Pagi menyapa. Tapi rasanya Naresh masih enggan untuk berpisah dengan kasur dan selimutnya. Kamarnya selalu terlihat nyaman dan seakan enggan untuk ditinggalkan oleh tuannya.
Saga datang ke kamar Naresh dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Karena Saga yakin jika tuan mudanya itu masih hanyut dalam kehangatan selimut dan kasur miliknya.
Saga langsung membuka gorden jendela agar sinar matahari langsung mengganggu tidur nyenyak tuannya.
"Bangun, Tuan. Saya tau ini masih pagi dan kamu juga masih dalam keadaan berduka. Tapi perusahaan masih membutuhkan kamu, jika bukan kamu yang meneruskan perusahaan mau siapa lagi. Tuan … segeralah bangun, atau saya akan memakai cara saya sendiri untuk membangunkan kamu," ucap Saga.
"Aihhh! Kamu cerewet sekali sih, seperti ibu-ibu komplek saja!" ujar Naresh sambil melemparkan guling yang tadinya ia peluk tepat ke tempat Saga berdiri.
Saga dengan gerakan cepat menangkap guling itu dan membalas kelakuan tuannya itu dengan melemparkan kembali guling itu ke badan tuannya.
"Bangun atau saya ambilkan ember berisi air dan mengguyur kamu! Kamu sepertinya ingin merasakan sensasi mandi di atas kasur," ucap Saga.
"Iya iya! Dasar bawel!" Naresh pun membuka lebar kedua kelopak matanya.
"Bagus, jika kamu masih ada niat baik untuk bangun. Segeralah bersiap, Naya sudah menyiapkan sarapan di bawah," ucap Saga dan langsung meninggalkan Naresh.
Naresh berniat untuk kembali berbaring lagi, namun sebelum itu terjadi, Saga terlebih dahulu muncul dari balik pintu.
"Jangan coba-coba untuk kembali lagi ke dunia mimpimu, atau saya akan benar-benar memandikan kamu di atas kasur!" ucap Saga setengah mengancam.
"Bawel!"
Karena tak ingin semua ucapan yang Saga katakan menjadi kenyataan, Naresh memilih untuk bangun dan bersiap.
"Maafkan aku kasur, sepertinya kita akan sering berjauhan sekarang. Bukan aku tak sayang padamu, tapi ini adalah sebuah tuntutan, doakan aku ya!" ucap Naresh pada benda mati yang sudah pasti tak dapat menjawabnya.
***
Naresh turun setelah bersiap, ia dapat mencium harum masakan yang Naya buat. Ia jadi bersemangat untuk memakannya.
"Wahh, masakan kamu harum sekali. Sepertinya ini adalah alasan kenapa orang kaku itu sangat bersemangat jika sudah waktunya pulang kerja," ucap Naresh.
Pandangan Naresh tertuju pada Saga yang dia di dekat kursi tempat makan. Melihat Saga dan Naya yang tak kunjung duduk, membuat Naresh sedikit kesal.
"Kalian kenapa malah berdiri saja di situ? Mau jadi patung penjaga? Segeralah duduk dan makan atau kita akan sama-sama terlambat datang ke kantor dan sekolah Naya yang baru hari ini," ucap Naresh.
Saga dan Naya saling pandang, tak mengerti dengan apa yang Naresh maksud.
"Kenapa kalian malah bingung seperti itu? Bukankah kalian sudah setuju untuk tinggal di sini? Jadi, Naya juga harus setuju untuk pindah sekolah di sini. Nanti kamu akan satu sekolah dengan Lila, jadi kalian bisa saling jaga nantinya."
"Tapi, Tuan. Saya belum mengurus surat pindah dari sekolah yang lama dan lagi pula bukankah saya juga harus berpamitan dengan teman-teman saya jika memang ingin pindah?" tanya Naya.
"Semua sudah aku urus, nanti kamu bisa pergi diantar Pak Min. Kalau mau mengadakan perpisahan dengan teman-teman kamu, nanti kamu bisa undang saja mereka kemari. Dan tolong berhentilah bersikap kaku seperti kakak kamu, berhenti panggil aku dengan sebutan tuan. Kamu bisa panggil aku kakak saja, bukankah kamu juga memanggil orang kaku di sana kakak?" tanya Naresh.
