Seratus persen datang seperti tenggelam.
Rangga berhenti merasa di mana tubuhnya berakhir dan Rajawala dimulai. Lengannya adalah lengan logam itu. Napasnya adalah denyut reaktor. Rasa sakit di tengkuknya melebur menjadi rasa sakit di seluruh kerangka baja yang menderu di sekelilingnya. Garis merah pudar di sekujur Rajawala menyala penuh, merah darah, hidup, untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun benar-benar utuh.
Seratus dua. Seratus lima. Tubuhnya menjerit. Pembuluh darah pecah di matanya. Ia menelan rasa itu — *bawa dia, jadikan dia bahan bakar* — dan menukik.
Rajawala menembus dinding daging Sang Induk seperti pisau menembus laut. Leviathan-Leviathan kecil berhamburan ke arahnya, menggigit, mencengkeram, mencoba menariknya keluar. Setiap gigitan terasa di kulit Rangga sendiri — sinkronisasi seratus lima persen tidak memberi jarak antara mesin dan manusia; ia merasakan setiap robekan seakan giginya merobek dagingnya sendiri. Tapi Rangga tidak melawan mereka. Ia tidak punya waktu untuk melawan mereka. Ia hanya menukik lebih dalam, lebih dalam, menuju cahaya berdenyut di tengah, jantung dari segala kengerian yang telah membunuh separuh dunia selama lima belas tahun.
Tekanan kedalaman meremas lambung Rajawala. Logam berderak. Suhu inti naik. Di sudut pandangnya, angka sinkronisasi bergetar liar — seratus enam, seratus tujuh — angka-angka yang seharusnya sudah lama melemparnya keluar, mematikannya, merobek syarafnya. Ia bertahan dengan satu hal yang Rajawala mengerti sejak awal: ia tidak di sini untuk menang. Ia di sini untuk melindungi. Dan mesin yang memilihnya tahu perbedaannya.
"Aku melihatmu, Bara," bisiknya, entah pada kakaknya, entah pada dirinya sendiri. "Aku mengerti sekarang. Aku mengerti semuanya."
Jantung Sang Induk tepat di depannya. Sebesar gedung. Berdetak. Dan untuk pertama kalinya sejak ia turun ke Palung, Rangga merasakan sesuatu dari entitas itu — bukan kebencian, bukan kemarahan, hanya kelaparan dingin yang luas dan tak berdasar, sebuah kehendak yang ingin menelan segalanya kembali ke dalam gelap.
"Tidak," kata Rangga. "Tidak hari ini."
Ia menanamkan tangan kanan Rajawala — kepalan gunmetal yang menggenggam intinya sendiri — langsung ke dalam jantung Sang Induk. Daging monster itu mencengkeram lengannya, mencoba menelannya, mencoba menyembuhkan luka itu secepat ia dibuka. Tapi Rangga sudah terlalu dalam. Inti reaktor Rajawala kini bersarang di dalam jantung musuh, dua jantung beradu, logam menempel pada daging hidup.
"Adit," ia berteriak melalui rasa sakit. "Aku di dalam. Aku menarik tuasnya. SEKARANG."
Ia menarik tuas inti reaktor.
Reaktor Rajawala mulai melebur. Ia merasakannya sebagai api yang menjalar dari dadanya sendiri — karena pada sinkronisasi seperti ini, dada mesin adalah dadanya. Panas itu tak tertahankan. Cahaya mulai membangun di dalam jantung Sang Induk, putih di balik merah, fajar kecil yang akan menjadi kiamat. Untuk satu detik yang ganjil dan tenang, Rangga merasa entitas raksasa di sekelilingnya berhenti melawan — seakan Sang Induk, untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, akhirnya merasakan takut.
"EMPAT!" Suara Adit meledak di radio. "Putus sinkronisasinya, Rangga! Sekarang juga! TIGA—"
Rangga meraih saklar darurat dengan tangan yang gemetar. Memutus sinkronisasi pada seratus lima persen terasa seperti merobek kulit sendiri, seperti mencabut tulang. Dunia berputar. Tubuhnya yang sudah lama lupa di mana batasnya kini dipaksa kembali menjadi daging, menjadi tujuh belas tahun, menjadi rapuh.
"DUA—"
Jarum tercabut dari tengkuknya. Ia menjerit. Darah memenuhi mulutnya. Tapi tangannya, dengan sisa kehendak terakhir, menemukan tuas eject.
"SATU—"
"Maaf, Bara," bisik Rangga, gema kalimat terakhir kakaknya yang pernah ia dengar di radio Tanjung — *maaf, aku tidak bisa pulang untuk makan malam* — tapi kali ini ia membaliknya, ia bersumpah membaliknya. "Aku akan pulang."
Ia menarik tuas eject.