Di dalam kabin mobil yang dingin, Adnan Setyo Darmawan, pria yang biasanya memiliki kontrol penuh atas setiap negosiasi di meja hijau Darmawan Group, kini tampak sangat terusik. Rahangnya mengeras, dan tatapannya terpaku pada jalanan di depan, namun pikirannya masih tertinggal di ruang makan tadi
Selama tiga tahun, ia telah memperlakukan Kirana seperti pajangan yang tidak diinginkan. Baginya, Kirana hanyalah beban dari wasiat almarhum Papanya,seorang wanita yang tidak memiliki harga diri karena terus memohon cinta pada pria yang jelas-jelas merasa jijik padanya. Ia ingat betul bagaimana dulu Kirana akan memakai parfum yang terlalu menyengat atau pakaian yang menurutnya norak hanya untuk menggodanya, yang selalu berakhir dengan ia mengusir wanita itu dari kamarnya.
Bahkan saat kecelakaan tragis itu terjadi beberapa bulan lalu dan membuat Kirana koma, Adnan tidak pernah sekali pun meluangkan waktu untuk menunggu di rumah sakit. Baginya, itu hanyalah jeda dari gangguan suara Kirana yang cempreng.
Haidar, yang sedang menyetir, sesekali melirik melalui kaca spion tengah. Ia melihat bosnya itu sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Sebagai orang yang paling lama mendampingi Adnan, Haidar tahu bahwa ego pria itu baru saja dihantam telak.
"Tuan..." panggil Haidar hati-hati, memecah keheningan yang berat.
Adnan hanya bergumam tanpa minat.
"Nyonya... benar-benar galak ya sekarang. Saya sampai merinding melihat tatapannya tadi," lanjut Haidar, mencoba mencairkan suasana.
"Diam kau, Haidar. Fokus saja pada jalanan,jangan membuat aku celaka karena kau ceroboh," sahut Adnan dingin.
Namun, Haidar sepertinya belum puas. Ia justru semakin berani menyuarakan apa yang ia lihat. "Tapi serius, Tuan. Nyonya yang dulu dan yang sekarang itu sangat berbeda. Dulu Nyonya itu bucin akut sama Anda. Apa pun yang Anda lakukan, dia pasti memuja Anda."
Haidar menjeda kalimatnya, lalu menambahkan dengan nada sedikit mengejek, "Sekarang? Jangankan memuja, sepertinya melihat wajah Anda saja sudah membuat Nyonya merasa mual. Seperti melihat tumpukan sampah di pinggir jalan."
SRET!
Adnan langsung menoleh ke depan, matanya berkilat marah melalui pantulan kaca dasbor. "Haidar, gajimu aku potong!"
Haidar langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Ia melakukan gerakan mengunci bibir dengan tangan lalu membuang 'kuncinya' ke luar jendela mobil secara imajiner. Ia segera kembali fokus menyetir, meski dalam hati ia tertawa kecil melihat atasannya yang arogan itu mulai goyah.
Adnan kembali bersandar ke kursi belakang. Ia mencoba memejamkan mata, namun kata-kata Kirana tadi kembali terngiang.
"Atau kau tidak pulang selamanya pun, aku tidak peduli."
Dulu, Kirana akan menangis jika ia telat pulang lima menit saja untuk makan malam. Sekarang, wanita itu justru terang-terangan memintanya tidak perlu pulang. Ada bagian dari ego Adnan yang merasa terluka. Ia tidak suka saat sesuatu yang miliknya tiba-tiba lepas dari kendalinya, sekalipun itu adalah barang yang ia benci.
"Greta sudah menunggu di bandara?" tanya Adnan tiba-tiba, suaranya kembali datar namun ada nada gelisah yang ia sembunyikan.
"Sudah, Tuan. Dia sudah mengonfirmasi jadwal penerbangan sore ini," jawab Haidar singkat tanpa berani menoleh.
"Bagus," gumam Adnan. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa perjalanannya dengan Greta akan menyenangkan.
Greta sudah berdiri di dekat pintu masuk keberangkatan Bandara dengan gaya yang selalu sempurna,setelan blaser mewah dan senyum manis yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati Adnan. Begitu melihat mobil hitam Adnan berhenti, ia langsung melangkah mendekat.
"Adnan, kau tepat waktu seperti biasa," sapa Greta lembut. Ia hampir saja menyentuh lengan Adnan dengan akrab, namun Adnan secara halus menggeser posisinya, menjaga jarak dari gadis yang dulu bisa meluluhkan hatinya.
