Lampu gantung di ruang tengah bergoyang pelan saat Kirana menuruni tangga dengan langkah lebar. Rambutnya sedikit berantakan karena hampir saja terlelap, menambah kesan garang pada wajahnya yang biasanya nampak lesu.
Di bawah, suasana sudah panas. Sonia berdiri dengan napas memburu, sementara Stela sibuk mengipasi ibunya dengan wajah yang dibuat-buat prihatin. Di sudut ruangan, Sari pelayan yang tadi diusir itu masih sesenggukan, tampak sengaja membasahi wajahnya agar terlihat lebih menderita.
"Kirana... Kirana... Dasar... Wanita tidak punya sopan santun, menantu kurang ajar..." Teriak Sonia, begitu melihat menantunya turun.
"Apa kalian tidak punya sopan santun, berteriak-teriak di rumah orang lain malam-malam begini?" bentak Kirana tanpa basa-basi. Suaranya menggelegar, memotong keributan itu seketika.
Sonia tersentak, ia menoleh dengan mata membelalak. "Kamu... kamu berani membentak saya, Kirana?"
Kirana tidak berhenti di anak tangga terakhir. Ia terus berjalan mendekat, menyilangkan tangan di depan d**a sambil menatap Sonia dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Lah, berani. Memangnya kenapa? Cuma lawan neneknya Squidward saja masa saya harus pakai ritual sungkem dulu?"
"Apa kamu bilang?" Pekik Sonia, wajahnya memerah padam. "Nenek... apa?"
"Nyonya... lihat sendiri, kan?" Sari menyela sambil terisak, mencoba mencari panggung. "Tadi Nyonya Kirana menampar saya, menyiramkan sayur ke muka saya sampai saya tersedak, lalu dia memecat saya secara sepihak. Padahal saya hanya ingin menjalankan tugas dari Nyonya Besar."
Kirana melirik Sari dengan sudut mata yang dingin. "Ouh, jadi kamu lari ke sini untuk mengadu? Cepat juga ya, saya pikir kamu sibuk mencuci mulut kamu yang penuh kotoran tadi."
"Kirana, kamu benar-benar kurang ajar!" Sonia maju selangkah, menunjuk wajah Kirana dengan jari yang gemetar. "Sari ini saya tugaskan khusus untuk mengawasi kamu karena kamu tidak becus mengurus rumah! Kamu tidak punya hak untuk memecat orang yang saya bawa!"
Sebelum Kirana sempat menjawab, Stela ikut menimpali dengan suara yang melengking manja. "Mbak... Mbak. Harusnya Mbak malu. Mbak ini cuma istri yang nggak dianggap, nggak dicintai sama Mas Adnan. Harusnya Mbak sadar diri, posisi Mbak di sini itu nggak lebih berharga dari pajangan di pojok ruangan."
Kirana menoleh ke arah Stela, lalu tertawa hambar. "Mau dicintai atau enggak, apa urusannya sama kamu? Hah? Kamu kenapa repot-repot mengurusi ranjang orang lain? Kamu mau daftar jadi jin Dasim yang suka merusak rumah tangga orang?"
Stela terkesiap, wajahnya yang penuh riasan itu tampak memerah karena malu. "Ma... lihat dia! Dia menghina aku, padahal aku cuma bicara kenyataan!"
"Kirana!" Sonia sudah tidak tahan lagi. Tangannya melayang di udara, hendak melayangkan tamparan keras ke pipi menantunya itu. "Dasar wanita tidak tahu diuntung!"
SRET!
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Kirana menangkap pergelangan tangan Sonia tepat sebelum menyentuh kulitnya.
Cengkeramannya begitu kuat hingga Sonia memekik kaget. Dengan satu sentakan kasar, Kirana menghempaskan tangan itu hingga Sonia kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas sofa dengan posisi yang tidak elegan.
"Mama!" jerit Stela histeris.
Para pelayan lain yang berdiri di dekat dapur tampak panik. Beberapa dari mereka sudah bergerak hendak membantu Sonia berdiri, namun langkah mereka terhenti saat Kirana memberikan peringatan yang mematikan.
"Jangan ada yang bergerak," suara Kirana merendah, tapi penuh penekanan. Ia menatap tajam ke arah barisan pelayan itu. "Kalau ada yang berani membantu nenek Squidward itu bangun, hari ini juga kalian saya pecat tanpa pesangon. Silakan pilih, mau setia pada orang asing atau mau tetap punya pekerjaan besok pagi?"
Seketika, ruangan itu menjadi senyap. Para pelayan tertunduk, tidak ada satu pun yang berani melangkah maju. Sonia yang terduduk di sofa hanya bisa melongo, menatap menantunya yang kini berdiri tegak seperti penguasa di rumahnya sendiri.
Adnan yang sejak tadi memperhatikan sama, sekali tidak berbuat untuk turun. Ia ingin melihat sampai, mana keberanian istrinya yang dulu selalu menurut dan patuh pada adik tirinya itu.
Sonia yang terjerembap ke sofa dengan napas yang memburu karena amarah dan rasa malu. Matanya melotot, menatap tidak percaya pada menantunya yang biasanya hanya bisa menunduk ketakutan. Stela di sampingnya pun membeku, tangannya yang hendak membantu sang ibu tertahan di udara setelah mendengar ancaman pemecatan dari Kirana.
Para pelayan yang biasanya berani berbisik-bisik di belakang Kirana, kini hanya bisa saling pandang dengan wajah pucat, terpaku di posisi masing-masing.
