"Segera berikan perintah kepada anak buahmu agar segera melaksanakan semua perintah yang sudah saya berikan tadi lewat pesan!" seru seseorang di balik teleponnya dengan suara khas laki-laki dewasa.
Orang yang menerima panggilan itu segera memberikan aba-aba pada bawahannya. Aksi yang cukup beresiko itu harus segera dilakukan, karena ini adalah satu-satunya kesempatan yang paling kecil resikonya.
***
"Sial kenapa rem mobilnya tak bisa berfungsi?!" Angkara setengah berteriak karena merasa ada yang tak beres dengan mobilnya.
Angkara membuat panggilan telepon. Sembari mencoba untuk tetap tenang dan terus mengemudikan mobil.
"Halo, Saga tolong kamu segera datang ke jalan X dan cari mobil saya. Sebisa mungkin saya akan mengendalikan mobil ini, remnya blong. Dan pasti ini bukan tanpa sengaja, pasti ada orang di balik ini semua. Dan ingat pesan saya ini baik-baik, jika nanti kamu menemukan saya sudah tak bernyawa … tolong kamu pastikan dan cari tau ini semua ulah siapa, dan satu lagi. Tolong jaga istri dan anak saya dengan baik, saya percayakan mereka dan perusahaan pada kamu," ucap Angkara.
"Sial!" pekik Angkara diiringi sebuah suara benturan keras.
Belum sempat Saga menjawab semua perintah yang tuannya utarakan, ia sudah mendengar sebuah teriakan dan suara benturan keras yang sudah pasti berasal dari mobil tuannya yang menabrak sesuatu.
Saga segera menyambar kunci mobilnya dan segera bergegas pergi ke tempat yang tuannya tadi katakan.
Setelah berputar di sekitar tempat itu, Saga terbelalak ketika netranya menangkap sebuah mobil yang tak asing baginya dalam keadaan mobil bagian depan remuk akibat menabrak truk yang ada di depannya.
Saga segera turun dari mobilnya dan memeriksa tempat itu. Menemukan tuannya yang sudah bersimbah darah dan jantungnya pun sudah tak berdetak, sudah dapat dipastikan jika tuannya telah tiada.
Ia mengepalkan tangannya dan berteriak keras. Saga merasa gagal karena tak bisa menjaga tuannya dengan baik. Lalu bagaimana caranya ia menyampaikan berita ini pada nyonya dan tuan mudanya.
Saga melihat ada kejanggalan dalam kecelakaan ini. Jika memang ini bukan kecelakaan yang sudah direncanakan, harusnya ia dapat menemukan sopir truk yang tuannya tabrak. Tapi ini lain, dalam truk itu kosong. Seperti memang ada orang yang sengaja ingin melenyapkan tuannya.
Saga melupakan sejenak tentang truk itu dan segala kejanggalan yang ia temukan. Saga menghubungi kantor polisi dan ambulance untuk mengevakuasi tempat itu.
***
Dengan berat hati Saga memberanikan diri menelpon tuan mudanya. Meskipun berat, namun mau tidak mau ia harus menyampaikan berita duka ini.
"Halo, Tuan muda, ada berita yang harus saya sampaikan. Tapi saya harap tuan muda bisa berbesar hati dan bisa menerima semua yang akan saya katakan ini," ucap Saga setelah panggilan itu tersambung.
"Ada apa? Katakan! Aku sedang tak berselera untuk berdebat denganmu, kamu berbicara seperti itu seakan-akan kamu ingin menyampaikan berita duka saja," jawab Naresh.
"Memang benar tuan, saya ingin mengabarkan jika tuan besar baru saja mengalami kecelakaan dan nyawanya tak dapat diselamatkan. Saya harap tuan bisa sabar dan tabah. Sekarang saya ada di rumah sakit X, tuan bisa datang kemari jika tuan sudah siap. Tolong beritahu juga pada nyonya, saya tidak sanggup untuk mengatakannya pada nyonya," ucap Saga pelan.
Saga menatap ponselnya datar, menunggu respon dari tuan mudanya. Tapi tak lama ia malah mendengar suara tertawa di balik seberang sana.
"Kamu mencoba untuk bergurau denganku kan? Tadi kan aku sudah bilang, saat ini moodku sedang jelek! Jangan bercanda denganku di saat seperti ini Saga! Cepat katakan jika semua yang kamu ucapkan tadi hanyalah sebuah omong kosong belaka bukan?!" Naresh mulai berteriak pada Saga.
"Saya pun sebenarnya ingin sekali mengatakan jika semua ini hanya bercanda, Tuan, tapi sayangnya ini semua adalah kenyataan pahit yang harus kita terima," ucap Saga sedih.
"Lalu aku harus apa Saga? Katakan aku harus apa? Aku tak mungkin kan bilang pada ibu kalau ayah telah tiada? Aku tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hidup ibu jika tau akan hal ini." Naresh berucap pelan, setengah menahan tangisnya.
Prank!
