manusia yang mengemudikan robot. Ia bergerak seperti makhluk hidup. Ia berkelit di antara tentakel, menyelip, dan setiap kali baja menghantam daging, ia merasakannya di kepalan tangannya sendiri.
"Adit," desisnya, dan suaranya nyaris tak terdengar di antara debar reaktor. "Catat ini. Sinkronisasi seratus lima persen. Stabil."
"Itu... itu mustahil." Adit terbata. "Tubuhmu—"
"Tubuhku masih bernapas." Rangga mencengkeram satu tentakel dan merobeknya dari pangkalnya, dan cairan bercahaya menyembur ke air gelap. "Untuk sekarang. Bersiap, Adit. Aku akan mencari jantungnya yang sebenarnya."
Di permukaan, ratusan kilometer jauhnya, monitor di tangan Adit menampilkan angka yang membuat seluruh ruang kendali Pusat terdiam.
Tidak ada manusia yang pernah hidup di angka itu.
Rangga Pradipta, tujuh belas tahun, sedang menulis ulang apa yang mungkin — dengan setiap detak jantungnya membayar harganya.