Ada hal yang lebih sulit dibunuh daripada Leviathan, dan itu adalah kebohongan yang sudah lima belas tahun dipercaya.
Rangga duduk di ruang dewan Pusat, kakinya sudah cukup kuat untuk berdiri tanpa tongkat. Di hadapannya, sang jenderal tua, Laras, Adit, dan empat perwira tinggi yang tersisa mengelilingi meja logam panjang. Di tengah meja tergeletak setumpuk arsip—dokumen rahasia yang dulu ia dan Laras temukan di arsip terlarang Pusat. Dokumen yang mengungkap dosa pemerintah lama.
"Mereka berhak tahu," kata Rangga.
Salah satu perwira, seorang pria berwajah keras, mengetuk meja. "Yang kau usulkan bisa menghancurkan kepercayaan publik. Kita baru saja selamat dari kepunahan. Kalau orang tahu bahwa Leviathan adalah—" ia menelan kata itu seolah pahit "—buatan kita sendiri, kekacauan akan—"
"Kekacauan apa?" potong Rangga. Suaranya tenang, tapi ada baja di dalamnya yang membuat ruangan diam. "Kita sudah kehilangan separuh dunia. Kita sudah kehilangan tujuh pilot terbaik. Apa yang lebih kacau dari itu?"
"Pemuda ini benar," kata Laras. "Eksperimen pemerintah lama membuka Palung Tengah. Mereka mencoba mengendalikan sesuatu yang tak mereka pahami, dan ketika lepas, mereka menyebutnya 'makhluk laut' agar tak ada yang menyalahkan mereka. Lima belas tahun kita berperang melawan hantu dari kesalahan kita sendiri." Ia menatap satu per satu perwira. "Kalau kita menyembunyikan ini lagi, kita tidak lebih baik dari mereka yang membuka Palung."
Sang jenderal tua, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. Suaranya berat dengan beban tahun-tahun. "Aku masih kadet saat Palung dibuka. Aku tahu sebagian dari kebenaran ini sejak dulu, dan aku diam. Itu beban yang kubawa setiap malam." Ia menatap arsip di meja. "Aku tak ingin generasi setelah kita membawa kebohongan yang sama."
Rangga menatap jenderal itu. "Lalu?"
"Lalu kita ungkap." Jenderal itu menarik napas dalam. "Semuanya. Asal Leviathan. Eksperimen. Palung. Dan Rajawala—mesin yang dirancang sebagai penangkalnya, yang seharusnya menjadi penebusan kesalahan itu sejak awal."
Perwira berwajah keras itu hendak protes, tapi berhenti saat melihat tak ada satu pun di ruangan yang mendukungnya.
Tiga hari kemudian, kebenaran disiarkan ke seluruh benteng yang tersisa—lewat radio yang sama yang dulu menyiarkan Kode Hitam. Rangga tak ikut bicara di siaran itu; ia merasa itu bukan tempatnya. Tapi ia mendengarkan dari ruang teknisi bersama Adit, memandang gelombang suara berdenyut di layar saat sang jenderal tua mengaku, atas nama Pusat dan pemerintah lama yang sudah tiada, atas semua yang terjadi.
"Kau pikir mereka akan marah?" tanya Adit pelan.
"Mungkin," kata Rangga. "Marah itu hak mereka."
Tapi yang datang dari benteng-benteng lain bukan kemarahan. Atau bukan hanya itu. Lewat radio, satu per satu benteng yang selama bertahun terisolasi—saling curiga, saling menimbun sumber daya, saling membiarkan mati—mulai menjawab. Suara-suara dari pesisir selatan, dari pedalaman utara, dari pos-pos yang Rangga bahkan tak tahu masih ada. Mereka berbicara. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, mereka berbicara bukan untuk meminta atau menuduh, tapi untuk mendengarkan.
"Mereka mengusulkan pertemuan," kata Adit, membaca pesan yang masuk, matanya melebar. "Lihat ini, Rangga—tiga benteng selatan mau mengirim utusan. Mereka ingin membangun jalur bantuan bersama. Mereka ingin... bekerja sama."
Rangga menatap layar yang penuh dengan suara-suara baru itu, dan sesuatu yang sudah lama beku dalam dadanya mulai mencair.
"Itulah yang dilindungi Bara," katanya pelan. "Bukan cuma dua ratus orang di Tanjung. Bukan cuma dinding. Ini. Kemungkinan untuk mulai lagi."
Di luar, untuk pertama kalinya, bendera-bendera benteng yang berbeda diangkat berdampingan di atas dinding Pusat. Bukan karena perang. Tapi karena, akhirnya, tak ada lagi musuh selain masa lalu yang harus mereka tebus bersama.