Suara gelas terjatuh dan pecah tepat di depan kamar Naresh.
Naresh berbalik dan menemukan ibunya sudah dalam keadaan bercucuran air mata. Hatinya terluka melihat ibunya seperti itu. Ibunya pasti sangat terpukul mendengar ucapannya tadi.
"Naresh, apa yang kamu bilang itu tidak benar kan? Semua itu bohong kan? Ayah kamu baik-baik saja kan? Dia tidak mungkin meninggalkan kita sendirian kan?" racau Sandra di tengah derai tangisnya.
Naresh tak kuasa melihat ibunya sesenggukan seperti ini. Ibu yang ia kenal adalah sosok wanita kuat dan tak pernah sekalipun ia melihat ibunya sehancur ini. Naresh merengkuh sang ibu dalam dekapannya.
Mencoba menyalurkan rasa sakit yang ibunya rasakan saat ini. Jika bisa ia ingin memindahkan semua rasa sakit ini dan akan ia tanggung seorang diri.
"Ibu, percayalah … ayah tak benar-benar ingin meninggalkan kita. Ayah pasti ingin bersama kita, tapi kalo memang sudah menjadi takdirnya kita tak bisa menyangkalnya. Kita harus kuat ya, Bu. Ayah pasti tak ingin melihat kita larut dalam kesedihan," ujar Naresh mencoba menenangkan dan memberikan pengertian pada ibunya.
"Hahaha, ibu tau kamu dan Saga pasti sudah merencanakan ini semua untuk memberikan kejutan pada ibu kan? Sekarang bilang, kejutannya apa?" ucap Sandra.
Naresh hanya diam, ia bingung harus dengan cara apa menjelaskan pada ibunya tentang apa yang terjadi. Bahkan Naresh pun masih belum bisa menerima kematian ayahnya dan sekarang ia sudah harus menyaksikan hancurnya wanita kuat yang ia kenal dengan mata kepalanya sendiri.
"Naresh! Ibu bilang, kamu katakan apa yang kamu dan Saga rencanakan?! Jangan sampai ibu marah ya, kamu tau kan kalau ibu tidak suka dengan kejutan seperti ini!" seru Sandra.
Naresh mengusap air mata yang masih setia mengalir dari mata ibunya. Tangan Naresh berhenti di pundak ibunya.
"Bu, jika bisa … sekarang aku juga ingin sekali mengatakan jika ini semua hanyalah lelucon yang aku dan Saga sudah rencanakan. Tapi sayangnya, aku tak bisa, Bu. Ayah benar-benar sudah meninggalkan kita, kita harus kuat. Ibu tak inginkan jika ayah sedih juga di sana karena melihat ibu yang terus-menerus menangisinya?"
Sandra langsung kehilangan kesadarannya ketika mendengar penuturan dari Naresh.
"Shitt! Kenapa harus seperti ini sih?! Kenapa Kau mengambil ayahku secepat ini, Tuhan? Aku belum siap," rintih Naresh bermonolog dengan sang pencipta.
Naresh mengangkat tubuh ibunya dan membawanya keluar dari rumah.
"Pak Min tolong siapkan mobil!" teriak Naresh.
Pak Min segera melakukan perintah majikannya. Menyiapkan mobil tepat di depan pintu utama rumah.
Melihat Naresh yang tergopoh-gopoh berjalan keluar sambil membopong tubuh ibunya, Min segera membantu tuannya.
"Bukakan saja pintu belakang," ucap Naresh.
"Nyonya kenapa tuan?" tanya Min.
"Nanti saja saya jelaskan, sekarang kita pergi dulu ke rumah sakit X."
Naresh diam seribu bahasa selama diperjalanan menuju rumah sakit. Min pun juga ikut diam, tak berani mengajak tuan mudanya itu berbincang.
Melihat dari raut wajah tuannya dan juga nyonya besar yang pingsan pasti terjadi hal yang tak baik, begitu kira-kira yang saat ini ada dalam pikiran Min.
Naresh sibuk mengetik pesan dalam ponsel miliknya. Setelah mendapatkan balasan, ia menaruh lagi ponsel miliknya ke dalam saku.
"Sudah sampai, Tuan," ujar Min.
"Kamu tolong bawa ibu ke dalam dan bawa ke ruang rawat. Nanti kamu infokan di ruang mana, saya pergi duluan ada hal yang harus saya pastikan," ucap Naresh yang langsung disetujui dengan anggukkan kepala oleh Min.
Naresh segera turun dan mencari ruang rawat yang Saga maksud. Melihat Saga yang berada di luar ruangan dan dengan raut wajah yang masih cemas, Naresh segera berlari kecil menuju ke tempat Saga berdiri.
"Tuan ada di dalam," ucap Saga lirih.
Naresh langsung mendorong pintu kamar inap itu dan tubuhnya seketika lemah saat mendapati tubuh ayahnya yang terbaring di atas ranjang dengan darah yang sudah mulai mengering pada bajunya.