Hal pertama yang Rangga sadari saat ia membuka mata adalah keheningan.
Bukan keheningan ruang kosong. Ada bunyi—mesin monitor yang berdenyut pelan di sisi ranjang, langkah kaki perawat di lorong, angin yang menampar jendela tebal. Tapi tak ada sirine. Selama tujuh belas tahun hidupnya, Rangga tak pernah benar-benar tidur tanpa setengah telinganya menunggu dengung itu naik jadi raungan. Sekarang dengung itu tak datang. Dan entah kenapa, ketiadaannya terasa lebih asing daripada kehadirannya.
"Kau bangun." Suara Laras, datar seperti biasa, tapi Rangga mendengar sesuatu yang retak di baliknya. Komandan itu duduk di kursi besi di samping ranjang, lengannya dibalut perban dari bahu sampai siku. "Tiga hari kau tidur."
Rangga mencoba bicara. Tenggorokannya kering seperti pasir. "Berapa lama..."
"Tiga hari sejak kami menemukanmu di pantai." Laras mengulurkan gelas air. "Kapsul eject-mu terdampar sembilan kilometer dari Palung. Adit tak berhenti memeriksa data sampai ia yakin kau masih bernapas."
Rangga minum. Setiap tegukan terasa seperti keajaiban kecil. Ia mengingat potongan-potongan: kegelapan Palung, tekanan yang meremukkan, cahaya putih yang membutakan—lalu tak ada apa-apa. Tubuhnya masih ingat rasa sakitnya. Setiap luka Rajawala masih membekas di sarafnya, fantom dari mesin yang sudah tak ada.
"Rajawala," kata Rangga.
Laras menggeleng pelan. "Hancur. Kau tahu itu."
Rangga tahu. Tentu saja ia tahu. Tapi mendengarnya diucapkan tetap terasa seperti kehilangan tangan sendiri. Selama berminggu-minggu, mesin itu adalah tubuhnya, suaranya, kesadaran kedua yang mendengkur di belakang pikirannya. Sekarang tempat itu kosong. Sunyi.
Pintu terbuka. Adit masuk dengan setumpuk kertas data, kacamatanya merosot di hidung, mata berkantung gelap karena kurang tidur. Begitu melihat Rangga duduk, kertas-kertas itu hampir jatuh.
"Kau—" Adit menelan kata-katanya. "Kau benar-benar bangun."
"Aku masih utuh, Dit."
"Tidak, kau tidak utuh." Adit meletakkan kertasnya, suaranya gemetar antara lega dan marah. "Sinkronisasimu menembus seratus tiga belas persen sebelum eject. Tubuh manusia tidak dirancang untuk itu. Sarafmu seharusnya terbakar. Aku menghitung kemungkinanmu hidup—" Ia berhenti. "Tidak penting lagi. Kau hidup."
Rangga melihat ke luar jendela. Komando Pertahanan Pusat membentang di bawah, tiga lapis dindingnya kelabu di bawah langit pagi. Di halaman dalam, orang-orang berjalan. Anak-anak. Para pengungsi yang dulu meringkuk di sudut-sudut sekarang berdiri di tempat terbuka, wajah mendongak ke langit—bukan untuk mencari ancaman, tapi karena mereka baru ingat langit bisa ditatap tanpa takut.
"Mereka belum percaya," kata Laras, mengikuti pandangan Rangga. "Lima belas tahun. Kau tidak bisa menghapus lima belas tahun ketakutan dalam tiga hari. Setiap kali angin laut bertiup kencang, separuh benteng masih lari ke bunker."
"Apa yang terjadi di garis pantai?" tanya Rangga. "Setelah ledakan."
Laras dan Adit bertukar pandang. Ada hening yang berat sebelum Laras menjawab.
"Saat inti Rajawala meledak di jantung Sang Induk, gerombolan global berhenti. Serentak. Seolah seseorang memotong tali yang mengikat mereka semua." Laras menatap tangannya yang terbalut. "Ribuan Leviathan yang menyerang garis pantai timur tiba-tiba berhenti menyerang. Beberapa diam membatu. Sisanya berbalik dan menyelam ke laut dalam. Pukul empat sore, garis pantai sunyi untuk pertama kalinya sejak hari pertama."
Rangga menutup matanya. Ia memikirkan semua orang yang tak sempat melihat pagi ini. Para pilot yang gugur membuka jalan untuknya. Sang veteran yang menebus dirinya dengan ledakan inti, mengikuti jejak Bara. Dan Bara sendiri—yang warisannya tertanam dalam inti Rajawala, yang menguatkannya saat ia hampir kalah di kegelapan Palung.
"Kita menang," bisik Rangga. Kata-kata itu terasa aneh di mulutnya, seperti baju yang tak pernah ia pakai.
"Kau menang," kata Laras.
"Tidak." Rangga membuka mata. "Kita. Semuanya. Yang hidup dan yang mati."
Laras tak membantah. Ia hanya berdiri, perlahan karena lengannya yang terluka, dan meletakkan tangan di bahu Rangga sebentar—sentuhan yang dari Laras Wijaya berarti lebih dari pelukan orang lain.
"Istirahat," katanya. "Dunia tanpa sirine ini—kau yang menjadikannya begitu. Setidaknya untuk hari ini, biarkan ia menjagamu, bukan sebaliknya."
Ia keluar. Adit menyusul, tapi berhenti di pintu.
"Rangga." Teknisi muda itu ragu. "Aku terus mendengar denyut Rajawala dalam tidurku. Padahal mesinnya sudah tidak ada." Ia tersenyum kecil, lelah. "Kurasa kita tidak akan pernah benar-benar melepaskannya."
Pintu menutup. Rangga sendiri lagi, dalam keheningan tanpa sirine, mendengarkan napasnya sendiri—bukti bahwa, kali ini, sang penjaga memilih untuk hidup.