Langkah Kirana terhenti di tengah lorong saat menyadari Adnan masih membuntutinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di tangannya, dekapan bantal dan selimut itu terasa berat, namun tidak seberat rasa muaknya melihat wajah pria di depannya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Adnan, suaranya terdengar menuntut meski nadanya tetap datar. Matanya tertuju pada tumpukan selimut di pelukan Kirana.
Kirana menghentikan langkah, memutar tubuhnya dengan malas. "Aku mau tidur di kamar tamu. Bukannya kamu sendiri yang selalu bilang alergi setiap kali melihatku atau berada di dekatku?" ucap Kirana ketus, matanya menatap lurus ke manik mata Adnan tanpa ada sisa-sisa rasa minder seperti dulu.
Di balik pilar tak jauh dari sana, Haidar yang seharusnya sudah pergi justru masih berdiri mematung. Tanpa sadar, ia memberikan jempol secara sembunyi-sembunyi ke arah Kirana. "Nyonya memang the best," bisik Haidar tanpa suara, namun wajahnya penuh kekaguman.
Kirana yang melihat itu spontan menyunggingkan senyum kemenangan yang tipis namun sangat provokatif ke arah sang asisten. Adnan yang menyadari perubahan ekspresi istrinya langsung menoleh ke belakang dengan tajam.
"Haidar! Untuk apa kamu masih di sini? Sana pergi!" gertak Adnan, membuat Haidar nyaris melompat dari tempatnya. "Bukannya saya suruh kamu antar Mama dan Stela?"
"Ah... i-itu, maaf Tuan, saya lupa! Tadi saya cuma suruh sopir yang antar. Saya permisi dulu! Selamat malam!" pamit Haidar terburu-buru sambil lari tunggang langgang, takut menjadi sasaran amarah bosnya.
Kirana mendengus, kembali berbalik untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar tamu. Namun, baru dua langkah, sebuah tangan kekar mencekal lengannya dengan kuat.
"Kembali ke kamar," perintah Adnan. Suaranya rendah, menunjukkan otoritas yang tidak ingin dibantah.
Jika ini adalah Kirana yang lama, jantungnya pasti sudah berdegup kencang karena senang bisa tidur satu kamar dengan suaminya. Tapi Kirana yang sekarang? Melihat helai rambut Adnan saja sudah membuatnya merasa mual.
"Enggak. Malas," jawab Kirana singkat sambil berusaha melepaskan cekalan itu.
"Masuk, Kirana!" Adnan mempererat pegangannya, badannya bergerak menghalangi jalan Kirana.
"Enggak mau! Lepas!"
"Aku bilang masuk!" Adnan mulai geram, wajahnya mendekat, mencoba menekan Kirana dengan intimidasi fisiknya.
"Enggak! Telinga kamu budek, ya?" balas Kirana tak kalah sengit.
Haidar, yang ternyata tidak benar-benar pergi dan malah bersembunyi di balik partisi bersama beberapa pelayan pria lainnya, menahan napas. Mereka mengintip dengan mata membulat. Dari sudut pandang mereka, perdebatan itu terdengar sangat ambigu, apalagi dengan suara napas yang memburu dari keduanya.
"Masuk Kirana!" geram Adnan sekali lagi, kali ini dengan nada yang benar-benar habis kesabaran.
"Enggak!"
BUKK!
Tanpa peringatan, kaki Kirana melesat dengan presisi yang mematikan. Sebuah tendangan telak mendarat tepat di area s**********n Adnan.
"Ugh-!"
Adnan seketika membeku. Matanya terbelalak, wajahnya berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Ia melepaskan cekalannya dan spontan membungkuk, memegangi area bawahnya dengan tangan gemetar. Suaranya hilang di tenggorokan, hanya erangan tertahan yang keluar dari bibirnya yang membiru.
Di tempat persembunyian, Haidar dan para pelayan pria lainnya secara refleks ikut menutup mata dan memegangi area yang sama. Mereka meringis ngeri, seolah bisa merasakan ngilu yang luar biasa itu menembus tulang mereka sendiri.