Naya sedikit menahan tawanya karena terus menerus mendengar sebutan yang Naresh berikan untuk kakaknya.
"Baik, Kak. Aku akan berpamitan dengan mereka setelah nanti pulang dari sekolah. Ngomong-ngomong adik kakak kapan pulang?" tanya Naya.
"Mungkin minggu depan, dia masih ingin menghabiskan waktu dengan teman-temannya di sana, lagipula cuaca masih buruk jadi semua penerbangan belum bisa beroperasi," jawab Naresh.
Naya mengangguk tanda mengerti. Awalnya Saga dan Naya tetap menolak untuk duduk dan makan bersama dengan Naresh. Tapi karena tak ingin berdebat lebih lama lagi, akhirnya mereka mengalah dan makan bersama pagi itu.
"Saga … apa harus aku pergi ke perusahaan dan menjalani hidupku dengan berkas-berkas yang membuat kepala pusing itu?" tanya Naresh.
"Harus, Tuan. Memangnya mau siapa lagi jika bukan tuan yang mengambil alih perusahaan? Non Lila masih terlalu kecil untuk meneruskan perusahaan," jawab Saga.
"Kamu? Kamu kan bisa mengambil alih perusahaan, aku percaya kok. Kamu tak akan berbuat kecurangan," ucap Naresh.
"Tidak bisa, Tuan. Saya hanya bisa mendampingi, Tuan. Lagipula saya masih ada urusan dengan black swan, mereka harus ada yang memantau. Saya ingin segera mengungkap kejanggalan atas kematian tuan besar," ujar Saga.
"Aaa iya juga, tapi aku belum siap, Ga!"
"Kapan kamu mau siap, jika kamu saja tak pernah memulainya, Tuan," ucap Saga.
Naresh yang sebenarnya masih memiliki sifat seperti anak-anak itu pun hanya mengerucutkan bibirnya ketika Saga mengatakan seperti itu.
Naresh mengabaikan ucapan Saga dan memilih untuk menikmati makanan yang sudah Naya siapkan.
Sedangkan Saga hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tuan mudanya yang sudah besar dari segi badan tapi masih berkelakuan seperti anak kecil itu mengunyah makanan dan bergumam memuji hasil masakan Naya.
"Kalian segeralah makan juga, atau aku yang akan habiskan semua makanan ini tanpa sisa sendirian," ucap Naresh.
Akhirnya Saga dan Naya bergabung makan bersama diatas meja makan yang sama dengan tuan mudanya.
Tak banyak kata diantara mereka, yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok yang tak sengaja bergesekan dengan piring dan garpu.
***
Setelah sarapan, Naresh dan Saga langsung berangkat ke kantor. Sedangkan Naya memilih untuk membersihkan sisa makanan dan piring yang ada di meja makan dan setelahnya ia akan pergi ke sekolah lamanya untuk berpamitan dengan teman-temannya.
"Aku beneran belum siap, Ga! Aku pulang aja ya, perusahaan kamu aja yang urus," ucap Naresh saat mobil sudah berhenti tepat di depan perusahaan milik sang ayah.
"Berhentilah merengek tuan, saya tidak bisa melakukan itu. Karena anda sudah memasuki usia yang cukup untuk menerima posisi ini dan melanjutkan usaha yang sudah tuan besar bangun dari awal," jawab Saga.
"Tapi aku masih ingin bersenang-senang, bukan terjebak di depan meja dengan banyak dokumen di hadapan ku yang menunggu untuk diperiksa."
Naresh tetap turun dan bersikap penuh dengan wibawa, meskipun sebenarnya hatinya belum siap dan masih mengomel.
Saga juga merasa bangga dengan tuan mudanya ini, meskipun ia bisa bersikap manja kepadanya dan keluarga. Tapi disisi lain Naresh bisa berubah menjadi sosok tegas saat berada di kantor ataupun menghadapi masalah yang serius.