Saga berjalan mendahului Tuan mudanya untuk membukakan pintu masuk. Di dalam gedung itu sudah ada beberapa karyawan yang memang Saga minta untuk menyambut kedatangan Naresh. Dengan bangganya Saga memperkenalkan Naresh sebagai penerus dari Angkara.
"Perkenalkan ini adalah Pak Naresh. Dia yang akan menggantikan posisi Pak Angkara mulai hari ini," jelas Saga memperkenalkan Naresh kepada karyawan perusahaan.
Naresh hanya menyunggingkan senyum tipis sebagai tanda perkenalan. Ia akan membangun image pemimpin yang tegas dan berwibawa mulai hari ini.
"Sudah cukup perkenalannya, silahkan untuk kembali melanjutkan pekerjaan kalian," ucap Naresh tegas.
Orang-orang yang tadinya ramai berkerumun untuk melihat pemimpin perusahaan tempat dimana mereka bekerja pun langsung bergegas kembali ke tempat kerjanya masing-masing dan kembali melanjutkan tugasnya kemarin.
"Mari langsung ke ruang kerja tuan besar, Tuan. Pekerjaan anda sudah menunggu untuk dikerjakan," ucap Saga.
Naresh berdecak saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu.
"Berhenti bersikap kaku saat tak ada orang lain di sekitar kita, atau aku akan sangat marah. Kamu tau aku orang seperti apa bukan?”
"Maaf, Tuan. Tapi saya akan tetap berbicara formal ketika berada di kantor. Bisa sedikit berkurang saat kita ada di luar kantor atau saat di rumah," jawab Saga.
Naresh menghentikan langkahnya dan menatap punggung Saga yang masih terus berjalan tanpa sadar jika dirinya tak lagi ada di samping Saga.
"Benar-benar pria tua yang kolot! Untung saja aku sudah kenal dia lama, aish apa ini! Kenapa ayah harus memperkerjakan pria kaku dan dingin seperti ini sih."
Naresh mempercepat langkahnya, saat tepat berada di belakang Saga ia mengangkat kakinya dan menendang kaki Saga dari belakang. Gerakan itu membuat Saga kehilangan keseimbangannya. Naresh tertawa saat melihat ekspresi marah Saga, tapi ia kembali kesal saat Saga kembali ke mode muka datarnya.
"Dasar pria tua datar, bisakah kau lebih berekspresi sedikit? Pantas saja tak ada gadis yang mau mendekat pada kamu, apakah kamu benar-benar ingin menjadi perjaka tua?" tanya Naresh.
"Saya akan mencoba membuka diri saya saat nanti tugas saya menjaga anda sudah saya jalankan dengan baik, Tuan," jawab Saga. Saga kembali berjalan mendahului Naresh.
"Ya! Apa maksudmu? Apakah itu berarti kau akan meninggalkan aku saat kau merasa aku sudah siap untuk itu? Bukankah kau sudah berjanji untuk tetap berada di sampingku?"
"Saya kan bilang akan mencoba membuka diri, bukan meninggalkan anda, Tuan," jawab Saga singkat, padat dan jelas.
Naresh seketika menjadi salah tingkah sendiri karena ucapannya. Tapi jangan salahkan dia yang bersikap seperti itu, ia hanya takut akan ditinggalkan lagi dengan orang yang berarti dalam hidupnya.
***
Mereka berdua masuk ke dalam lift khusus yang langsung terhubung dengan lantai paling atas tempat ruang kerja mendiang ayah Naresh.
Saat berada dilantai dua, Naresh berniat membenarkan kemeja yang dikenakannya. Namun sialnya, kancing kemeja itu malah tersangkut pada resleting celananya.
Naresh tampak kesulitan untuk melepaskan kancing yang tersangkut itu. Melihat tuannya yang kesulitan untuk membenarkan pakaiannya, Saga langsung berjongkok di depan celana Naresh untuk membantu melepaskan kancing yang tersangkut itu.