"The best..." bisik Haidar lagi, kali ini dengan nada ngeri yang amat sangat.
Kirana merapikan kembali dekapan bantalnya, menatap Adnan yang masih meringis kesakitan di lantai dengan tatapan dingin. "Sudah kubilang, aku malas. Selamat malam, suamiku tersayang."
Begitu sosok istrinya menghilang, barulah Adnan membiarkan pertahanannya runtuh.
"Aaakhh!" Adnan berteriak kencang, suaranya bergema di seluruh langit-langit rumah yang tinggi. Ia masih membungkuk, wajahnya memerah padam hingga ke telinga, menahan rasa nyeri yang berdenyut hebat.
"Sialan... wanita itu benar-benar..." Adnan menggerutu dengan kata-kata yang tidak jelas. Napasnya tersengal-sengal. "Awas kau, Kirana! Berani-beraninya kau..."
Adnan mencoba menegakkan tubuhnya sedikit demi sedikit, namun rasa ngilu itu kembali menyerang, membuatnya kembali meringis. Saat itulah, indra pendengarannya yang tajam menangkap suara bisik-bisik dan decit kecil dari balik pilar dekoratif di dekat ruang tengah.
Adnan menoleh pelan, matanya menyipit tajam. Di sana, ia melihat Haidar yang sedang menutup mulut dengan kedua tangan, sementara di belakangnya, tiga orang pelayan pria tampak berdesakan dengan wajah yang menahan tawa sekaligus ngeri.
"Haidar..." suara Adnan terdengar rendah dan bergetar, lebih mirip geraman binatang buas.
Haidar mematung. Pelan-pelan ia melongokkan kepalanya dari balik pilar, memberikan cengiran paling canggung yang pernah ada. "I-iya, Tuan? Anda... Anda butuh kompres es? Atau... ambulans?"
"Kalian..." Adnan mengatur napasnya yang memburu, matanya berkilat penuh emosi yang meledak. "KALIAN SEMUA SEDANG APA DI SITU?"
"Kami cuma... memantau situasi agar tetap kondusif, Tuan!" sahut Haidar spontan, sementara para pelayan di belakangnya mulai mundur perlahan.
"MEMANTAU?" Adnan berteriak, mengabaikan rasa sakitnya demi meluapkan harga dirinya yang baru saja diinjak-injak. "APA RUMAH INI SUDAH JADI BIOSKOP, HAH?! KENAPA KALIAN MASIH DI SINI?"
Para pelayan pria itu langsung pucat pasi. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka berbalik arah secepat kilat.
"Maaf Tuan! Kami permisi!"
"SAYA PECAT KALIAN KALAU BESOK PAGI MASIH MEMBAHAS KEJADIAN INI!" teriak Adnan lagi ke arah tangga.
Haidar yang paling terakhir lari, sempat menoleh sebentar dengan wajah memelas. "Tuan, saya sungguh tidak melihat apa-apa! Sumpah! Saya cuma lihat Nyonya menendang... eh, maksud saya, saya tidak lihat apa-apa!"
"PERGI, HAIDAR! SEKARANG!"
Haidar langsung lari tunggang langgang menuruni tangga, hampir saja terpeleset karena saking terburu-burunya. Suara langkah kaki mereka yang gaduh terdengar menjauh ke arah paviliun belakang.
Kini, koridor itu benar-benar sepi. Adnan menyandarkan punggungnya ke dinding, menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena emosi. Ia menoleh ke arah pintu kamar tamu yang tertutup rapat.
"Gila. Dia benar-benar sudah gila," gumam Adnan pada dirinya sendiri. Tangannya mengepal kuat. "Bukan hanya tidak penakut lagi... dia sudah jadi monster."
_________________
Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela besar ruang makan, menyinari Kirana yang duduk dengan punggung tegak. Rambutnya hanya diikat kuda dengan sederhana, dan wajahnya bersih tanpa riasan tebal yang biasanya ia gunakan untuk menarik perhatian Adnan. Meski begitu, aura yang terpancar darinya terasa jauh lebih mahal dan berkelas.