Haidar yang sedang menurunkan koper dari bagasi hanya bisa mencibir dalam hati. Ia tahu betul sejarah mereka. Greta adalah mantan kekasih Adnan yang sempat digadang-gadang akan menjadi nyonya Darmawan, sebelum akhirnya almarhum Papa Adnan menjatuhkan pilihan pada Kirana. Meskipun Adnan bersikap dingin pada istrinya, pria itu memiliki prinsip yang aneh: setelah menikah, ia memutuskan hubungan asmaranya dengan Greta dan hanya menjadikannya sekretaris pribadinya.
"Semua dokumen sudah siap?" tanya Adnan tanpa basa-basi, suaranya datar seolah-olah Greta hanyalah karyawan biasa.
Greta sedikit merengut, kecewa karena sambutan hangatnya dibalas dengan sikap sedingin es. "Sudah, Tuan Adnan. Jadwal rapat, akomodasi, dan berkas kerja sama semuanya ada di sini," jawabnya sambil menepuk tas kerjanya. "Tapi, bisakah kita bicara santai sedikit? Kita akan berada di pesawat selama beberapa jam, Adnan."
Adnan tidak menjawab. Ia mulai melangkah masuk ke dalam bandara diikuti oleh Haidar yang membawa koper.
"Tuan," panggil Haidar pelan saat mereka sedikit menjauh dari jangkauan pendengaran Greta. "Anda yakin tidak mau memberi kabar pada Nyonya Kirana kalau kita sudah sampai di bandara? Biasanya kan... Nyonya selalu menelepon sampai seratus kali kalau Anda mau pergi."
Adnan menghentikan langkahnya sebentar. Ia secara refleks memeriksa ponselnya. Layarnya bersih. Tidak ada satu pun pesan singkat, tidak ada panggilan tak terjawab, apalagi drama tangisan di telepon.
"Dia tidak menelepon," gumam Adnan, lebih kepada dirinya sendiri.
"Mungkin Nyonya sedang sibuk menghabiskan uang yang Tuan tinggalkan tadi pagi," sahut Haidar dengan nada polos yang menyebalkan. "Tadi saya lihat Nyonya memesan salon panggilan ke rumah sebelum kita berangkat. Sepertinya beliau benar-benar ingin menikmati hidup tanpa Anda."
Rahang Adnan mengeras. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku dengan kasar.
"Bagus kalau begitu. Setidaknya telingaku tidak akan sakit mendengar suaranya yang cempreng itu," ketus Adnan.
Namun, sepanjang jalan menuju boarding gate, fokus Adnan berantakan. Saat Greta mencoba mengajaknya mengobrol tentang masa lalu mereka di lounge eksekutif, pikiran Adnan justru melayang ke rumah. Ia membayangkan Kirana yang sedang bersantai, tertawa bersama para pelayan, atau mungkin sedang berbelanja barang-barang mewah tanpa memikirkannya sama sekali.
"Adnan? Kau mendengarku tidak?" tanya Greta, sedikit kesal karena diabaikan.
"Ya, aku dengar. Fokus saja pada presentasi untuk rapat besok, Greta," sahut Adnan dingin.
____________
Kirana sedang bersandar nyaman di kursi malas ruang tengah, kedua matanya tertutup irisan timun segar sementara seorang penata rambut profesional sedang sibuk memberikan perawatan hair spa. Wangi aromaterapi memenuhi ruangan, menciptakan suasana tenang yang selama tiga tahun ini tidak pernah ia rasakan.
Namun, ketenangan itu pecah saat suara langkah kaki yang terburu-buru dan pekikan nyaring terdengar dari arah pintu depan.
"Heh! Kurang ajar sekali kamu ya, Kirana!"
Kirana tidak terkejut. Ia sudah menebak siapa yang akan datang mencari ribut begitu Adnan tidak ada di rumah. Dengan gerakan lambat, ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar penata rambutnya berhenti sejenak. Ia melepas irisan timun dari matanya dan menoleh.
Di sana berdiri Sonia dengan wajah yang masih tampak bengkak karena amarah, diapit oleh Stela yang matanya berkilat penuh dendam, dan tentu saja Sari si pelayan bermuka dua yang berdiri dengan dagu terangkat seolah punya pelindung kuat.
