Lima hari kemudian, mereka mengadakan upacara.
Bukan upacara megah. Pusat tak punya tenaga untuk kemegahan. Tapi di halaman dalam dinding terdalam, di bawah langit kelabu yang kini tak lagi mengancam, sisa-sisa umat manusia berkumpul. Tentara, teknisi, pengungsi, anak-anak. Mereka berdiri menghadap deretan sembilan obor yang menyala di atas tiang besi.
Sembilan. Satu untuk setiap Baja yang pernah berdiri di garis terakhir.
Rangga berdiri dengan tongkat, kakinya masih belum kuat menahan berat tubuh sendiri. Di sampingnya, Laras berdiri tegak meski lengannya tergantung di selempang. Dan di sisi lain Rangga berdiri Danur—pilot terakhir dari sembilan selain dirinya yang masih bernapas, lengannya yang besar berbalut perban tebal, wajahnya penuh garis baru. Gada-nya terkubur di garis pantai bersama yang lain, tapi tim penyelamat menariknya keluar dari kokpit yang remuk sebelum napasnya habis. Ia tidak banyak bicara—tidak pernah—tapi ia berdiri di sana, di sisi adik dari orang yang dulu ia benci selama dua belas tahun. Sang jenderal tua—orang yang menyiarkan Kode Hitam berminggu lalu—berdiri di depan, suaranya serak tapi mantap.
"Sembilan Baja," kata jenderal itu. "Sembilan pilot. Saat malam terdalam tiba, hanya itu yang berdiri antara umat manusia dan kepunahan." Ia berhenti, menatap deretan obor. "Hari ini, dua di antara mereka masih bernapas. Tujuh telah pergi."
Rangga memandang nyala obor satu per satu. Ia tak tahu semua nama mereka di awal—delapan pilot asing yang meragukan "bocah montir" pengganti Bara. Tapi ia mengenal mereka sekarang, semua yang tak sempat melihat dunia tanpa sirine. Pilot pertama yang gugur menahan gerombolan, sebelum Rangga sempat belajar menghormati mereka. Pilot kedua yang menutup celah dengan tubuhnya. Pilot ketiga yang melindungi pengungsi di luar dinding. Pilot keempat yang membuka jalur ke Palung dengan nyawanya. Pilot kelima yang menahan gelombang di pantai agar Rangga punya waktu. Pilot keenam.
Dan veteran itu.
Rangga menutup matanya. Pilot yang dulu membenci Bara—membenci nama Garuda, membenci bayangan "Sang Penjaga Timur" yang membayangi seluruh karier veteran itu. Pilot yang nyaris membiarkan Rangga mati di pertempuran pertama, lalu diselamatkan Rangga, lalu perlahan mencair. Di akhir, veteran itu yang melatih Rangga menembus sinkronisasi tinggi. Dan veteran itu yang menarik tuas inti Bajanya sendiri di mulut Palung, meledak menahan Leviathan agar Rajawala bisa menembus ke dalam—mengikuti jejak yang sama dengan Bara, kakak dari pemuda yang dulu ia benci.
"Aku tidak pernah sempat berterima kasih padanya," kata Rangga pelan, hanya pada dirinya sendiri.
"Dia tahu," kata Laras, mendengar. "Pilot tahu bahasa pengorbanan tanpa perlu kata."
Sang jenderal mengangkat tangan. "Dan ada satu nama lagi. Nama yang tidak ada dalam sembilan ini, tapi tanpanya tak satu pun dari kita berdiri di sini." Ia menatap Rangga. "Bara Pradipta. Sang Penjaga Timur. Yang gugur di Tanjung jauh sebelum malam terakhir—dan yang warisannya, kudengar, menjadi tulang punggung mesin yang menyelamatkan dunia."
Mata semua orang beralih ke Rangga. Ia merasa tenggorokannya tercekat. Ia ingat suara kakaknya lewat radio, beberapa minggu yang terasa seperti lima belas tahun lalu. *Maaf, aku tidak bisa pulang untuk makan malam.* Ia ingat bagaimana, di kegelapan Palung saat ia hampir kalah, sesuatu dari Bara—bukan hantu, hanya data dan tekad yang tertanam di inti Rajawala bertahun lalu—bangkit dan berbisik bahwa Rangga tidak sendiri.
Rangga melangkah maju, satu langkah pincang, lalu berbicara. Suaranya tak besar, tapi halaman itu sunyi cukup untuk mendengarnya.
"Kakakku bilang satu hal yang selalu kuingat," kata Rangga. "Yang melindungi, tidak boleh lari. Aku dulu membencinya karena itu. Karena kata-kata itu yang membuatnya tidak pulang." Ia menelan ludah. "Tapi sekarang aku mengerti. Melindungi bukan tentang mati. Melindungi tentang berdiri di antara yang kau sayang dan hal yang ingin menghancurkan mereka—selama mungkin. Dan kalau bisa, untuk hidup, agar besoknya kau bisa berdiri di sana lagi."
Ia menatap deretan obor.
"Mereka berdiri di sana selama yang mereka bisa. Sekarang giliran kita berdiri untuk mereka."
Tak ada tepuk tangan. Hanya hening yang panjang dan penuh hormat, lalu satu per satu orang menundukkan kepala. Bu Inten, yang berdiri di antara para pengungsi, menangis tanpa suara. Pak Surya, tua dan bungkuk tapi tetap tegak, menatap Rangga dengan mata yang bersinar—bukan kesedihan saja, tapi sesuatu yang lebih sulit ditahan: kebanggaan.
Malam itu, sembilan obor dibiarkan menyala sampai padam sendiri. Tak seorang pun memadamkannya. Mereka membiarkan api itu pergi dengan caranya sendiri, seperti para penjaga yang ia kenang.