"Kenapa diam?" Kirana mengangkat dagunya, menatap para pelayan itu satu per satu dengan tatapan meremehkan. "Tadi kalian semangat sekali kan menonton drama ini? Sekarang silakan lanjut menonton, tapi jangan ada yang lancang mengulurkan tangan."
"Kirana! Kamu benar-benar sudah gila!" teriak Sonia setelah berhasil menguasai diri, meski ia masih terduduk lemas. "Adnan! Adnan, lihat istrimu ini! Dia sudah berani main fisik pada ibumu sendiri!"
Adnan, melangkah turun sepatunya yang beradu dengan anak tangga kayu terdengar seperti detak jam yang menegangkan. Haidar mengekor di belakangnya dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca,setengah ngeri, setengah kagum dengan keberanian Nyonya Mudanya itu.
Begitu sampai di lantai bawah, Adnan tidak langsung menghampiri ibunya. Ia berhenti di samping Kirana, menatap wanita itu yang bahkan tidak meliriknya sama sekali.
"Ibumu jatuh, tuh. Tidak mau dibantu?" tanya Kirana santai, suaranya terdengar seperti sedang menunjukkan benda tidak berguna.
"Adnan, pecat semua pelayan ini kalau mereka tidak mau membantu Mama!" rengek Sonia sambil menunjuk-nunjuk Kirana. "Dan wanita ini... kamu harus beri dia pelajaran! Dia sudah menghina Stela dan mencelakai Mama!"
Stela ikut berdiri, mencoba mencari perlindungan di belakang Adnan. "Iya Mas, Mbak Kirana bilang aku Jin Dasim. Padahal aku cuma mau mengingatkan dia soal posisinya sebagai istri yang tidak diinginkan. Kok dia malah sekasar itu?"
Adnan melirik Stela sekilas, lalu beralih ke arah Sari yang masih terisak di pojok ruangan. Terakhir, matanya kembali tertuju pada Kirana.
"Kamu bilang mereka tidak boleh membantunya?" tanya Adnan dengan suara baritonnya yang rendah.
Kirana mengedikkan bahu. "Rumah ini butuh dibersihkan, Adnan. Bukan cuma bersih dari debu, tapi bersih dari parasit yang tidak tahu diri. Kalau mereka lebih patuh pada orang yang bahkan tidak membayar gaji mereka, buat apa tetap di sini? Mending aku pecata aja,nggak guna juga."
"Kurang ajar!" Sonia akhirnya berhasil berdiri sendiri dengan susah payah, wajahnya merah padam. "Adnan, kenapa kamu diam saja? Dia baru saja mengusir Sari, pelayan kesayangan Mama!"
"Sari memberikan Istri saya rumput untuk makan malam, Ma," potong Adnan tiba-tiba. Suaranya tenang, namun sanggup membungkam teriakan Sonia.
Sonia tertegun. "Apa?"
"Tadi saya di sana. Saya melihat sendiri apa yang ada di piring itu," lanjut Adnan sambil menatap Sari yang seketika berhenti menangis dan mulai gemetar hebat. "Dan Kirana benar. Di rumah ini, hanya ada satu Nyonya Besar. Dan itu adalah istri saya."
Kirana sedikit terkejut mendengar pembelaan itu, namun ia dengan cepat menyembunyikan ekspresinya di balik wajah datar. Ia melipat tangan di d**a, lalu menoleh ke arah mertuanya.
"Nah, sudah dengar kan?" Kirana melangkah maju, membuat Sonia dan Stela refleks mundur selangkah. "Jadi, Nenek Squidward dan calon Jin Dasim, mending kalian pulang sekarang sebelum saya kehilangan kesabaran dan mulai menyeret kalian keluar lewat pintu belakang."
"Mbak, kamu benar-benar-"
"Satu kata lagi keluar dari mulut kamu, Stela, saya pastikan lipstik mahal kamu itu akan berantakan kena tamparan saya," ancam Kirana dengan nada bicara yang sangat tenang namun mematikan.
Stela langsung bungkam, menutup mulutnya dengan tangan. Ia menatap kakaknya, berharap ada pembelaan lagi, namun Adnan justru membuang muka, seolah-olah pertengkaran di depannya bukanlah urusannya.
"Haidar," panggil Adnan.
"Iya, Tuan?" Haidar maju dengan sigap.
"Antar ibu dan adikku pulang. Pastikan mereka sampai dengan selamat," perintah Adnan. Matanya kemudian melirik ke arah para pelayan yang masih mematung. "Dan kalian, kembali bekerja. Jika saya dengar ada yang tidak patuh pada kata-kata istri saya lagi... kalian tahu sendiri akibatnya."
Kirana tersenyum miring. Ia menatap punggung Sonia dan Stela yang mulai menjauh dengan gerutu kesal yang tertahan. Begitu ruang tengah kembali sepi, Kirana berbalik hendak naik ke atas, namun langkahnya tertahan saat Adnan mencekal pergelangan tangannya.
"Apa lagi?" tanya Kirana ketus.
Adnan menatapnya dalam-dalam, seolah sedang mencari sosok Kirana yang lama di dalam mata yang kini tampak begitu berani itu. "Sejak kapan kamu bisa bicara sepedas itu?"
Kirana menyentakkan tangannya hingga terlepas. "Sejak aku sadar kalau tersenyum seperti orang bodoh tidak akan membuat orang-orang sepertimu menghargaiku."