Yang pertama retak bukan tubuh Rangga.
Yang pertama retak adalah inti Rajawala.
Adit melihatnya di monitor sebelum Rangga merasakannya — sebuah garis tipis muncul di pembacaan reaktor, lalu melebar, lalu bercabang. Inti yang sudah terbengkalai lima belas tahun, yang tidak pernah dirancang untuk bertahan di sinkronisasi melampaui seratus persen, mulai gagal.
"Rangga, intinya retak." Suara Adit setajam alarm. "Kau membakarnya. Setiap detik di atas seratus persen memendekkan umurnya. Mungkin kau punya beberapa menit. Mungkin kurang."
"Berapa menit, Adit." Rangga tidak melambat. Ia menukik di antara tentakel, mendekat ke pusat jaringan cahaya Sang Induk. "Angka. Beri aku angka."
Jeda. Suara Adit pelan saat ia menjawab. "Aku tidak bisa beri angka pasti. Tapi kalau kau mendorong lebih jauh, intinya bisa pecah kapan saja. Dan kalau inti pecah saat kau di seratus lima persen—" Adit berhenti. "Kau ada di dalam ledakan, Rangga. Tubuhmu dan mesin sudah satu. Tidak ada kau yang tersisa untuk diselamatkan."
Rangga merasakan retakan itu sekarang. Lewat sinkronisasi penuh, ia merasakannya seperti retak di tulang dadanya sendiri — panas, tajam, menjalar. Setiap denyut reaktor mengirim getaran sakit ke seluruh tubuh baja yang kini menjadi tubuhnya.
Di hadapannya, Sang Induk merasakannya juga. Mata raksasa itu, yang sempat membeliak ketakutan, kini kembali tenang. Monster itu mengerti: pilot kecil ini sedang membakar dirinya sendiri. Yang perlu Sang Induk lakukan hanyalah bertahan. Menunggu. Membiarkan inti yang retak menyelesaikan pekerjaan untuknya.
Tentakel-tentakel itu mundur. Sang Induk berhenti menyerang.
"Dia menunggu," kata Rangga pelan. "Dia tahu aku sekarat. Dia cuma perlu mengulur waktu."
"Maka mundur." Itu Laras, dari permukaan, suaranya retak di antara dentum pertempuran. "Rangga, dengar aku. Kau sudah membuktikan ini bisa dilakukan. Kembali, kita susun ulang, kita cari cara lain—"
"Tidak ada cara lain, Komandan." Rangga menatap pegunungan daging yang bernapas itu. "Tidak ada cara kedua. Inti Rajawala cuma bisa didorong sejauh ini sekali. Kalau aku mundur sekarang, mesinnya tetap rusak, dan tidak akan ada Rajawala kedua untuk kembali."
Hening di radio. Bahkan suara pertempuran di permukaan seolah meredup.
"Berapa lama kalian bisa menahan garis?" tanya Rangga.
Suara Laras nyaris tak terdengar. "Tidak lama. Kami tinggal empat. Satu sudah hampir habis."
Rangga menutup matanya — di dalam ruang kemudi, di dalam tubuh baja yang menjadi dirinya. Ia memikirkan Sari di balik dinding terdalam, memeluk boneka robot yang pernah ia perbaiki. Ia memikirkan Pak Surya. Bu Inten dan porsi ekstranya. Seratus ribu jiwa yang tidak tahu bahwa nyawa mereka sedang ditimbang di dasar laut.
Ia membuka mata. Inti merah Rajawala berdenyut, retak, tapi masih menyala.
"Adit," katanya. "Aku tidak bisa membunuhnya dengan memukulnya. Dia terlalu besar. Tapi kuncinya — kunci masih aktif, kan? Masih mengirim kodenya?"
"Ya, tapi dia sudah menulis ulang dirinya melawan kode itu—"
"Karena dia punya waktu untuk beradaptasi." Rangga merasakan sebuah pikiran membentuk dirinya, dingin dan jernih di tengah rasa sakit. "Kalau aku memaksanya menerima seluruh kode sekaligus — dari dalam, langsung ke jantungnya, dengan sinkronisasi penuh sebagai penghantar — dia tidak akan punya waktu untuk menulis ulang."
"Itu butuh kau berada di jantungnya," kata Adit pelan. "Di titik paling dalam. Tempat paling mematikan di Palung."
"Aku tahu."
Rangga mendorong Rajawala maju, melewati tentakel yang mundur, menuju pusat cahaya tempat seluruh kehendak Sang Induk berkumpul.
Inti di dadanya retak sedikit lebih lebar, dan ia menahan jeritan.