Gerbang utama Komando Pertahanan Pusat tidak dirancang untuk ditahan oleh satu Baja saja.
Laras tahu itu sejak detik pertama. Unit tempurnya — bukan secantik Garuda, bukan seaneh Rajawala, hanya unit produksi biasa berwarna baja tua dengan lengan kanan yang sudah retak dari pertempuran kemarin — berdiri di celah antara dinding lapis kedua dan lapis ketiga. Di belakangnya, ribuan pengungsi merangkak masuk melalui pintu sempit yang seharusnya cuma untuk patroli. Anak-anak menangis. Roda gerobak macet di lumpur. Setiap detik adalah satu keluarga lagi yang lolos hidup.
Di depannya, kabut pesisir batuk-batuk muntah Leviathan.
"Berapa lama lagi sampai semua masuk?" Suara Laras parau di radio.
"Delapan menit, Komandan," jawab petugas gerbang. "Mungkin sepuluh."
Sepuluh menit. Ia melirik garis sinkronisasi di sudut pandangnya: empat puluh delapan persen. Tipis. Lengan kanan unitnya nyaris tak bisa mengepal. Reaktornya berdenyut tidak rata, seperti jantung tua yang dipaksa lari.
"Kalau begitu aku punya sepuluh menit," gumamnya.
Kelas Hiu pertama melompat dari kabut. Laras menyambutnya dengan bahu, membantingnya ke tanah, lalu menginjak tengkoraknya sampai retak. Rasa sakit benturan menjalar ke punggungnya sendiri — itulah harga sinkronisasi, kau merasakan setiap luka mesin sebagai luka tubuh. Ia menggeram dan menelan rasa itu seperti yang diajarkan Bara dulu, bertahun lalu, saat mereka masih kadet. *Jangan lawan rasa sakitnya. Bawa dia. Jadikan dia bahan bakar.*
Dua Hiu lagi. Empat. Mereka berburu berkelompok, memutar, mencari celah. Laras tidak membiarkan mereka memutar. Ia memaksa diri tetap di mulut celah, tubuh logamnya menjadi sumbat, sehingga monster-monster itu cuma bisa datang dari depan, satu-dua sekaligus. Logika montir, pikirnya pahit. Logika yang diajarkan bocah tujuh belas tahun itu pada seluruh skuadron.
"Rangga," panggilnya ke saluran terbuka, meski tahu Rajawala sudah jauh, di kegelapan Palung. "Aku menahan gerbang. Selesaikan urusanmu di bawah sana. Jangan menoleh ke belakang."
Tidak ada jawaban. Hanya desis statis dari kedalaman laut.
Kelas Kraken muncul. Satu. Tentakelnya menyapu, menghantam bahu kiri Laras, dan dunia meledak putih di kepalanya. Sinkronisasi turun ke empat puluh tiga. Ia hampir terlempar keluar. Ia mencengkeram kendali, menggigit lidah sampai berdarah, dan menariknya kembali. Tangan kanan yang retak itu ia ayunkan ke mata-mata merah Kraken, sekali, dua kali, sampai cangkang berbunyi seperti tulang patah.
"Tujuh menit, Komandan!"
Tujuh menit. Bisa.
Ia teringat wajah Sari di pengungsian, gadis kecil yang menitipkan boneka robotnya pada Rangga. Ia teringat Pak Surya yang masih saja menyebut Rangga "bocah itu" dengan suara bangga yang tak bisa disembunyikan. Ia teringat Bara, sahabatnya, yang dulu berdiri persis seperti ini di sepanjang kariernya — di antara monster dan orang-orang yang dilindunginya, menolak mundur.
*Yang melindungi, tidak boleh lari.*
"Aku tahu, Bara," bisiknya. "Aku tahu sekarang."
Kraken kedua. Reaktornya menjerit protes. Laras menggunakan tubuh unitnya seperti palu, seperti perisai, seperti dinding daging logam. Setiap pukulan yang ia terima ia bayar dengan satu pukulan balik. Lengan kanan akhirnya patah total, terlepas dari sendi, jatuh ke lumpur dengan bunyi gemuruh. Ia bertarung dengan satu lengan.
"Lima menit!"
Darah mengalir dari hidungnya di dalam kokpit. Sinkronisasi empat puluh satu. Ambang kematian. Ia tertawa kecil, getir, karena tahu persis betapa konyolnya: seorang komandan veteran, ditahan di gerbang oleh hitungan persen seperti kadet pertama.
Tapi di belakangnya pintu masih terbuka. Orang-orang masih masuk. Dan selama itu terjadi, ia tidak akan bergerak satu langkah pun ke belakang.
"Tiga menit, Komandan! Kami hampir selesai—"
Kabut bergetar. Sesuatu yang lebih besar dari Kraken bergerak di baliknya. Laras menarik napas dalam, menegakkan punggung unitnya yang penyok, dan melangkah maju satu langkah — bukan mundur — untuk menyambutnya.
"Datanglah," katanya pelan. "Aku belum selesai."