Para pelayan berlalu-lalang dengan langkah sangat hati-hati. Tidak ada lagi bisik-bisik meremehkan,mereka menyajikan kopi dan roti dengan kepala tertunduk, benar-benar menunjukkan rasa hormat kepada nyonya rumah.
Adnan melangkah masuk, suara sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar tegas. Ia menarik kursi di kepala meja, tepat di depan Kirana. Ia sempat melirik istrinya, menunggu reaksi atau setidaknya sapaan manis yang biasanya selalu menyambutnya.
Namun, Kirana tetap fokus memotong pancake di piringnya, seolah-olah Adnan hanyalah bayangan yang tidak berarti bagi seorang Kirana.
Adnan berdehem cukup keras, mencoba memecah keheningan yang menurutnya terasa begitu canggung.
"Ehem."
Kirana tidak menoleh. Ia menyesap tehnya dengan tenang, gerakannya lambat dan anggun.
Adnan merasa harga dirinya sedikit terusik. Ia pun mengeluarkan "senjata" yang biasanya selalu berhasil membuat Kirana histeris.
"Aku akan pergi untuk urusan bisnis lagi ke luar kota mulai sore ini," ucap Adnan sambil merapikan jam tangannya, matanya sesekali melirik Kirana lewat sudut mata. "Aku pergi bersama Greta."
Ia sengaja menekankan nama Greta,sekretaris cantiknya yang selalu membuat Kirana cemburu buta hingga menangis tersedu-sedu dan memohon agar Adnan tidak pergi. Adnan sudah bersiap untuk mendengar rengekan atau melihat mata yang mulai berkaca-kaca itu.
Namun, yang ia dapatkan justru di luar dugaan.
Kirana meletakkan garpunya perlahan, lalu menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain. Ia menatap Adnan dengan tatapan datar, hampir terlihat bosan.
"Tinggalkan uang yang cukup untukku di atas meja sebelum kau berangkat," ucap Kirana dengan nada bicara yang sangat santai, seolah sedang membahas hal tidak penting.
Adnan mengerutkan kening, mulutnya sedikit terbuka karena kaget. "Hanya itu?"
Kirana menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Adnan lurus-lurus. "Lalu kau mengharapkan apa? Aku menangis di kakimu dan memohon agar kau tidak pergi dengan wanita itu?"
Kirana terkekeh hambar, sebuah suara yang terdengar sangat asing bagi Adnan.
"Dengar ya, Adnan. Aku sama sekali tidak peduli kau pergi dengan siapapun. Mau dengan Greta, dengan sepuluh wanita lain, atau kau tidak pulang selamanya pun, aku tidak peduli," lanjut Kirana. "Urusanmu bukan urusanku. Yang jadi urusanku adalah memastikan kartu kreditku tidak ditolak saat aku berbelanja nanti siang. Paham?"
Adnan terpaku di kursinya. Rasa panas menjalar di dadanya, bukan karena cemburu, tapi karena perasaan aneh saat menyadari bahwa dirinya tidak lagi memiliki pengaruh apa pun pada wanita di depannya.
"Kau... kau benar-benar berubah, Kirana," desis Adnan, suaranya sedikit meninggi.
"Orang bodoh pun akan berubah kalau terus-menerus disakiti, Adnan," balas Kirana dingin. Ia berdiri, membawa ponselnya dan bersiap pergi. "Jangan lupa uangnya. Dan oh... sampaikan salamku pada Greta. Bilang padanya, seleramu sebenarnya agak menurun."
Kirana melenggang pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Adnan yang kini menggenggam sendoknya begitu kuat hingga jemarinya memutih.
Haidar, yang baru saja masuk untuk menjemput Adnan, hanya bisa berdiri mematung di pintu masuk. Ia menatap punggung Kirana dengan kagum, lalu menatap bosnya yang nampak sangat frustrasi.
"Tuan... mobil sudah siap," bisik Haidar ragu-ragu.
"Diam kamu, Haidar!" bentak Adnan, meski sebenarnya ia hanya sedang menutupi rasa sesak yang tiba-tiba muncul di hatinya.