Kapsul eject menembak keluar dari punggung Rajawala seperti peluru.
Untuk satu pecahan detik yang terasa abadi, Rangga melihatnya — melalui satu-satunya kamera kapsul yang masih berfungsi — Rajawala yang berdiri tertanam di jantung Sang Induk, lengan kanannya tenggelam dalam daging musuh, garis merah di tubuhnya menyala terang menyilaukan. Mesin tua yang ditolak setiap pilot. Mesin yang memilihnya. Mesin yang sekarang menahan monster terbesar di dunia agar tidak melepaskan inti yang akan membunuh mereka berdua.
Lalu Palung Tengah menjadi putih.
Cahaya itu — Rangga mengenalinya. Ia pernah melihatnya satu kali, dari pantai Tanjung, beberapa minggu yang lalu, ketika kakaknya menarik tuas yang sama di tengah dua Kraken. Cahaya yang sama. Putih yang menelan segalanya, yang menghapus suara, yang menjadikan dunia hanya kosong yang membakar.
Tapi kali ini ada perbedaan yang menentukan segalanya.
Kali ini pilotnya tidak berdiri di dalam ledakan itu. Kali ini ada kapsul kecil yang melesat ke atas, menembus air gelap, menjauh dari fajar buatan yang sedang lahir di bawahnya. Kali ini ada empat detik yang tidak dimiliki Bara.
Gelombang kejut menyusul kapsul itu. Air laut, yang biasanya tak bisa dimampatkan, dipaksa bergerak oleh kekuatan yang lahir dari inti reaktor yang melebur. Kapsul Rangga terlempar, berputar, dihantam dinding tekanan yang menghantamnya seperti palu raksasa. Tubuhnya yang sudah hancur dari sinkronisasi berlebih kini dibanting di dalam kapsulnya. Tulang rusuk patah. Kesadaran berkedip seperti lampu yang sekarat.
Dalam kabut antara sadar dan tidak, satu pikiran bertahan, keras kepala, menolak padam. *Aku akan pulang.* Bukan doa. Bukan harapan. Sebuah janji yang ia ucapkan pada kakaknya di detik terakhir, dan Rangga Pradipta tidak pernah belajar cara mengingkari janji. Ia mencengkeram pikiran itu seperti orang tenggelam mencengkeram kayu, dan membiarkan gelap menelannya hanya setelah ia yakin pikiran itu tidak akan ikut tenggelam bersamanya.
Di bawah, jauh di bawah, jantung Sang Induk meledak dari dalam.
Tidak ada daging yang bisa menyembuhkan ledakan inti reaktor di pusat dirinya. Tidak ada makhluk, sebesar apa pun, yang bisa bertahan dari fajar yang lahir di dalam jantungnya sendiri. Tubuh raksasa Sang Induk — yang lebih besar dari pulau, yang telah mengendalikan ribuan Leviathan, yang telah mengintai daratan selama lima belas tahun — terkoyak dari pusatnya ke luar, robek dalam keheningan dahsyat kedalaman laut.
Di permukaan, di ruang kendali Pusat, Adit menatap layar sonar yang tiba-tiba membara putih, lalu kosong.
"Tanda kehidupan raksasa," bisik seorang petugas, suaranya pecah. "Sang Induk... hilang. Tidak ada. Lenyap dari semua sensor."
Adit tidak menjawab. Tangannya mencengkeram tepi meja sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya tertuju pada satu titik kecil di sudut layar — satu sinyal lemah, hampir tak terlihat, terombang-ambing di tengah kekacauan air yang baru saja menelan seekor dewa.
Sinyal kapsul eject.
"Berkedip," ia berbisik. "Ayo. Tetap berkedip. Tetap—"
Sinyal itu menyala lemah. Lalu redup. Lalu menyala lagi.
Lalu diam.
Adit tidak bernapas. Ruang kendali tidak bernapas. Di luar, melalui dinding tebal Pusat, kabut yang telah meraung Leviathan selama lima belas tahun perlahan-lahan mulai senyap, seakan seluruh dunia menahan napasnya bersama-sama, menunggu satu titik kecil di laut untuk berkedip sekali lagi.