Saga membantu Naresh bangun. Memberikan semangat pada Naresh dengan cara menepuk pundaknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada ayahku, Ga? Kenapa dia tega meninggalkan aku dan keluarganya?" tanya Naresh.
"Sebenarnya ada hal yang ingin saya sampaikan pada tuan, tapi lebih baik sekarang kita urus dulu pemakaman untuk tuan besar. Nanti kita bahas masalah ini setelah semuanya selesai," jawab Saga.
***
Setelah melakukan upacara pemakaman ayahnya, Naresh langsung meminta Saga agar datang ke kamarnya untuk membicarakan masalah yang Saga katakan di rumah sakit.
"Jadi begini tuan, kemarin sesaat sebelum kematiannya. Tuan besar sempat menelpon saya dan memberikan saya petunjuk, jika terjadi apa-apa pada beliau malam itu, sudah dapat dipastikan bahwa itu semua adalah rencana dari seseorang. Tuan juga menitipkan tuan muda dan juga nyonya pada saya. Dan ketika panggilan itu masih tersambung, saya mendengar ada dentuman besar yang saya yakini adalah suara mobil tuan besr yang menabrak sesuatu dan panggilan itu pun seketika terputus.
Saya lalu bergegas pergi untuk mencari keberadaan tuan besar, namun naasnya saat saya sampai di lokasi tuan besar sudah dalam kondisi tak bernyawa.
Namun dari kejadian itu ada sesuatu hal yang aneh, mobil tuan besar di sana menabrak sebuah truk. Tapi anehnya, di sana saya tak menemukan sopir yang mengemudikan truk itu." Saga menjelaskan semua yang ia tahu pada Naresh.
"Lalu? Apa kamu punya nama orang yang sekiranya berhubungan dengan ini semua?" tanya Naresh.
"Untuk itu saya belum bisa pastikan tuan, namun memang ada beberapa orang yang belakangan ini menjadi pesaing bisnis tuan besar. Dan mereka bukanlah dari kalangan pebisnis biasa, mereka adalah pebisnis licik yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang mereka mau," jawab Saga.
"Kamu simpan nama orang-orang itu dan segera cari tahu. Aku ingin mereka semua yang terlibat dalam masalah ini bisa mendapatkan hukuman yang setimpal. Bukankah nyawa harus dibayar dengan nyawa?" ucap Naresh dengan senyum smirknya.
Saga yang sangat tau akan sifat tuan mudanya itu hanya bisa mengangguk. Karena di lubuk hatinya, Saga juga tak bisa menerima kematian tuannya begitu saja. Tuan besarnya sudah merawat ia dan juga adiknya sedari kecil dan sudah menganggap mereka layaknya keluarga, setelah kematian orang tuanya.
Saga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabdikan dirinya pada keluarga tuan besarnya itu dengan sepenuh hati. Bahkan Saga akan rela mempertaruhkan nyawanya jika memang dibutuhkan.
"Baik, Tuan, kalau sudah tak ada yang ingin dibicarakan saya pamit pulang dulu," ucap Saga.
Naresh hanya mengangguk. Sebelum Saga benar-benar pergi, Naresh memanggil nama Saga.
"Iya, Tuan," jawab Saga.
"Kamu tau kan aku tidak suka dengan kehilangan?" tanya Naresh.
Saga hanya mengangguk pelan.
"Berjanjilah, kamu juga tak akan pergi meninggalkan aku. Mungkin ini akan sedikit menjijikkan, tapi aku benar-benar tidak suka dengan perpisahan. Apalagi jika orang yang pergi itu tanpa pamit," ucap Naresh.
Saga tersenyum, ia terharu mendengar apa yang tuan mudanya itu ucapkan. Dengan berani Saga kembali berjalan menuju tuan mudanya dan langsung memberikan pelukan untuk Naresh.
"Saya berjanji, Tuan. Demi apapun yang saya miliki, saya tidak akan pernah meninggalkan tuan dan keluarga ini. Tuan besar pun sudah menitipkan kalian pada saya, bagaimana bisa saya mengecewakan tuan besar. Saya akan selalu bersama tuan, sampai tuan sendiri yang meminta saya untuk pergi," ucap Saga dengan penuh keyakinan.
"Dan itu tak akan pernah terjadi, mana mungkin aku menyuruhmu pergi jika sekarang saja aku menyuruhmu untuk tinggal. Saga, kali ini aku berikan perintah pertama untukmu … tinggallah di sini, ajak adikmu. Dia pasti akan senang tinggal di sini, lagipula dia juga bisa menjadi teman yang baik untuk Lila nanti kan," ucap Naresh.