"Ouh, Nenek Squidward datang lagi? Tidak bosan ya?" tanya Kirana dengan nada malas, suaranya sangat tenang.
"Jaga mulut kamu!" bentak Sonia. Ia melirik ke sekeliling, memastikan Adnan benar-benar tidak ada. Senyum sinis perlahan terukir di bibirnya. "Adnan sudah pergi, dan sekarang tidak ada yang akan membelamu. Sari, Stela! Pegang dia! Saya mau memberi dia pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya!"
Stela tersenyum licik, ia sudah gatal ingin menjambak rambut Kirana. "Ayo Sari, kita buat wajah sok cantiknya ini jadi berantakan."
Sari dan Stela merangsek maju, mencoba menyergap Kirana dari kedua sisi. Namun, Kirana tidak berteriak ataupun lari. Ia justru berdiri dengan anggun, membiarkan mereka mendekat.
Begitu tangan Stela hendak menyambar rambutnya, Kirana dengan sigap menangkap pergelangan tangan adik tirinya itu, memutarnya dengan teknik yang sangat cepat hingga terdengar suara krek yang membuat Stela memekik.
"Aaakh! Tanganku!" jerit Stela.
Sari yang mencoba menerjang dari belakang justru bernasib lebih sial. Kirana menekuk sikutnya, menghantam ulu hati Sari hingga pelayan itu tersedak dan jatuh berlutut. Belum sempat Sari pulih, Kirana menjambak rambut Stela yang sudah disanggul rapi itu dengan satu tangan, dan tangan lainnya menarik kerah baju Sari.
DUK!
Kirana membenturkan kepala kedua wanita itu dengan cukup keras.
"Aaakkkhh! Mamaaa! Tolong!" jerit Stela histeris. Rambutnya yang tadi tertata cantik kini sudah berantakan seperti sarang burung, beberapa helai bahkan rontok karena tarikan tangan Kirana yang sangat kuat.
Sonia yang melihat itu mematung, wajahnya pucat pasi. "Kalian! Pelayan! Kenapa diam saja?! Bantu mereka! Tangkap Kirana!" teriak Sonia ke arah dapur dan taman.
Namun, tidak ada satu pun pelayan rumah yang bergerak. Mereka tetap melakukan pekerjaan mereka seperti biasa,ada yang mengelap meja, ada yang menyiram bunga di kejauhan. Mereka semua kompak memakai 'kacamata kuda' dan 'telinga tuli', persis seperti instruksi Kirana semalam.
"Tolong? Siapa yang mau menolongmu?" Kirana menghempaskan Stela dan Sari ke lantai hingga mereka mengerang kesakitan. Ia berjalan mendekati Sonia yang kini mulai gemetar mundur.
"Tadi kamu bilang apa? Mau memberiku pelajaran?" Kirana mengusap kuku jarinya yang baru saja selesai dipanikur. "Seharusnya kamu sadar, Nyonya Sonia. Rumah ini adalah wilayahku. Kamu hanya tamu yang tidak diundang, dan tamu yang tidak sopan..."
Kirana mendekatkan wajahnya, menatap tajam ke dalam mata mertuanya. "Pantasnya diseret keluar seperti sampah."
"Mama... rambutku... hancur, Ma..." tangis Stela sambil memegangi kepalanya yang acak-acakan
"Sakit, Nyonya Besar... d**a saya sesak..." rintih Sari di lantai.
Kirana melirik mereka dengan jijik. "Masih mau lanjut? Atau mau saya buat rambut Stela jadi botak sekalian agar mirip dengan otaknya yang kosong?"
Sonia tidak bisa berkata-kata. Ia melihat para pelayannya sendiri mengabaikan teriakannya seolah ia adalah hantu. Keberaniannya menguap seketika.
"K-kamu... Adnan akan tahu soal ini! Saya akan laporkan kamu!" ancam Sonia dengan suara bergetar sebelum akhirnya ia menarik Stela yang masih menangis untuk segera pergi.
"Laporkan saja," sahut Kirana sambil kembali duduk di kursi malasnya. "Bilang pada Adnan, istrinya baru saja menghajar mertua adik iparnya."
Begitu mereka lari tunggang langgang keluar dari pintu, Kirana kembali menutup matanya dengan irisan timun baru. "Mba, tolong lanjutkan pijatannya. Bahuku terasa sedikit tegang karena tadi ada lalat pengganggu yang lewat."