Di saat Saga dan Naresh berada dalam posisi yang cukup membuat orang yang melihat posisi itu dari depan berpikiran negatif itu, di lantai 6 pintu lift terbuka. Menandakan jika ada seseorang yang akan masuk ke dalam, sialnya Saga masih berkutat dengan kancing kemeja Naresh yang masih tersangkut.
Orang dari lantai 6 yang tadinya berniat untuk masuk ke dalam lift pun hanya bisa melongo melihat kejadian yang ada di depan matanya itu.
"Kenapa susah sekali sih? Bisakah kau melakukannya lebih cepat lagi?" tanya Naresh yang belum sadar jika di depannya ada seorang gadis yang terpaku melihat adegan di depan matanya.
Tak lama Naresh sadar jika ada pasang mata yang menyorotnya. Naresh dan gadis itu bertatapan dengan pikiran mereka masing masing.
"Sial! Saga hentikan itu, nanti kita urus di ruangan. Dan kamu cepat masuk jika memang mau masuk, untuk apa kamu berdiri dan hanya diam di sana seperti orang bodoh!" ucap Naresh.
Saga menghentikan aktivitasnya ketika mendengar ucapan Naresh. Ia langsung berdiri dan membetulkan jasnya dan menatap lurus ke depan, lebih tepatnya ke arah gadis yang kini menatapnya dan Naresh dengan linglung.
Saga melihat name tag yang ada di kalung tanda pengenal gadis itu. Ketika tau itu dari divisi keuangan, Saga mempersilakan gadis itu untuk masuk.
"Aruna dari divisi keuangan, silakan masuk. Bukankah Anda saya minta untuk pergi ke ruang pimpinan jam delapan? Kenapa anda malah diam terpaku di sana? Apakah ada yang salah dan perlu untuk kamu tanyakan?" tanya Saga.
"M-maaf, Pak. Saya tidak bermaksud untuk diam, tadi saya hanya sedikit kaget melihat kalian sedang ... lupakan. Saya akan naik menggunakan tangga darurat saja, maaf telah mengganggu, permisi," ucap Aruna dengan polosnya.
Namun sebelum Aruna benar-benar pergi dari sana, Naresh memanggil Aruna dan memberikan perintah agar Aruna segera masuk ke dalam lift.
"Saya benar-benar bisa pergi menggunakan tangga darurat, Pak. Jangan hiraukan saya, saya akan berpura-pura tak melihat apa-apa. Rahasia kalian akan aman pada saya," ucap Aruna.
Naresh berdecak dan tanpa sadar memukul lengan Saga. Saga yang memang pikirannya terlalu polos atau apa itu, hanya bisa diam dan menatap bingung pada tuan mudanya itu.
Naresh hanya bisa geleng-geleng kepala melihat betapa bodohnya Saga. Mungkin orang lain akan berpikir jika Saga adalah orang yang sangat pandai dan tak mudah untuk ditipu daya, tapi sebenarnya Saga adalah orang yang sangat naif bagi Naresh.
Mungkin jika dilihat dari segi Saga mengurus bisnis dan anggota khusus miliknya ia adalah sosok yang ditakuti dan disegani karena kecerdasannya. Namun jika sudah menyangkut dengan hal seperti ini ia akan menjadi pria yang tak tau apa-apa dan sangat lugu.
Namun seketika Naresh berpikir ini bukanlah hal yang terlalu buruk baginya. Kalau ada rumor bahwa dirinya dan Saga memiliki hubungan spesial bukankah ia akan aman dari wanita-w*************a yang sering mengejarnya hanya untuk mendapatkan uang.
"Sudahlah, lupakan! Cepat masuk atau kita akan sama-sama kehilangan banyak waktu secara percuma," ucap Naresh.
Aruna mau tak mau hanya bisa menurut dan ikut masuk ke dalam lift itu. Suasana di dalam lift itu benar-benar canggung, tak ada yang berbicara sama sekali setelah pintu tertutup dan mulai bergerak ke atas.