"Tapi saya tidak pantas, Tuan. Lagipula saya bisa datang kemari setiap saat tuan membutuhkan bantuan saya," jawab Saga.
"Tidak ada penolakan, orang suruhan ku sudah melakukan packing sekarang. Mungkin sebentar lagi mereka dan juga adikmu tentunya sudah sampai di sini," jawab Naresh.
Saga menggelengkan kepala, menyadari jika tuan mudanya ini masih sangat kekanak-kanakan di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Nyonya bagaimana, Tuan? Bagaimanapun ia harus tau hal ini bukan? Tuan tidak bisa seenaknya memutuskan sendiri." Saga masih mencoba untuk melakukan penolakan untuk permintaan tuannya itu.
Naresh menghela nafas panjang, pikirannya kembali larut lagi pada kondisi ibunya yang saat ini masih kehilangan kesadarannya. Ibunya tak kunjung bangun dari pingsannya, saat nanti bangunpun Naresh harus memutar otak lagi untuk menjelaskan tentang kepergian ayahnya.
Saga menyadari akan pertanyaan yang membuat tuan mudanya itu kembali larut dalam kesedihan, kini ia pun jadi tak enak hati dan bingung harus bagaimana.
"Maaf, Tuan. Saya benar-benar lupa akan hal itu, tak perlu risau. Saya yakin nyonya pasti akan kembali seperti sedia kala, kita juga tau bukan, jika nyonya adalah wanita kuat," ucap Saga.
"Aku berharap seperti itu, jadi tolong … kamu tinggallah di sini, kita ini sudah seperti keluarga bukan? Kamu sendiri yang sering mengucapkan itu, bagaimana mungkin keluarga tidak tinggal bersama? Akan terlihat aneh bukan?"
"Aihhh, baiklah. Mulai hari ini saya akan tinggal di sini," ucap Saga.
Naresh pun tersenyum penuh kemenangan, apa yang ia mau harus didapatkan.
"Baiklah kalau begitu selamat malam dan tidur dengan nyenyak di sini ya. Anggap saja seperti rumah sendiri, selamat malam! Aku tak akan mengganggu kalian malam ini, bilang juga ke adikmu. Malam ini langsung istirahat saja, tak perlu menemuiku dulu," ucap Naresh.
Naresh langsung mengibaskan tangannya sebagai tanda mengusir Saga agar segera pergi dari kamarnya.
Saga menutup matanya dan menghembuskan nafas kasar. Ia lalu mendekat pada tuan mudanya lalu menghadiahkan sebuah jitakan di kepala Naresh.
"Arghhh! Beraninya kau, cari mati ya!" pekik Naresh.
"Salah sendiri berlaku seenaknya, bagaimanapun juga saya ini lebih tua dari anda, Tuan. Tadi saya hampir saja tersentuh dengan semua ucapanmu, ternyata saya salah. Kamu tetap bayi besar yang harus saya jaga dan berikan pelajaran tentang tata krama," ucap Saga yang langsung pergi meninggalkan kamar Naresh.
Ponsel Naresh berbunyi sesaat setelah Saga keluar. Naresh membaca nama yang tertera di layar ponselnya, mengetahui jika yang menelpon adalah dokter keluarga yang menangani ibunya, Naresh segera mengangkat panggilan itu.
"Apa? Ibu saya sudah bangun? Lalu bagaimana kondisinya?" tanya Naresh setelah mendengar apa yang dokter itu ucapkan.
Dokter itu menjelaskan tentang kondisi Sandra yang semakin memburuk. Tadi Sandra sempat siuman tapi terus menerus meracau dan terus menangis seraya memanggil-manggil nama Angkara.
Dan dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang agar Sandra kembali tertidur. Dokter juga menjelaskan bahwa kemungkinan saat Sandra nanti siuman, ia akan kehilangan kesehatan mentalnya.
Naresh syok mendengar itu semua, mulai dari kepergian ayahnya dan sekarang ia juga harus kehilangan ibunya. Meskipun raganya masih bisa ia lihat, tapi jiwanya sudah tak bisa kembali seperti semula.
"Baiklah, Dok. Tolong jaga ibu saya, besok saya akan kesana untuk menjenguknya."
Naresh langsung mengakhiri panggilan itu, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya.