Di permukaan, gelombang terakhir datang.
Sang Induk yang terluka melepaskan dorongan terakhirnya sebelum kehilangan kendali — perintah putus asa yang mengirim setiap Leviathan dalam jangkauan untuk menyerbu garis pantai sekaligus, satu kali, dengan segenap kemarahan. Ratusan monster menghantam empat Baja yang tersisa seperti banjir bandang menghantam empat batu.
Yang gugur kali ini bernama Tirta.
Bajanya — unit kuning kusam bernama Tameng, kekar dan lambat, dirancang untuk menahan, bukan menyerang — berdiri di sayap kiri garis, tempat gelombang menghantam paling keras. Tirta adalah pilot yang selalu bercanda di ruang makan, yang menertawakan ketakutannya sendiri agar yang lain tidak takut. Ia tidak bercanda sekarang.
"Mereka terlalu banyak di sini!" suaranya pecah di saluran. "Aku tidak bisa menahan ini sendirian — Komandan, sayap kiri akan jebol!"
"Aku datang—" Laras membanting Cakra ke arahnya, tapi tiga Kraken menghadang jalannya.
"Tidak ada waktu." Tirta tertawa, dan tawanya gemetar. "Tahu apa yang lucu? Aku selalu takut mati. Setiap pertempuran. Lima belas tahun aku takut." Tameng mengangkat kedua lengannya, membendung gelombang, kakinya terseret mundur di pasir. "Tapi sekarang aku cuma takut mereka lewat. Aneh, ya?"
"Tirta, mundur, kita tarik garis—"
"Kalau aku mundur, sayap kiri jebol, dan mereka masuk ke pedalaman." Tameng mengubur kakinya lebih dalam, menjadi dinding kuning yang menahan banjir. "Aku tahan di sini. Kalian tutup celah lain. Pergi."
Laras tahu ia benar. Itu yang paling menyakitkan. Ia menarik Cakra mundur untuk menutup celah di tengah, dan ketika ia menoleh ke belakang, Tameng masih berdiri — terkubur di bawah selusin Leviathan, menahan mereka semua dengan punggung yang sudah remuk, sampai akhirnya unit kuning itu tenggelam di bawah daging dan tidak muncul lagi.
Tapi sayap kiri tidak jebol. Tirta menahannya sampai akhir.
Sembilan Baja menjadi tiga.
Tiga pilot dari sembilan yang masih bernapas: Rangga, di dasar Palung dalam Rajawala yang sekarat. Galuh, di dalam Curiga merah—veteran tua bertangan satu, pilot pendendam yang dulu membenci Bara, yang kini berdiri di sisi adik Bara tanpa sepatah dendam. Dan Danur, yang Gada-nya tumbang lebih dulu di gelombang tadi, terkubur di bawah Leviathan, tapi yang ditarik keluar dari kokpit yang remuk dalam keadaan masih bernapas dan kini dirawat di balik dinding. Tiga dari sembilan. Di garis pantai itu sendiri, hanya dua Baja yang masih tegak: Cakra milik Laras, dan Curiga milik Galuh.
"Komandan." Suara pilot Curiga tenang seperti selalu, di tengah kehancuran. "Gelombang mulai mereda."
Benar. Dorongan terakhir Sang Induk sudah habis. Tanpa kendali yang kuat, Leviathan yang tersisa mulai kehilangan koordinasi — masih berbahaya, tapi tak lagi terarah. Garis pantai, yang sempat hampir jebol total, bertahan. Nyaris.
Laras menatap saluran ke Palung, tempat sinkronisasi Rangga masih berkedip di monitor — angka mustahil yang seharusnya sudah membunuhnya. Masih hidup. Tapi mesinnya sekarat, dan musuhnya belum mati.
"Rangga," katanya ke radio. "Kami menahan garis. Tirta menahannya sampai akhir. Kalau kau dengar ini — apa pun rencanamu, jangan terlalu lama."
Statik. Lalu, samar, suara Rangga, jauh di dasar laut, terdengar seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu.
"Komandan," katanya. "Kalau aku tidak kembali — beri tahu Sari aku berhasil pulang dengan caraku sendiri."
Dan di sebelah Laras, pilot Curiga yang tua mendengarnya juga. Dan sesuatu di wajahnya — sesuatu yang sudah lama membeku — mulai bergerak.