Tak lama pintu lift kembali terbuka di lantai 7. Aruna langsung memberikan hormat lalu pergi terlebih dahulu ke ruangan pimpinan.
"Tuan, apakah anda masih butuh bantuan untuk memperbaiki kancing kemeja anda yang tersangkut?" tanya Saga.
"Diam! Ini semua gara-gara kamu, aku akan pergi ke toilet dulu untuk memperbaikinya. Kamu tunggu saja di ruangan," jawab Naresh.
Jawaban dari Naresh itu sukses membuat Saga dilanda kebingungan. Dalam pikirannya ia terus bertanya apakah ada yang salah dari ucapannya yang membuat tuan mudanya itu tersinggung.
***
Naresh memperbaiki kancingnya, setelah berhasil melepaskan kancing itu dari resletingnya Naresh menghela nafas kasar. Ia lalu berjalan ke depan wastafel untuk mencuci wajahnya.
"Hari pertama masuk kerja sudah terjadi hal yang tak terduga seperti ini, sial sekali. Sangat tidak lucu jika nanti aku akan dicap sebagai penyuka sesama jenis oleh semua karyawan dan menjadi perbincangan hangat antara mereka." Naresh terus menerus bermonolog dengan dirinya sendiri melalui pantulan kaca.
Naresh langsung pergi dari toilet itu ketika sudah yakin jika penampilannya sudah rapi. Ia harus menyiapkan mental lebih dan muka datar saat bertemu karyawan yang tadi memergokinya itu. Meskipun pada kenyataannya tak sesuai dari yang karyawan itu lihat, namun sepertinya Naresh tak ada niatan untuk mengkonfirmasi bahwa apa yang telah dilihat karyawannya itu tak seperti yang ada dipikirannya.
"Menjadi penyuka sesama jenis di depannya tak akan seburuk itu kan dibandingkan aku harus melayani wanita-wanita yang selalu datang untuk menggodaku." Naresh meyakinkan pilihan yang akan ia pilih ini.
Naresh masuk ke dalam ruangan milik ayahnya dulu. Di sana sudah ada Saga, wanita yang sepertinya seusia dengan ibunya dan juga karyawan wanita yang tadi ia temui.
Naresh langsung berjalan ke tempat duduk yang dulunya tempat ayahnya, menjatuhkan dirinya di atas kursi yang penuh dengan memori tentang ayahnya itu.
"Tuan, ijinkan saya memulai hari ini dengan memperkenalkan orang-orang yang nantinya akan membantu Anda untuk melaksanakan tugas anda sebagai pemimpin perusahaan. Di sini kita mempunyai Mila, dia adalah sekretaris yang sudah mengabdikan dirinya untuk tuan Angkara selama kurang lebih 6 tahun. Dia yang nantinya akan mengatur jadwal anda setiap harinya. Lalu wanita yang di sana adalah Aruna, dia salah satu lulusan terbaik di Universitas X taun lalu. Dia memegang tugas sebagai kepala keuangan di perusahaan kita, meskipun dia terbilang masih baru tapi dia sangat berkompeten dalam bidang ini. Nantinya kedua orang ini yang akan sering bertemu dengan anda dan memberikan pertanggungjawaban atas perusahaan," ucap Saga menjelaskan.
"Baik, karena saya masih baru dalam bidang ini jadi saya harap ke depannya kita bisa bekerja sama dengan baik dan membangun perusahaan ini menjadi lebih besar lagi," ucap Naresh.
Setelah sesi perkenalan, Saga memberikan perintah agar mereka berdua kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
"Tunggu, Aruna. Saya ingin berbicara dengan kamu sebentar. Saga bisakah kamu meninggalkan kami berdua sebentar?"
"Tentu, Tuan," jawab Saga cepat.
Saga mengajak Mila untuk meninggalkan ruangan itu dan memberikan Naresh untuk berbicara dengan Aruna.
"Ada yang bisa saya kerjakan sekarang, Pak?" tanya Aruna sopan.
"Jadi begini ...."