"Aku tidak peduli mustahil. Kita berangkat sekarang."
Laras berdiri di geladak kapal patroli yang berderak, suaranya keras kepala melawan angin laut. Lengannya yang sebenarnya — bukan lengan logam unit tempurnya yang sudah remuk dan ditinggalkan di gerbang — terbalut perban dari pertahanan gerbang. Wajahnya pucat. Tapi matanya tidak menerima penolakan.
"Komandan," kata kapten kapal hati-hati, "Palung Tengah berada ratusan kilometer di laut. Ledakan sebesar itu mengacak seluruh perairan. Arusnya gila. Dan kalaupun kapsul itu selamat dari ledakan, peluang ia bertahan di permukaan—"
"Adit," potong Laras tanpa menoleh. "Kau dapat sinyalnya?"
Di sudut geladak, Adit membungkuk di atas perangkat pelacaknya, kacamatanya buram oleh percikan laut. Ia tidak tidur sejak ledakan. Tangannya gemetar bukan dari lelah, tapi dari sesuatu yang tidak ia izinkan dirinya namai sebagai harapan.
"Sinyalnya hilang tiga jam lalu," katanya pelan. "Tapi sebelum hilang, ia berkedip. Berkali-kali. Itu artinya kapsulnya utuh saat eject. Itu artinya—" Ia menelan ludah. "Itu artinya ada kemungkinan. Kapsul eject dirancang untuk mengapung. Untuk menjaga pilot hidup. Kalau sistemnya bekerja, kalau—"
"Terlalu banyak 'kalau'," gumam kapten.
"Kakaknya tidak punya satu pun 'kalau'," kata Laras tajam, berbalik menghadapnya. "Bara Pradipta menarik tuas itu tahu ia tidak akan pulang, dan kami bahkan tidak punya jasad untuk dimakamkan. Kami cuma punya cahaya putih di cakrawala dan adik kecilnya yang menonton dari pantai." Suaranya retak, sedikit, lalu mengeras kembali. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi dua kali pada keluarga yang sama. Kalau ada satu persen kemungkinan bocah itu masih bernapas di luar sana, kita cari sampai dapat. Mengerti?"
Kapten menatapnya lama. Lalu ia mengangguk, dan berbalik untuk memberi perintah. Kapal membelah ombak menuju jantung perairan yang baru saja menelan seekor dewa.
Jam demi jam berlalu. Kapal-kapal lain bergabung — apa pun yang masih bisa berlayar, dikerahkan dari Pusat dan dari benteng-benteng pesisir yang tersisa. Helikopter pengintai menyapu permukaan. Sonar mendengus di kedalaman. Laut, yang sekarang sunyi dari Leviathan, terbentang luas dan acuh tak acuh, menyembunyikan apa pun yang ada di dadanya.
Adit tidak mengangkat kepala dari pelacaknya. Ia memutar ulang skema lama Rajawala di benaknya, menghitung lintasan eject, kecepatan kapsul, sudut lemparan, arus laut pasca-ledakan. Ia menggambar lingkaran pencarian di peta, lalu menggambar ulang, lalu lagi. Setiap menit lingkaran itu melebar, dan setiap menit harapannya menyempit.
"Empat detik," gumamnya pada dirinya sendiri, untuk keseribu kalinya. "Aku menghitung empat detik. Hitunganku benar. Aku tahu hitunganku benar."
"Kau memberinya kesempatan, Adit," kata Laras di sampingnya, lebih lembut sekarang. "Kakaknya tidak punya kesempatan. Kau memberi Rangga empat detik yang tidak dimiliki siapa pun. Itu bukan kegagalan. Apa pun yang kita temukan di luar sana — itu bukan kegagalanmu."
Adit tidak menjawab. Ia tidak bisa.
Senja jatuh di laut. Lampu sorot kapal menyapu permukaan gelap, mencari serpihan, mencari logam, mencari satu kapsul kecil di tengah samudra yang luasnya tak terbayangkan. Sari menitipkan boneka robotnya pada Rangga sebelum operasi — boneka yang selalu Rangga perbaiki — dan Laras membayangkan gadis kecil itu di pengungsian sekarang, menunggu, percaya dengan keteguhan yang hanya dimiliki anak-anak bahwa kakaknya akan pulang.
"Pulanglah, bocah," bisik Laras ke laut. "Kau bilang kau akan pulang. Jangan kau berani-berani mengingkari janji itu."
Lalu, jauh di depan, di ujung sapuan lampu sorot, sesuatu memantulkan cahaya.
"Di sana!" teriak seorang pengintai. "Pukul sebelas! Ada sesuatu mengapung—logam—"
Adit menjatuhkan pelacaknya dan berlari ke pagar kapal.