Jauh di bawah, di tempat cahaya matahari tak pernah sampai, Rangga sedang sekarat sedikit demi sedikit.
Rajawala melayang di mulut Palung Tengah, dikepung oleh tubuh raksasa Sang Induk — entitas yang lebih besar dari pulau, yang dindingnya berdenyut seperti daging hidup, yang dari permukaannya tumbuh ribuan Leviathan seperti tunas dari satu pohon. Setiap pukulan Rajawala melukai Sang Induk, tapi luka itu menutup hampir secepat ia dibuka. Setiap dorongan sinkronisasi membakar tubuh Rangga sedikit lagi.
"Adit," ia memanggil lewat saluran kedalaman yang hampir putus. "Aku sudah memutar kuncinya. Aku sudah memutus sebagian kendalinya. Tapi tidak cukup. Dia menyembuhkan dirinya lebih cepat dari yang bisa kulukai."
Suara Adit datang patah-patah, ribuan kilometer jauhnya, di atas permukaan. "Kunci itu cuma melemahkan kendali, Rangga. Bukan membunuh. Untuk membunuh entitas sebesar itu... aku tidak tahu. Tidak ada senjata yang cukup. Tidak ada Baja yang cukup."
Rangga menatap jantung Sang Induk.
Di tengah massa raksasa itu, berdenyut sebuah inti — sebuah organ cahaya kemerahan yang berdetak dengan ritme yang ia kenali, ritme yang sama seperti reaktor di dadanya sendiri. Dua inti. Dua jantung. Satu milik monster, satu milik mesin yang memilihnya.
Dan saat itu Rangga mengerti. Ia mengerti dengan kejernihan dingin yang membuat napasnya tertahan.
"Adit," katanya. "Aku tahu caranya."
"Rangga—"
"Bara melakukannya di Tanjung. Lima belas tahun pengabdian, dan ia mengakhirinya dengan menarik satu tuas. Inti reaktor Garuda. Ia meledakkannya dari dalam, di tengah dua Kraken, dan tidak ada yang bisa bertahan dari itu. Bukan monster. Bukan dia." Suara Rangga gemetar, tapi mantap. "Sang Induk menyembuhkan luka di permukaan. Tapi tidak ada makhluk yang bisa menyembuhkan jantungnya kalau jantungnya diledakkan dari dalam."
Hening panjang di radio.
"Kau bicara soal menanamkan inti reaktor Rajawala," kata Adit akhirnya, suaranya nyaris berbisik, "langsung ke jantung Sang Induk. Lalu meledakkannya."
"Ya."
"Itu... Rangga, itu persis yang dilakukan kakakmu. Dan kakakmu tidak pulang."
Rangga menutup mata di dalam kokpit. Di tengkuknya, jarum sinkronisasi terasa seperti bara. Ia merasakan Rajawala di sekelilingnya, di dalamnya — mesin tua yang ditolak setiap pilot kecuali dirinya, mesin yang dirancang sejak awal, ternyata, untuk menghadapi makhluk yang persis ada di depannya sekarang. Bukan kebetulan Rajawala tanpa senjata. Bukan kebetulan ia dibuat untuk pertarungan jarak dekat, untuk masuk, untuk menempel, untuk menusuk.
Rajawala dibuat untuk ini. Untuk membawa intinya ke jantung musuh.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan," kata Rangga pelan. "Aku tahu kau ingat layar radar tempat kakakku menghilang. Aku tahu kau tidak mau melihatku menghilang dengan cara yang sama."
"Jangan," kata Adit. Untuk pertama kalinya suara teknisi muda itu pecah. "Jangan kau berani-berani bicara seolah kau sudah memutuskan untuk mati. Beri aku waktu. Beri aku waktu untuk berpikir."
Di luar, Sang Induk bergerak. Ribuan tunas Leviathan-nya menggeliat, berputar, mengarah pada satu titik kecil gunmetal kelabu yang berani turun ke dalam dirinya.
Rangga membuka mata. Garis merah pudar di tubuh Rajawala menyala terang, lebih terang dari yang pernah ia lihat, seakan mesin itu pun sudah tahu, sudah siap.
"Kau punya waktu sampai dia menutup celahnya," kata Rangga. "Lalu aku masuk."