Kapsul itu mengapung miring di permukaan, separuh tenggelam, lambungnya penyok dan gosong, tapi utuh.
Kapal menderu mendekat. Lampu sorot mengunci benda kecil gunmetal yang terombang-ambing di ombak — kapsul eject Rajawala, satu-satunya bagian dari mesin itu yang tersisa di dunia ini. Adit sudah memanjat pagar sebelum kapal benar-benar berhenti, tali keselamatan menegang di pinggangnya, berteriak agar mereka menurunkan sekoci, agar mereka cepat, agar mereka semua cepat.
"Buka penutupnya! Hati-hati—jangan banting—"
Tangan-tangan bekerja di bawah cahaya sorot. Penutup kapsul yang macet dicongkel, dipukul, dipaksa terbuka. Air laut menetes dari sela-selanya. Laras berdiri di tepi sekoci, jantungnya berdebar di tenggorokan, tidak berani bicara, tidak berani berharap, tidak berani tidak berharap.
Penutup terbuka.
Di dalam, terlipat dalam ruang sempit yang dirancang untuk menyelamatkan satu nyawa, terbaring Rangga.
Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru, darah mengering di sekitar mata dan tengkuknya tempat jarum sinkronisasi pernah tertancap. Tubuhnya remuk — tulang rusuk patah, lengan bengkok pada sudut yang salah, kulit luka bakar di sepanjang punggung dari panas reaktor yang melebur. Ia tampak seperti orang yang telah berjalan ke dalam api dan keluar di sisi lain dengan susah payah.
Tapi dadanya bergerak.
Naik. Turun. Lemah, dangkal, hampir tak kentara — tapi naik dan turun.
"Dia bernapas," bisik salah seorang penyelamat, tidak percaya. "Astaga—dia bernapas—"
Adit jatuh berlutut di tepi kapsul. Untuk beberapa detik ia tidak bisa berkata apa-apa, tidak bisa bergerak, hanya menatap dada bocah tujuh belas tahun itu yang naik dan turun, naik dan turun, bukti kecil dan keras kepala bahwa empat detik itu cukup. Hitungannya benar. Tuhan, hitungannya benar.
"Hidup," katanya, dan suaranya pecah menjadi sesuatu antara tawa dan tangis. "Komandan. Dia hidup."
Laras menutup mulutnya dengan tangan yang terbalut perban. Air mata yang ia tahan sejak ledakan, sejak gerbang, sejak Bara gugur lima belas tahun lalu, akhirnya tumpah. Ia memerintahkan tim medis dengan suara yang nyaris tak bisa ia kendalikan, dan saat mereka mengangkat tubuh Rangga dengan hati-hati keluar dari kapsul, ia melihat tangan kanan bocah itu masih mencengkeram sesuatu erat-erat, bahkan dalam ketidaksadaran.
Boneka robot Sari.
Basah, gosong di pinggir, tapi utuh. Rangga membawanya ke jantung Sang Induk dan kembali dengannya. Jimat dari seorang gadis kecil yang menunggunya pulang.
Mereka membaringkannya di atas tandu di geladak. Tim medis bekerja cepat, memasang selang, menutup luka, menjaga napas tipis itu agar tidak padam. Di atas mereka, langit malam terbentang luas dan bersih, tanpa asap, tanpa kabut Leviathan, hanya bintang-bintang yang tidak pernah benar-benar terlihat selama lima belas tahun karena dunia selalu terlalu sibuk dengan ketakutannya untuk menengadah.
Laras berlutut di samping tandu Rangga. Ia mengusap rambut basah dari dahi bocah itu, dengan kelembutan yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
"Kau menepati janjimu," bisiknya. "Kau bilang kau akan pulang. Dan kau pulang."
Kelopak mata Rangga bergetar. Tidak terbuka — ia terlalu jauh untuk itu, terlalu hancur, jalan pulihnya masih panjang dan tidak pasti. Tapi bergetar. Seakan, di suatu tempat jauh di dalam gelap tempat ia mengambang antara hidup dan ledakan putih, ia mendengar suara itu dan tahu bahwa ia tidak lagi sendirian.
Kapal berputar menuju Pusat, membawa pulang baja terakhir yang menyelamatkan dunia, dan satu-satunya pilotnya yang — untuk pertama kali dalam sejarah pengorbanan para penjaga — kembali hidup dari laut.
Di kejauhan, garis pantai timur menunggu dalam keheningan yang baru, yang asing, yang damai. Dan untuk pertama kalinya sejak ia kehilangan kakaknya di pantai Tanjung, Rangga Pradipta sedang menuju rumah.