Pilot Curiga bernama Galuh, dan ia sudah membenci nama Pradipta selama lebih dari sepuluh tahun.
Dulu, di garis timur, sebuah benteng tempat keluarganya berlindung jatuh karena Bara Pradipta memilih menahan sektor lain — sektor dengan lebih banyak nyawa untuk diselamatkan. Pilihan yang benar secara taktik. Pilihan yang merenggut istri dan anak Galuh. Bertahun-tahun ia menyimpan dendam itu seperti bara di dada, dan ketika adik Bara muncul sebagai pilot Rajawala, Galuh melihat hantu yang ia benci berdiri lagi di hadapannya.
Tapi dendam adalah beban yang melelahkan untuk dipikul, dan Galuh sudah tua, dan ia sudah melihat terlalu banyak.
Ia telah melihat bocah itu menyelamatkannya saat ia nyaris mati. Ia telah melihat bocah itu menangisi pilot yang tak ia kenal. Ia telah mendengar bocah itu, di dasar laut, memohon agar seorang anak kecil diberitahu bahwa ia berhasil pulang dengan caranya sendiri.
Dan Galuh akhirnya mengerti apa yang dulu tidak ia mengerti tentang Bara: bahwa orang yang memilih siapa yang harus diselamatkan tidak pernah selamat dari pilihan itu sendiri.
"Komandan Laras," kata Galuh lewat saluran. Suaranya tenang. "Berapa jauh Palung Tengah dari sini?"
Laras mengerutkan kening di dalam Cakra. "Terlalu jauh. Kenapa?"
"Karena bocah itu membutuhkan waktu." Galuh memutar Curiga menghadap laut, ke arah kegelapan yang menelan Rangga. "Dan satu-satunya yang menghalangi waktu itu adalah Leviathan yang masih mengalir keluar dari mulut Palung untuk melindungi induk mereka. Selama mereka mengalir, induknya akan sempat memulihkan diri."
"Galuh—"
"Curiga masih punya inti yang utuh, Komandan." Suaranya tidak goyah sedikit pun. "Dan aku tahu satu cara untuk menutup mulut Palung."
Laras membeku. Ia tahu cara itu. Semua pilot tahu cara itu. Bara melakukannya di Tanjung, beberapa minggu yang lalu.
"Jangan," kata Laras. "Galuh, jangan. Kita sudah kehilangan terlalu banyak—"
"Itu sebabnya aku, dan bukan kau." Galuh mendorong Curiga maju, ke laut, melewati garis pantai, menuju mulut gelap Palung Tengah tempat aliran Leviathan masih merembes keluar. "Kau punya gerbang Pusat untuk dijaga. Kau punya orang yang menunggumu. Aku?" Ia tertawa pelan, tawa orang yang sudah lama tidak punya siapa-siapa untuk pulang. "Aku cuma punya dendam, dan aku sudah meletakkannya."
Curiga melaju ke tengah aliran Leviathan. Monster-monster itu mengerumuninya, mencabiknya, tapi Galuh terus maju, lengan satunya menghantam, menghancurkan, membuka jalan ke titik tempat dasar laut mengisap segalanya ke dalam Palung.
"Rangga Pradipta." Ia membuka saluran ke kedalaman untuk terakhir kalinya. "Kau lebih baik dari kakakmu dalam satu hal. Kau mencari cara untuk pulang. Maka pulanglah. Aku akan membelikanmu waktu."
Lalu Galuh meletakkan tangannya pada tuas inti reaktor Curiga.
"Kepada kakakmu," gumamnya, terlalu pelan untuk siapa pun. "Maaf aku membencimu. Kau cuma melakukan apa yang harus dilakukan. Sekarang aku mengerti."
Ia menarik tuasnya.
Ledakan putih meletus di mulut Palung Tengah, menelan Curiga, menelan ratusan Leviathan yang mengerumuninya, dan menutup aliran monster keluar dari kedalaman seperti bendungan yang runtuh menyumbat sungai. Gelombang kejutnya menjalar ke seluruh laut.
Di dasar Palung, Rangga merasakannya — aliran Leviathan yang melindungi Sang Induk mendadak terputus. Mulut Palung tertutup. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi yang menghalangi antara dirinya dan jantung monster yang terluka.
"Galuh," bisik Rangga, dan ia tahu, ia merasakannya lewat sinkronisasi, sinyal Curiga yang padam. Sembilan Baja menjadi dua. "Terima kasih."
Inti merah Rajawala berdenyut lemah di dadanya, retak, sekarat. Di hadapannya, jantung Sang Induk berkedip — terluka, belum mati, mulai pulih.
Dan Rangga, sendirian di dasar laut dengan waktu yang baru saja dibeli oleh nyawa seorang pendendam yang akhirnya berdamai, menatap inti reaktornya sendiri dan mulai memahami harga terakhir yang harus dibayar.